Gubernur Ali Mazi dapat penghargaan dari ATL atas pelestarian budaya

Gubernur Ali Mazi dapat penghargaan dari ATL atas pelestarian budaya

Gubernur Sultra Ali Mazi, SH (kedua kiri) didampingi Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh (kiri) saat menerima penghargaa dari Ketua Asosiaisi Tradisi Lisan (ATL) Pusat Dr Pudentia (kedua kanan) atas kepedualian kemajuan pembangunan budaya disalah satu hotel di Kendari, Rabu (16/12/2020). ANTARA/Azis Senong.

Kendari (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi mendapat penghargaan dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat atas peran dan kontribusinya dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah di provinsi itu khususnya tradisi lisan.

"Sebagai Pemerintah Daerah Sultra, tentu sangat bangga dan berbahagia sekaligus mengapresiasi penghargaan yang diberikan ATL Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia yang terakreditasi dari United Nations Educational, Science and Cultural Organization (UNESCO)," kata Ali Mazi di Kendari, Rabu.

Baca juga: BKB gandeng generasi muda kampanye pelestarian cagar budaya

Penghargaan itu diberikan Ketua ATL Pusat Dr.Pudentia, MPSS, M.Hum kepada Gubernur Ali Mazi yang disaksikan Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh, Ketua ATL Sultra, Prof Dr Usman Rianse dan Kadis Dikbud Sultra Asrun Lio, M,Hum, PhD.

Menurut Ali Mazi, sebagai gubernur dua periode menaruh perhatian besar atas keberadaan ATL di Sultra yang dipimpin Prof Usman Rianse mantan Rektor UHO dua periode.

Baca juga: Candi Gedongsongo lereng Gunung Ungaran ditanami akar wangi

Ia mengatakan, Asosiasi Tradisi Lisan yang telah bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra dalam mewujudkan pembangunan di Sultra telah tercantum dalam program pembangunan jangka menengah daerah yaitu "Sultra Berbudaya dan Beriman".

Kata Ali Mazi, budaya adalah modal pembangunan bangsa, dimana modal tersebut berperan sebagai pengendali dan cara berpikir, berorientasi, berinovasi dan cara berpikir masyarakat. Sebab budaya semakin dikaji dan digali justru akan memperkaya jati diri daerah dan bangsa yang belum tentu dimiliki oleh negara lain.

Baca juga: Untuk pelestarian cagar budaya, BATAN-IAEA kembangkan teknologi nuklir

Indeks pembangunan kebudayaan (IPK) Sultra pada 2018 diakui masih berada pada posisi kelima terendah secara nasional dengan nilai 47,62 persen.

"Sejak awal kepemimpinan saya untuk ke dua periode tahun 2018, saya telah berkomitmen untuk memajukan kebudayaan melalui program strategis pembangunan daerah 2018-2023 yaitu Sultra Berbudaya dan Beriman," ujar Ali Mazi.
Suasa bersama dengan Ketua ATL Pusat, Dr Pudentia dan Ketua ATL Sultra Prof Usman Rianse dan Kadis Dikbud Sultra Asrun Lio dalam penerima hadiah bersama peserta lomba pantun, tarian di salah satu hotel di Kendari. ANTARA/Azis Senong


Olehnya itu, tambah Ali Mazi, Dikbud Sultra melalui UPTD Museum dan Taman Budaya sebagai leding sektor dapat bertanggung jawab pada kemajuan kebudayaan di daerah dengan terus melestarikan keragaman budaya daerah untuk mendorong dan memperkuat kebudayaan di daerah dan kebudayaan nasional.

Ketua ATL Pusat Dr Prudentia mengatakan ATL merupakan tanggung jawab yang sama bersama UNESCO sebagai lembaga organisasi yang mengurusi budaya dunia.

Indonesia sendiri memiliki 10 budaya yang masuk dalam daftar dari UNESCO tersebut. Daftar tersebut terdiri dari tarian hingga alat musik tradisional khas Indonesia diantaranya keris, pertunjukan wayang, batik, angklung, tarian Bali, noken, dan pinisi.

"Yang terbaru diberikan UNESCO adalah pencak silat yang diakui pada tahun 2019 lalu. Selain pencak silat ada beragam kebudayaan yang masuk daftar UNESCO," tuturnya.

Ketua ATL Pusat Dr Pudentia, didampingi Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Dikbud Sultra Dody H.

 

Pewarta: Abdul Azis Senong
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar