Simpatisan FPI ditangkap polisi lantaran ujaran kebencian di medsos

Simpatisan FPI ditangkap polisi lantaran ujaran kebencian di medsos

Dirreskrimsus Polda Kalteng Kombes Pol Pasma Royce (kiri) bersama Kabidhumas Kombes Pol Hendra Rochamawan (kanan) saat konferensi pers tindak pidana UU ITE. (ANTARA/ HO-Polri)

Postingan yang berhasil ditemukan di IG (Instagram) atas nama sry_mutmut_zee ini terbukti melakukan tindak pidana di bidang ITE dan memenuhi unsur SARA
Jakarta (ANTARA) - Ditreskrimsus Polda Kalteng membekuk tersangka berinisial FA (30) yang menjadi pelaku kasus ujaran kebencian di media sosial.

Tersangka FA ditangkap di Jalan Bukit Tinggi Kelurahan Beriwit Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Hal tersebut disampaikan Kapolda Kalteng Irjen Pol Dedi Prasetyo melalui Kabidhumas Kombes Pol Hendra Rochamawan dalam siaran pers, Rabu.

"Postingan yang berhasil ditemukan di IG (Instagram) atas nama sry_mutmut_zee ini terbukti melakukan tindak pidana di bidang ITE dan memenuhi unsur SARA," kata Kabidhumas.

Dirreskrimsus Polda Kalteng Kombes Pol Pasma Royce menerangkan bahwa dalam media sosial yang menjiplak akun milik orang lain tersebut banyak ditemukan postingan yang mengandung kebencian kepada pemerintah, masyarakat bahkan salah satu ulama terkenal yaitu Abah Guru Sekumpul.

Baca juga: Sekretaris Umum FPI Munarman dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Baca juga: Dekan FHUP apresiasi langkah Kemenlu soal staf Kedubes Jerman ke FPI


"Dari hasil interogasi yang kami lakukan, diperoleh informasi bahwa FA ini adalah seorang simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Tidak hanya foto, tetapi dalam bentuk video berikut captionnya mengandung kata-kata kebencian," tutur Pasma.

Dari hasil penyelidikan, diketahui FA adalah seorang warga yang tidak pernah bersosialisasi di lingkungan masyarakat. Media sosial merupakan sarana bagi FA berkomunikasi selama ini.

"Terbukti dari seorang FA, kami telah menemukan 35 akun dari sejumlah HP yang dimilikinya," ujarnya.

Atas perbuatannya, tersangka FA akan dijerat dengan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Pidana penjara paling lama enam tahun atau denda maksimal berjumlah Rp1 miliar," ucap dia.

Baca juga: Hikmahanto sambut baik pemulangan staf Kedubes Jerman yang ke FPI

Baca juga: Kasus Laskar FPI, Bareskrim periksa 78 saksi dan tujuh ahli

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Densus 88 tangkap Munarman

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar