Bus Mobile lab BSL-2 dukung percepatan penanganan 3T COVID-19

Bus Mobile lab BSL-2 dukung percepatan penanganan 3T COVID-19

Mobile lab BSL-2 varian bus. (Humas Satgas COVID-19)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan peluncuran mobile lab BSL-2 varian bus membantu proses 3T (tracing, testing, dan treatment) di beberapa daerah untuk mempercepat upaya penanganan dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

"Untuk testing (pemeriksaan), tracing (penelusuran) dan treating (pengobatan) yang jug bisa diimprovisasi dengan pelacakan (tracking) yang saat ini juga sedang diupayakan pengembangan aplikasinya," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Rabu.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo dan Kepala BPPT Hammam Riza melepas keberangkatan mobile laboratorium Biosafety Level 2 atau BSL-2 varian bus di Graha BNPB.

Mobile lab BSL-2 merupakan salah satu hasil inovasi dari peneliti dan perekayasa BPPT. Mobile lab itu dapat membantu peningkatan kapasitas uji sampel spesimen COVID-19 di daerah sehingga prosesnya dapat lebih dipercepat, dipersingkat dan lebih akurat.

Baca juga: Kasad: 14 RS TNI AD sudah terima alat lab PCR mobile

Baca juga: Kolaborasi DKI-LSM hadirkan lab bergerak


Hingga saat ini kapasitas pengujian sampel COVID-19 sudah mencapai 95 persen dari target Badan Kesehatan Dunia (WHO), namun ada beberapa wilayah yang mengalami kesulitan dalam pengujian sampel.

"Kapasitas pengujian di Indonesia saat ini telah mencapai 95 persen dari yang ditargetkan oleh WHO. Namun, sebagian laboratorium masih terpusat di beberapa kota besar dan masih menunggu waktu di dalam pengujian spesimen tersebut," ujar Hammam.

Dia menuturkan mobile lab BSL-2 varian bus tersebut masih mengusung konsep yang sama, yaitu mobile, aman, dan akurat. Kelebihan mobile lab BSL-2 varian bus dibanding generasi mobile lab sebelumnya, antara lain dibangun dengan platform bus untuk memperkuat konsep mobilitas, sehingga dapat mudah dioperasikan di daerah yang membutuhkan.

Kemudian, ada penambahan fasilitas untuk ekstraksi RNA sehingga dapat menggunakan reagen yang lebih bervariasi (metoda magnetic beads) untuk menjaga keberlanjutan pengujian.

"Penambahan fasilitas untuk ekstraksi RNA sehingga menggunakan reagen yang bervariasi," tutur Hammam.

Selanjutnya, ada juga beberapa pengembangan layout peralatan untuk meningkatkan akurasi data dan keamanan personil penguji.

Pada mobile lab tersebut, terdapat penyempurnaan pada sistem mekanik pintu yang dapat dibuka tutup secara touchless untuk menghindari adanya kontaminasi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengapresiasi hasil inovasi karya anak bangsa tersebut dalam rangka mempercepat penanganan COVID-19.

Menurut Doni, dengan hadirnya mobile lab BSL-2 dapat mengurangi ketergantungan terhadap jenis produk dari luar negeri, sehingga hal itu sekaligus dapat menjadi solusi yang lebih efektif dan efisien.

"Tentu kita harus mendukung program-program inovasi ini agar kita tidak selalu tergantung dari produk-produk yang didatangkan dari luar negeri," kata Doni.

Dia juga menuturkan dengan adanya bus laboratorium tersebut, maka itu dapat mengurangi permasalahan yang ada di daerah, khususnya untuk pemenuhan kapasitas uji sampel sesuai standar Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia.

"Salah satu upaya untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang ada di daerah, karena tidak semua lab di daerah ini memiliki standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Dia juga berharap agar peluncuran mobile lab BSL-2 yang mengusung konsep bus tersebut dapat mempercepat upaya pemeriksaan spesimen, sehingga penanganan COVID-19 dapat lebih baik.

"Ini adalah jawaban untuk menutupi kekurangan yang ada di daerah. Mudah-mudahan kehadiran mobile lab BSL-2 ini dapat mempercepat proses pemeriksaan spesimen," ujar Doni.

Mobile lab BSL-2 varian bus tersebut akan melakukan perjalanan ke Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Dinas Kesehatan Denpasar di Bali, dan Ponpes Darul Ulum Jombang di Jawa Timur untuk membantu pengujian sampel COVID-19, dan direncanakan kembali ke BPPT pada 29 Desember 2020.

Sebelumnya, BPPT telah meluncurkan inovasi mobile lab BSL-2 varian kontainer/trailer yang dapat dipindah-operasikan ke berbagai daerah.

Mobile lab varian kontainer tersebut telah beroperasi di beberapa tempat di Indonesia, seperti di Jakarta Timur, Plaju Palembang dan Medan Sumatera Utara.*

Baca juga: Mobile Laboratorium BSL-2 Indonesia dalam mendukung deteksi COVID-19

Baca juga: Mobile lab BSL 2 untuk deteksi COVID-19 selesai dibangun Mei 2020

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPPT haruslah menjadi pusat kecerdasan teknologi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar