Artikel

Sensasi lengket di tengah Hutan Sagu Huruwakha

Oleh Ika Pujiningrum Palimbunga *)

Sensasi lengket di tengah Hutan Sagu Huruwakha

Jeti kayu menuju kawasan Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Distrik Sentani, Jayapura, Papua. (ANTARA/Ika Pujiningrum Palimbunga)

Jakarta (ANTARA) - "Enggak apa-apa sudah, demi memikat untuk diikat," kata Mama Aline, diikuti senyum lepasnya, mengomentari harga papeda dan mujair kuah kuning spesial buatannya, yang memang dijual jauh lebih murah jika dibandingkan di restoran atau tempat makan lain di Papua.

Mama Aline, panggilan akrab dari Magrit Linda Tokoro, yang menginisiasi berdirinya Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Kampung Adat Yobeh, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, itu memberi harga menu paket papeda dan mujair kuah kuning plus sambal dan tumis kangkung bunga pepayanya Rp35.000 per porsi.


"Walau sudah bosan berfoto, aduh demi papeda saya balik lagi," ujar Mama Aline, yang mencoba memperkirakan alasan wisatawan akan kembali lagi ke sana karena harga ekonomis menu spesialnya itu.


Ucapannya tidak salah, karena ternyata banyak wisatawan yang datang ke ekowisata hutan sagu yang baru diresmikan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada 19 Agustus lalu itu, untuk menikmati papeda buatan Mama Aline, selain tentu saja ingin berfoto di lokasi-lokasi menarik yang telah ditata sedemikian rupa hingga terlihat "Instagramable".


Istimewanya lagi, wisatawan dapat merasakan sensasi menikmati masakan khas masyarakat pesisir di Papua dan Maluku yang bertekstur lengket, seperti lem itu, langsung di tengah kawasan Hutan Sagu Huruwakha yang masih asri, sambil memandang Danau Sentani.

Salah satu titik "Instagramable" di kawasan Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Distrik Sentani, Jayapura, Papua. (ANTARA/Ika Pujiningrum Palimbunga)

Inisiasi ekowisata

Sebuah pemikiran dalam dialek Papua yang berbunyi “Kalau dong bisa, kenapa tong tra bisa", yang artinya “Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa”, seperti memberikan energi positif untuk berinovasi bagi Mama Aline.

Mama Aline yang juga merupakan Ketua Kelompok Mama-mama Kampung Huruwakha mengatakan dirinya yang pertama mendapat ide untuk mengembangkan ekowisata di hutan sagu yang menjadi rumah sekaligus sumber penghasilan bagi Masyarakat Adat Kampung Yobeh. Belum lama diresmikan, kini lokasi itu sudah menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Kabupaten Sentani.


Konsep Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha tetap memegang prinsip bahwa masyarakat lokal hidup dari sagu. Olahan dari teras batang rumbia yang lebih dikenal dengan pohon sagu itu sangat berarti bagi masyarakat Papua, khususnya bagi masyarakat lokal di Kampung Yobeh.


"Kerja sama yang baik membuahkan hasil yang baik pula," ujar perempuan paruh baya itu.


Festival yang rencananya akan diadakan setiap bulan itu tidak saja memberikan pengalaman, tetapi juga edukasi tentang sagu bagi wisatawan. Karena di sana mereka dapat melihat kondisi hutan sagu Kampung Adat Yobeh, bagaimana masyarakat membuat sagu, mulai dari proses penebangan pohon, membelah teras batang sagu menjadi beberapa bagian, menokoknya, memerasnya, hingga mengendapkannya untuk mendapatkan patinya, sampai akhirnya memperoleh sagu basah.


Pada saat yang sama, masyarakat di Kampung Adat Yobeh pun mendapat pengalaman dari festival itu, bahwa hutan sagu yang terjaga ternyata dapat memberikan manfaat jasa lingkungan melalui ekowisata sehingga mampu menjadi sumber ekonomi baru untuk peningkatan kesejahteraan bagi sekitar 300 jiwa dari 30 kepala keluarga di daerah itu, yang memang mayoritas hidupnya bergantung pada sagu.


Wisatawan hanya perlu membayar Rp10.000 per orang sebagai tiket masuk ke kawasan Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha dan dapat merasakan berjalan di antara rindangnya pohon sagu, menikmati pemandangan Danau Sentani, berfoto di titik-titik menawan yang "Instagramable".


Dan tentu saja merasakan sensasi menikmati papeda dari sagu segar yang diambil dan diproses di Kampung Adat Yobeh, plus mujair yang diambil dari Danau Sentani dan diolah menjadi menu ikan kuah kuning seharga Rp35.000 per porsi yang biasanya dihargai ratusan ribu rupiah untuk tiga hingga empat porsi.


Dalam festival itu ia melibatkan mama-mama dan remaja putri di Kampung Yobeh untuk membuat aneka olahan kuliner sagu dengan bimbingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua. Sementara bapak-bapak dan pemuda kampung diajak bersama-sama menokok sagu.

 

Mama-mama di Kampung Adat Yobeh berfoto dengan hasil olahan sagu mereka di kawasan Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha, Distrik Sentani, Papua. (ANTARA/HO-Ika Pujiningrum Palimbunga)

Olahan baru

Berkunjung ke Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha rasanya memang kurang lengkap jika tidak mencicipi pula setiap olahan dari bahan sagu. Berkat bimbingan dari BPTP Papua, kini mama-mama di Kampung Adat Yobeh semakin cemerlang dengan keahliannya "menyulap" sagu menjadi beragam jenis makanan.

Jala sagu dengan mujair kuah kuning plus acar mentimun dan irisan cabai segar menjadi menu baru yang ditawarkan sebagai hasil inovasi bersama BPTP Papua. Mama Aline mengatakan akan menjadikan masakan itu sebagai menu utama di kafe yang sedang dikembangkan di kawasan ekowisata tersebut, dengan harga per porsi sama dengan papeda.


Kepala Seksi Kerja sama dan Pelayanan Pengkajian BPTP Papua Mariana Ondikeleuw mengatakan balai mencoba melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dan kerja sama dengan pemerintah setempat untuk memberikan pelatihan maupun diseminasi teknologi pangan yang telah mereka kembangkan.

"Salah satunya diversifikasi makanan dibumikan di masyarakat. Agar juga masyarakat tidak hanya makan papeda, tapi bisa mengolah bahan pangan lokal siap saji untuk konsumsi sendiri setiap hari maupun dipasarkan ke masyarakat luar," ujar Mariana.

Menurut dia, ada nilai tambah yang diberikan pada sagu setelah mama-mama di daerah itu mendapat pelatihan. Kini mereka juga bisa membuat biskuit, cake, brownis dari tepung sagu, kembang goyang, mi sagu, bahkan mereka memproduksi tepung sagu yang sudah dipasarkan di Jayapura dengan kisaran harga Rp25.000 sampai dengan Rp35.000 per kilogram (kg).

Semua pelatihan yang diberikan, ia mengatakan berdasarkan permintaan dari masyarakat di Kampung Adat Yobeh. Sehingga kini mereka mulai dapat merasakan manfaatnya.

“Satu hari jualan saya dapat untung Rp550.000. Jualan jala sagu saja,” kata salah satu anggota Kelompok Mama-mama Kampung Huruwakha, Mama Welka Felle, yang juga berharap agar festival sagu di daerahnya benar-benar dapat rutin dilaksanakan sehingga masyarakat dapat terus berpartisipasi.

Mama dari Kampung Adat Yobeh sedang mengolah sagu di kawasan Hutan Sagu Huruwakha, Distrik Sentani, Papua. (ANTARA/HO-Ika Pujiningrum Palimbunga)

Mengolah sagu

Proses tebang pohon sagu di Kampung Adat Yobeh biasanya dilaksanakan selama tiga hari. Masyarakat di sana biasanya membagi beberapa bagian batang sagu yang sebelumnya telah ditebang, sebelum dikupas kulitnya dan kemudian diparut batangnya.


Cara masyarakat di Kampung Yobeh memarut batang sagu sudah cukup modern sehingga mempercepat proses tokok sagu. Hasil endapan berupa pati sagu kemudian diremas dengan cara tradisional.

Hasilnya berupa tepung sagu basah yang kemudian masih harus diendapkan hingga mendapatkan tepung sagu yang berkualitas, kata Mama Aline. Biasanya proses pengendapannya memakan waktu seharian.

Masyarakat di Kampung Adat Yobeh biasanya juga menjual tepung sagu basah ke pasar-pasar tradisional. Mereka menjualnya seharga Rp250.000 sampai dengan Rp300.000 per karung.

Untuk satu pohon sagu biasanya mereka dapat menghasilkan enam sampai dengan tujuh karung tepung sagu basah, dengan proses tokok sagu bisa mencapai waktu dua hingga tiga hari, tergantung pada alat dan jumlah pekerja.

Kerja sama masyarakat saat menokok sagu mencerminkan kekompakan dan sikap gotong royong di antara warga Kampung Yobeh, ujar Mama Aline.


Hidup dari sagu

Filosofi “Hidup dari Sagu” memberikan arti bahwa sagu menjadi jantung hidup bagi Masyarakat Adat Kampung Yobeh karena setiap bagian tanaman sangat berarti bagi kehidupan mereka.

Mama-mama di Kampung Yobeh bercerita bahwa setiap bagian dari pohon sagu sangat bermanfaat. Bagian daun sagu mereka anyam untuk dijadikan atap, kulit pohonnya dijadikan lantai, batang pohon sagu dapat pula dijadikan tiang rumah yang keseluruhannya dapat bertahan hingga 10 tahun, sedangkan pati sagu dan ulat sagu dijadikan sumber makanan mereka.

Dulu rumah-rumah yang dibuat dari pohon sagu itu yang ditempati hampir oleh seluruh masyarakat Sentani, namun perkembangan zaman mengubah kebiasaan itu, sehingga masyarakat beralih menggunakan bahan kayu lain.

"Itulah sebabnya sagu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat lokal di Papua," ujar Mama Aline.

Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha memberikan warna baru untuk pariwisata Jayapura. Bukan hanya sensasi menikmati lengketnya papeda di tengah hutan sagu, ilmu dari kearifan masyarakat Kampung Yobeh melindungi hutan sagu pun bisa dibawa pulang.


* Ika Pujiningrum Palimbunga, Vlogger/Blogger dari Jayapura, Papua, salah satu pemenang Journalist Fellowship EcoNusa yang dilaksanakan bersama ANTARA untuk isu hutan.

Oleh Ika Pujiningrum Palimbunga *)
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jembatan Antasan Pulau Bromo, ekowisata baru Banjarmasin

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar