Kemenko Perekonomian: Belanja pemerintah tetap jadi daya topang utama

Kemenko Perekonomian: Belanja pemerintah tetap jadi daya topang utama

ilustrasi - Pekerja melintas dengan latar belakang pembangunan gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (3/4/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

Komponan belanja pemerintah tetap menjadi daya topang utama
Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian M Rudy Salahuddin menyatakan komponen belanja pemerintah akan tetap menjadi daya topang utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Komponan belanja pemerintah tetap menjadi daya topang utama,” katanya dalam acara virtual Indonesia Digital Conference di Jakarta, Selasa.

Rudy menyatakan itu dilakukan dalam rangka menjaga momentum pemulihan ekonomi yang telah terjadi sejak kuartal III dari kuartal II yaitu pertumbuhannya terkontraksi 5,32 persen ke minus 3,49 persen setelah kuartal I hanya mampu tumbuh 2,97 persen.

Rudy menuturkan kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga 5,32 persen pada kuartal II dari 2,97 persen pada kuartal I disebabkan oleh tingkat konsumsi dan investasi yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan mengalami tekanan akibat pembatasan sosial masyarakat.

Tak hanya itu, pandemi ini turut menyebabkan kelesuan di sejumlah daerah yang merupakan motor penggerak ekonomi yaitu pada kuartal III terdapat 12 provinsi penyumbang 67,8 persen terhadap perekonomian mengalami kontraksi hingga di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.

“Pada periode sebelum 2020 secara historis ekonomi nasional kita mampu tumbuh pada kisaran 5 persen sampai 6 persen namun kita ketahui di awal tahun ini perekonomian kita tertekan akibat adanya pandemi,” katanya.

Oleh sebab itu, Rudy menuturkan melalui belanja pemerintah yang akan tetap menjadi daya topang utama perekonomian maka diharapkan mampu membuat pertumbuhan kuartal IV tahun ini ke arah semakin pulih.

“Kita patut bersyukur sektor pertanian dan informasi komunikasi masih menunjukkan angka yang positif,” ujarnya.

Terlebih lagi, ia mengatakan berbagai lembaga internasional juga memprediksikan bahwa pada 2021 perekonomian Indonesia akan dapat kembali tumbuh menuju ke arah rentang semula yakni 5 persen sampai 6 persen.

Meski demikian, Rudy menegaskan potensi pertumbuhan sebesar 5 persen sampai 6 persen akan mampu tercapai apabila pemerintah dan masyarakat terus bergotong-royong meningkatkan pemulihan ekonomi nasional.

“Hal ini dapat tercapai apabila kita bisa saling berkomitmen dan juga bergotong-royong untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Baca juga: Kemenko Perekonomian: Pemanfaatan sagu di RI masih minim

Baca juga: Pemerintah alihkan tugas KEIN kepada Kemenko Perekonomian


 

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ini sebab pertumbuhan ekonomi Papua tertinggi nasional pada Q3 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar