Pengalaman "staycation" di Bali & Lombok jelang akhir tahun

Oleh Nanien Yuniar

Pengalaman "staycation" di Bali & Lombok jelang akhir tahun

Seorang peselancar berjalan di pantai Mangsit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 7 Desember 2020. ANTARA/Nanien Yuniar.

Tapi kami berusaha sebaik mungkin memastikan pengalaman mereka tinggal di sini tetap menyenangkan
Jakarta (ANTARA) - Keindahan alam dan kekayaan wisata domestik menjadi pelipur lara di tengah keterbatasan ruang gerak akibat virus corona yang membuat industri pariwisata lesu selama beberapa bulan belakangan.

Staycation adalah pilihan pelipur lara setelah beberapa lama tidak pergi ke mana-mana.

Dalam media trip yang diadakan oleh tiket.com dan Citilink pekan lalu, ANTARA mengunjungi Bali dan Lombok, merasakan staycation di penginapan yang menawarkan keunikan bervariasi. Pulau Bali menjadi tujuan pertama dari staycation menjelang akhir tahun. Berkunjung ke Bali di tengah pandemi memberikan pengalaman berbeda. Tidak ada keramaian, tidak banyak turis mancanegara yang menikmati terik matahari, tempat wisata tak terlampau ramai dan jalan pun terasa lebih lengang.

Baca juga: "Staycation" dan "roadtrip" tren favorit pemburu diskon wisata
 
Sanctoo Suites & Villa di Singapadu, Gianyar, Bali (ANTARA/Nanien Yuniar)


Penginapan berlatar "musik" suara fauna

Sanctoo Suites & Villa di Singapadu, Gianyar menjadi perhentian pertama dari staycation Bali-Lombok ini. Properti ini sudah mendapatkan label tiketCLEAN dari biro perjalanan daring tiket.com, jaminan bahwa partner yang bekerjasama dengan tiket.com sudah memenuhi standardisasi protokol kesehatan dan kebersihan yang dikeluarkan badan resmi seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penginapan ini sudah mendapatkan sertifikasi dari Dinas Pariwisata Gianyar, serta sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment (CHSE).

Sebelum masuk ke area hotel, petugas keamanan memeriksa suhu tubuh para penumpang yang nantinya diwajibkan untuk mencuci tangan di wastafel yang ada di pintu masuk. Tak jauh dari situ ada alat pemeriksa suhu tubuh digital yang harus dilewati tamu setelah selesai mencuci tangan. Kamar-kamar yang sudah selesai didisinfeksi diberi segel sebagai penanda bahwa kamar sudah steril dan belum dimasuki siapa pun semenjak dibersihkan.

Baca juga: "Staycation" rasa jalan-jalan, elemen wisata favorit diboyong ke hotel

Akomodasi di desa selatan Ubud ini memiliki dua tipe penginapan, yakni suites dan vila. Setiap vila, bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari bangunan utama, dilengkapi dengan kolam renang luar ruangan pribadi, dikeliilngi suasana asri. Terletak dekat dari Bali Zoo, pintu belakangnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, penginapan ini tampak lebih populer untuk keluarga muda di tengah pandemi COVID-19. Vila-vila di Sanctoo umumnya jadi idaman para pengantin baru yang ingin menikmati kebersamaan jauh dari hiruk pikuk, namun kini karakteristik tamu vila bergeser menjadi keluarga muda yang membawa anak-anak.

"Berdasarkan statistik internal, sekarang yang datang lebih banyak keluarga. Dulu banyak "honeymoon-er", sekarang tidak ada yang bulan madu," kata General Manager Sanctoo Suites & Villas di Gianyar, Subali Adi Putra, kepada ANTARA, Jumat (4/12).

Kecenderungan pergeseran karakteristik tamu menjadi keluarga muda juga diperkuat dengan tawaran akses gratis ke Bali Zoo untuk setiap tamu. Lokasinya yang berdekatan dengan Bali Zoo membuat “musik” alam bisa didengarkan di sini, suara-suara binatang, terutama pada pagi hari.
 
Sanctoo Suites & Villa di Singapadu, Gianyar, Bali (ANTARA/Nanien Yuniar)


Para tamu bisa menyempatkan diri untuk menikmati udara segar pada pagi hari sambil berjalan-jalan melewati pura hingga jembatan yang mengarah pada bangunan terpisah yang berfungsi sebagai tempat spa dengan pemandangan lembah dan sawah. Bunyi gemuruh air menemani tamu yang bersantai di setiap kamar spa semi-outdoor dengan pemandangan pohon-pohon rindang.

Baca juga: Lokasi liburan keren ala warga +62 saat pandemi COVID-19

Area makan berada di ruang terbuka. Menu bisa dilihat secara digital dengan cara memindai barcode. Staf di restoran akan membawakan menu sarapan sesuai pesanan tamu yang terdiri dari pilihan roti, buah, bubur, nasi goreng, mie goreng sampai minuman jus, kopi dan teh. Pada akhir pekan, sarapan disajikan secara prasmanan. Namun, tetap ada staf yang berjaga dan mengambilkan makanan yang diinginkan untuk mengurangi kontak pada peralatan seperti sendok saji.

Menurut Subali, akomodasi yang ia kelola tergolong beruntung di tengah pandemi COVID-19. Meski ada penurunan jumlah tamu, rata-rata tingkat hunian pada periode Juli hingga November 2020 mencapai tingkat rata-rata 45 persen. Menyambut tahun baru, perayaan di akomodasi tersebut bakal berbeda dari biasanya. Lebih bersahaja. Perayaan berupa makan malam dan hiburan hanya berlaku untuk tamu yang menginap di sana agar tidak ada kerumunan.
 
Melia Bali (ANTARA/Nanien Yuniar)


Menginap di kawasan megah Nusa Dua

Pemeriksaan suhu tubuh sudah diterapkan begitu memasuki area Melia yang telah memasang wastafel untuk mencuci tangan dan alat pengukur suhu otomatis di bagian depan. Segala informasi soal hotel bisa didapatkan dengan memindai barcode yang dipasang di lobi, agar tamu bisa mencari informasi secara digital. Meja tambahan di bagian resepsionis menciptakan jarak yang lebih lebar antara staf dan tamu, sesuai dengan pembatasan jarak dalam protokol kesehatan.

Ada banyak pilihan kamar yang bisa ditempati di Melia Bali yang berada di Nusa Dua, salah satunya Lagoon Access yang punya akses langsung ke kolam renang bergaya laguna. Cocok untuk para "kaum rebahan" karena hanya butuh beberapa langkah untuk bisa berenang dikelilingi alam yang asri.

Baca juga: Tips tetap sehat nikmati masa libur selama pandemi COVID-19

Resort luas dengan kamar berjumlah hampir 500 ini juga menyediakan vila-vila, lengkap dengan berbagai fasilitas seperti kolam pribadi, bagi tamu yang ingin lebih menyendiri. Akomodasi ini punya akses langsung ke pantai yang cocok untuk berjemur, bermain air atau sekadar foto-foto di area laik instagram.
 
Area bermain anak di Melia Nusa Dua, Bali (ANTARA/Nanien Yuniar)


Banyak pilihan area publik yang berada di ruang terbuka untuk bersantai sambil minum jus menyegarkan, berjemur di tepi pantai di tengah deburan ombak, jogging hingga bersepeda. Setiap hari ada pilihan aktivitas yang bisa diikuti oleh tamu, membuat mereka tak punya waktu untuk merasa “mati gaya”. Akomodasi ini juga bisa menyenangkan hati anak-anak karena tersedia fasilitas khusus anak yang bisa bermain di tenda atau menonton film “layar tancap” dengan dekorasi menggemaskan.

Awal Desember lalu, tetap terlihat ada tamu yang lalu lalang meskipun jumlahnya tidak banyak. Menurut Resident Manager Melia Bali Edouard Gavalda, tingkat okupansi selama pandemi berkisar 10 persen.

Baca juga: Lokasi idaman "staycation": Bandung, Bali dan Yogyakarta

“Tapi kami berusaha sebaik mungkin memastikan pengalaman mereka tinggal di sini tetap menyenangkan,” kata Edouard, menambahkan situasi pandemi membuat tamu bisa merasa berada di hotel hingga pantai milik pribadi karena suasana jauh lebih sepi.

Sebagian tamu adalah orang-orang yang tinggal di Bali, juga turis domestik yang datang dari luar Pulau Bali. Di luar penerapan protokol kesehatan, Melia Bali juga beradaptasi memanjakan lidah para tamu domestik dengan mengatur agar makanan yang disajikan lebih berbumbu, sesuai dengan selera rata-rata masyarakat Indonesia yang biasa menyantap makanan penuh rempah.
 
Holiday Resort, Lombok (ANTARA/Nanien Yuniar)


Bersantai sambil mendengar deburan ombak di Lombok

Dibandingkan Bali yang masih relatif sepi, pulau Lombok ternyata jauh lebih sepi. Jarak 51 km dari bandara ke penginapan Holiday Resort di pantai Senggigi memakan waktu sekitar satu jam karena tak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang, kecuali ketika sudah tiba di kawasan yang dipenuhi penginapan.

Akomodasi yang berdiri sejak pertengahan 1990-an ini terletak di kedua sisi jalan. Bangunan utama berisi resepsionis, kolam renang, restoran ada di sisi yang menghadap ke pantai Mangsit, sementara sisi lain yang menghadap gunung dikhususkan untuk bangunan-bangunan luas lengkap dengan dapur yang bisa menampung rombongan keluarga.

Baca juga: Minat staycation meningkat jelang cuti bersama

Akomodasi bernuansa klasik ini berada di tengah 15 hektare tanaman hijau yang subur di antara pegunungan tropis yang rimbun. Lokasinya bisa dicapai lima menit dari pusat Senggigi. Ruang terbuka yang luas dan hijau bisa menjadi pelipur lara dan penat. Meski pantainya tidak ideal untuk berenang, banyak batu dan ombaknya besar, tapi Anda bisa duduk-duduk di kursi kayu sambil melihat orang-orang belajar berselancar di sana. Sebagai gantinya, Anda bisa berenang di kolam-kolam yang tersedia di dalam area penginapan.
 
Holiday Resort, Lombok (ANTARA/Nanien Yuniar)


Kamar yang menghadap pantai ideal untuk tamu yang ingin menjaga jarak tanpa banyak berinteraksi dengan orang lain. Letaknya berjauhan dan terpisah dari bangunan utama. Kamarnya cukup luas, dilengkapi kasur dan kelambu yang menambah suasana romantis, televisi, sofa, meja dan kursi serta lemari. Kamar mandinya yang semi-outdoor juga tak kalah luas. Shower, bathtub dan kloset letaknya berjauhan. Di sini, tamu dapat tertidur lelap sambil mendengarkan deburan ombak dari kejauhan tanpa harus mencari playlist khusus di gawai.

Semenjak wabah virus corona melanda, jumlah kamar yang terisi terjun bebas. Secercah harapan mulai terlihat ketika kenormalan baru diberlakukan pada Juli lalu. Selain masyarakat Lombok yang menginap untuk staycation, mulai berdatangan tamu domestik dari luar pulau.

Baca juga: "Staycation" saat libur panjang dan sandyakala pariwisata Indonesia

“Sebelum pandemi, segmennya 65 persen tamu asing, 35 persen tamu domestik. Sekarang otomatis 95 persen domestik, dari situ 85 persennya warga lokal dari Lombok, seperti dari Mataram, yang ingin liburan dekat rumah,” tutur General Manager Holiday Resort Lombok I Ketut M. Jaya Kusuma.

Sama seperti yang dilakukan di Melia Bali, ia juga menyesuaikan makanan agar lebih sesuai dengan selera tamu-tamu domestik. Tapi di luar itu ada faktor yang tak kalah penting: harga yang menarik. Promosi-promosi dan diskon biaya menginap diakui jadi salah satu hal yang dicari oleh turis domestik.

“Namun tentunya kami juga selalu memenuhi protokol kesehatan,” dia menegaskan.

Pada akhir pekan, restoran dan kolam renang di penginapan tersebut diramaikan tamu-tamu. Sebagian besar adalah keluarga, ada juga sejumlah anak-anak muda yang berlibur dengan teman sebayanya. Suasana meriah ini berbanding terbalik ketika akhir pekan usai. Hampir tidak ada tamu yang tersisa. Restoran kosong melompong dan tidak terdengar lagi jerit kegirangan anak-anak yang bermain di kolam renang.

Baca juga: Kota-kota favorit untuk staycation jelang cuti bersama akhir Oktober

Walau bisnis masih lesu, saat ini adalah momen yang tepat untuk berbenah, menyempurnakan segala kekurangan seperti rencana mitigasi bencana dan mempersiapkan diri agar bisa kembali bangkit. Bersama para pelaku wisata lainnya, dia ingin membuktikan bahwa Lombok sudah siap menerima kembali wisatawan karena sebagian besar sudah melaksanakan protokol kesehatan untuk memastikan kesehatan dan keamanan pengunjung.

Dia juga berharap program promosi yang digalakkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa berjalan agar semakin banyak tamu berdatangan kelak. "Sehingga bisa menghidupkan hotel, bisa menutupi biaya operasional," ujar dia.

Menurut Area Manager East Indonesia tiket.com Rajasa Oktavio Hadisoemarto, tingkat okupansi hotel di daerah Bali dan Nusa Tenggara mencapai rata-rata 40 persen sejak pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar pada Mei silam.

“Peningkatan transaksi ini pun menjadi sebuah tanda positif bagi para mitra hotel,” kata Rajasa.
 

Baca juga: RedDoorz optimistis pemerintah bisa pulihkan industri perhotelan

Baca juga: Seberapa aman menginap di hotel di masa adaptasi kebiasaan baru?

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wisata lokal buka meski mudik Lebaran ditiadakan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar