Pengamat nilai kolaborasi Gojek dan Bank Jago hasilkan bank digital

Pengamat nilai kolaborasi Gojek dan Bank Jago hasilkan bank digital

Logo PT Bank Jago Tbk (Bank Jago).

Ini merupakan strategi bisnis yang akan mendorong inklusi keuangan. Nanti yang berperan banyak adalah GoPay, karena daya jangkau GoPay sudah mencapai 200 kabupaten lebih
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi digital LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Chaikal Nuryakin menilai kolaborasi Gojek dengan PT Bank Jago dapat menghasilkan layanan finansial universal melalui bank digital yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

"Ini merupakan strategi bisnis yang akan mendorong inklusi keuangan. Nanti yang berperan banyak adalah GoPay, karena daya jangkau GoPay sudah mencapai 200 kabupaten lebih," kata Chaikal dalam pernyataan di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan daya jangkau dan teknologi GoPay memungkinkan terjadinya percepatan inklusi keuangan, meski masih ada keterbatasan dari sisi regulasi karena GoPay bukan institusi perbankan.

"(Dengan masuknya ke Bank Jago) Gojek akan jadi lebih mudah untuk mengakses layanan perbankan yang sebelumnya mereka tidak bisa karena terbentur perizinan. Sekarang dengan ada Bank Jago, mereka bisa," katanya.

Di sisi lain, menurut dia, Bank Jago juga bisa meraih manfaat besar dari kehadiran Gojek, terutama dari sisi transfer teknologi. "Bank Jago juga jadi lebih mudah untuk mendigitalisasi layanannya," katanya.

Saat ini, Indonesia adalah negara dengan populasi unbanked (masyarakat belum terjangkau perbankan) terbesar ke-empat di dunia sehingga meningkatkan inklusi keuangan menjadi penting.

Data Bank Dunia Global Findex pada 2017 mencatat sebesar 52 persen populasi masyarakat dewasa Indonesia, atau setara sekitar 95 juta orang, tidak punya rekening bank.

Selain itu, data Google & Temasek SEA e-Conomy 2019 mencatat sebanyak 47 juta orang dewasa tidak memiliki rekening bank atau tidak memiliki akses yang memadai ke kredit, investasi, dan asuransi.

Untuk itu, Chaikal memastikan, kolaborasi Gojek dengan Bank Jago bisa meningkatkan layanan keuangan digital, mengingat 70 persen sampai 80 persen populasi di Indonesia sudah memiliki akses ke smartphone atau mobile phone.

"Pasar keuangan digital di Indonesia sangat fragmented. Layanan peer-to-peer (P2P) hanya sebatas lending. Tidak sampai ke saving. P2P semakin berkembang lagi saat pandemi. Hal ini seharusnya mendorong bank konvensional untuk masuk ke sektor digital," kata Chaikal.

Meski demikian, Chaikal mengakui, masih banyak masyarakat yang potensial untuk memasukkan dananya ke bank, tapi belum mau memanfaatkan layanan keuangan tersebut.

"Dengan digital seperti yang dilakukan fintech atau P2P itu jadi lebih mudah. Layanan microfinance tradisional sekarang sudah terdigitalisasi. Padahal pasar lending misalnya itu sangat besar sekali untuk dijangkau," katanya.

Saat ini, terdapat tiga karakteristik dari bank digital yaitu beroperasi penuh secara digital tanpa perlu kantor cabang, memanfaatkan aplikasi dan teknologi dan memiliki penetrasi pasar yang tinggi dalam ekosistem bisnis secara digital.

Baca juga: Gojek investasi di Bank Jago untuk percepat inklusi keuangan

Baca juga: Bank Jago siap terbitkan saham baru untuk perkuat modal

Baca juga: Bank Jago siap layani ekosistem digital

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Banjarbaru ajak pelaku UMKM tingkatkan penjualan melalui media digital

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar