Pemkot Surakarta terus tambah lokasi karantina penderita COVID-19

Pemkot Surakarta terus tambah lokasi karantina penderita COVID-19

Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo. ANTARA/Aris Wasita

karena kami makin kencang untuk tracing
Solo (ANTARA) - Pemerintah Kota Surakarta terus menambah lokasi karantina mandiri untuk penderita COVID-19 yang saat ini masih menunjukkan penambahan jumlah kasus.

"Karantina mandiri disiapkan bagi masyarakat yang rumahnya tidak memadai untuk karantina mandiri. Contohnya satu rumah untuk 21 orang, yang empat positif, yang 17 mau dikemanakan. Ada kasus itu di Sudiroprajan," kata Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo di Solo, Selasa.

Selain itu, pihaknya akan kembali mengaktifkan Ndalem Joyokusuman sebagai lokasi lain untuk karantina mandiri. Bahkan, jika kapasitasnya masih tidak mencukupi, maka rumah dinas wakil wali kota dan rumah dinas sekretaris daerah juga akan dimanfaatkan sebagai lokasi karantina mandiri.

"Kalau memang zona merah, Solo Technopark bagian utara juga akan kami aktifkan. Kapasitasnya lebih dari 200," katanya.

Baca juga: Surakarta karantina pemudik di Solo Technopark mulai 20 Desember

Selain itu, dikatakannya, ruangan di rumah sakit yang digunakan untuk perawatan pasien COVID-19 juga sudah penuh sehingga pemerintah harus mengoperasikan Asrama Haji Donohudan untuk orang tanpa gejala (OTG).

"Rumah sakit sudah penuh. 'Bed'-nya ada, ruang isolasi yang nggak ada, kan ada yang dirawat di bangsal dan ada yang di ICU. Kalau isolasi harus satu-satu, kan harus ada ventilator. Di sisi lain pasien di Donohudan sudah ada, sudah banyak. Pertama kali 77, sekarang bertambah," katanya.

Baca juga: Solo "lockdown" pada Desember 2020-Januari 2021? Ini faktanya

Sementara itu, diakuinya, saat ini jumlah kasus positif COVID-19 di Kota Solo terus bertambah. Bahkan, hasil tracing atau penelusuran terakhir dari 120 pasien ditemukan 120 pasien baru.

"Kalau Solo zona merah itu ya karena kami makin kencang untuk tracing. Kalau kita menghendaki hasil tracing minim ya kami tidak perlu melakukan tracing seperti ini, swab-nya acak saja. Perkara yang tidak di-swab ini ternyata positif ya kami tidak tahu," katanya.

Ia mengatakan jika hal itu dilakukan maka risikonya adalah akan makin banyak orang yang terjangkit virus tersebut.

Baca juga: Karyawan positif COVID-19, RRI Surakarta tutup tiga hari
 

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemkot Surakarta bolehkan anak 5 tahun ke atas kunjungi fasilitas publik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar