Dolar melemah karena investor pertimbangkan stimulus fiskal AS

Dolar melemah karena investor pertimbangkan stimulus fiskal AS

Ilustrasi - Mata uang Amerika Serikat dolar dan Inggris pound sterling. ANTARA/REUTERS/Thomas White/am.

Dengan berlakunya pemerintahan Biden, Anda akan memiliki ekspektasi bahwa kita akan melihat upaya lain untuk lebih banyak stimulus, dan itulah mengapa menurut saya dolar memangkas kerugiannya tetapi sangat terbatas
New York (ANTARA) - Dolar mengurangi kerugiannya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah di awal sesi mencapai level terendah lebih dari dua tahun terhadap euro, tetapi tetap jatuh pada hari itu karena investor mempertimbangkan apakah kenaikan stimulus fiskal AS mungkin terjadi.

Pemimpin Mayoritas Senat AS Mitch McConnell pada Selasa (29/12) memblokir pertimbangan segera tentang tindakan untuk meningkatkan pembayaran bantuan langsung tunai COVID-19 menjadi 2.000 dolar AS. Dia menyatakan Senat setidaknya akan membahasnya masalah tersebut.

"Ini benar-benar menunda yang tak terelakkan," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

“Dengan berlakunya pemerintahan Biden, Anda akan memiliki ekspektasi bahwa kita akan melihat upaya lain untuk lebih banyak stimulus, dan itulah mengapa menurut saya dolar memangkas kerugiannya tetapi sangat terbatas,” kata Moya.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya,turun 0,28 persen menjadi 89,99. Indeks bertahan tepat di atas level terendah dua setengah tahun di 89,72 yang dicapai pada 17 Desember.

Perdagangan tipis dengan banyak investor keluar antara liburan Natal dan Tahun Baru.

Euro menguat 0,28 persen menjadi 1,2251 dolar setelah mencapai 1,2274 dolar, terkuat sejak April 2018. Aussie naik 0,39 persen menjadi 0,7610 dolar. Unit Aussie mencapai 0,7639 dolar pada 17 Desember, tertinggi sejak Juni 2018.

Greenback tergelincir 0,29 persen terhadap dolar Kanada menjadi 1,2810 dolar Kanada. Loonie mencapai 1,2684 dolar AS pada 17 Desember, yang terkuat sejak April 2018.

Investor bertaruh greenback akan terus menurun - anjlok 6,77 persen tahun ini - di tengah ekspektasi Federal Reserve akan menahan suku bunga mendekati nol dan ekonomi AS akan berjuang untuk pulih dari penutupan terkait virus corona.

Data yang dirilis oleh Commodity Futures Trading Commission pada Senin (28/12) menunjukkan pedagang meningkatkan taruhan terhadap dolar di pekan yang berakhir 21 Desember menjadi 26,6 miliar dolar AS. Itu merupakan yang tertinggi dalam tiga bulan, menurut perhitungan Reuters.

Faktor kunci tentang seberapa banyak stimulus yang akan datang juga akan menjadi persaingan lebih lanjut Senat Georgia bulan depan yang akan menentukan partai mana yang mengendalikan majelis atas AS.

Euro juga didukung pada Selasa (29/12) oleh kesepakatan perdagangan yang dicapai minggu lalu bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa. Meskipun perjanjian tersebut tidak komprehensif, perjanjian tersebut menghindari hasil tanpa kesepakatan yang merusak.

Sterling naik 0,33 persen menjadi 1,3500 dolar setelah penurunan dua hari. Sterling mencapai 1,3625 dolar bulan ini, level yang tidak terlihat sejak Mei 2018, tetapi investor telah mengambil untung sejak kesepakatan perdagangan Brexit dibuat.

Bitcoin turun 0,61 persen menjadi 26.871 dolar setelah mencapai rekor 28.378 dolar pada Minggu (27/12). Mata uang kripto tersebut telah melonjak 275 persen tahun ini karena mendapat lebih banyak penerimaan dari investor arus utama.

XRP mata uang digital terbesar ketiga, merosot 13 persen setelah Coinbase, pertukaran koin virtual utama AS, mengatakan akan menghentikan perdagangan XRP.

Langkah itu dilakukan setelah regulator AS menuduh Ripple, sebuah perusahaan blockchain yang terkait dengan XRP, melakukan penawaran sekuritas yang tidak terdaftar senilai 1,3 miliar dolar AS. Ripple membantah tuduhan tersebut.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mendag: mata uang digital tidak diperbolehkan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar