Fiji umumkan status bencana alam kala topan kuat mendekat

Fiji umumkan status bencana alam kala topan kuat mendekat

Dokumentasi - Pohon-pohon yang diterpa angin kencang terlihat di dekat sebuah pantai saat badai tropis Sarai mendarat di Viseisei, Fiji, Jumat (27/12/2019), dalam gambar yang didapatkan dari media sosial. ANTARA/YOGACHARYA P R MOHANAN/via REUTERS/pd/cfo

Sydney (ANTARA) - Fiji mengumumkan status bencana alam pada Kamis (16/12), dan meminta masyarakat untuk mencari tempat perlindungan sebelum jam malam harian saat topan yang berpotensi merusak mendekati negara Kepulauan Pasifik itu. Topan Yasa, badai dengan kategori lima, yang teratas, diperkirakan akan membawa angin berkecepatan hingga 250 km per jam dan hujan deras di seluruh kepulauan Pasifik Selatan itu saat mendarat dalam satu malam.

Badan Meteorologi Fiji mengatakan angin kencang dan hujan lebat telah tercatat di beberapa bagian negara itu, meski kondisi cuaca terburuk dikatakan masih akan terjadi beberapa jam lagi.

Gambar yang dibagikan di media sosial menunjukkan jalan tertutup oleh tanah longsor, banjir, dan pohon tumbang.

Pada jam 20.00 waktu setempat, titik pusat Yasa diperkirakan berada 100 km timur desa Yasawa-i-Rara dan berpotensi berada di Provinsi Bua, area terpadat kelima di Fiji yang berpenduduk 15.000 orang, kata Kantor Manajemen Bencana Nasional Fiji.

Perdana Menteri Fiji Frank Bainimarama menegaskan peringatannya dan mengatakan kepada hampir satu juta penduduk negara itu untuk menemukan tempat berlindung yang aman sebelum jam malam nasional selama 14 jam mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat.

“Dampak dari badai super ini kurang lebih terjadi di seluruh negeri,” kata Bainimarama dalam video yang diunggah di Facebook.

Yasa akan "dengan mudah melampaui" kekuatan Topan Winston tahun 2016, ia menambahkan. Ia mengacu pada rekor badai tropis paling intens di belahan bumi selatan, yang menewaskan lebih dari 40 orang di Fiji dan menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Perintah jam malam diberikan sebagai bagian dari tata tertib bencana alam, yang akan berlaku selama 30 hari.

Lebih dari 95 persen populasi tinggal di jalur langsung Yasa, kata Bainimarama. 

Ia menambahkan bahwa prakiraan cuaca mengantisipasi banjir bandang dan "genangan pantai parah" yang mencakup gelombang setinggi 10 meter.

Penduduk di daerah yang dianggap paling berisiko mengatakan peringatan itu telah diperhatikan.

"Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Alumita Bati, seorang koki dari Ibu Kota Suva yang terpaksa dievakuasi bersama putra dan suaminya dari rumah seng mereka di permukiman dataran rendah di luar kota terpadat di negara itu.

Keluarga Bati menutup jendela rumah mereka dengan lebih banyak timah sebelum pergi ke rumah saudara perempuannya di tempat yang lebih tinggi, tempat dia merasa lebih aman tetapi masih "sedikit takut".

Fiji melarang pengoperasian transportasi umum, dan melakukan tindakan pencegahan dengan sekitar 50 kapal yacht  asing ditambatkan di bagian selatan rangkaian pulau.

"Perahu telah dipindahkan ke tempat penampungan bakau, yang memberikan perlindungan yang baik terhadap angin," kata Cynthia Rasch, kepala eksekutif Pelabuhan Denarau Marina.

Pada Oktober, Fiji dibuka untuk kapal asing dalam upaya menghidupkan kembali industri pariwisatanya yang terpukul parah oleh virus corona.

Di bawah inisiatif yang disebut dengan Jalur Biru, kapal pesiar asing harus mengikuti persyaratan ketat untuk memasuki Fiji, termasuk karantina selama 14 hari di laut.

Sumber: Reuters

Baca juga: Topan Harold ratakan rumah dan sebabkan cedera di Fiji

Baca juga: Satu tewas, ribuan dievakuasi akibat Topan Sarai di Fiji



 

Topan Haiyan Hancurkan Kapal Keruk China

 

Penerjemah: Aria Cindyara
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar