Kaleidoskop 2020

Hal-hal yang paling viral sepanjang 2020

Hal-hal yang paling viral sepanjang 2020

Bu tejo

Jakarta (ANTARA) - Meskipun sepanjang 2020 didominasi oleh berita COVID-19, namun banyak juga hal-hal lain yang menjadi tren di tahun pandemi ini. Seperti pengesahan omnibuslaw, kepergian Glenn Fredly, viralnya lagu Lathi, hingga Pilkada 2020.

Sejumlah hobi baru saat di rumah saja pun turut menjadi sorotan pemberitaan. Misalnya saja resep-resep kudapan seperti donat, odading, dan juga kopi dalgona. Ada juga kegiatan bersepeda dan menanam yang banyak dilakoni masyarakat.

Antara merangkum beberapa topik berita yang menjadi perhatian publik selama 2020. Berikut daftarnya:

Baca juga: Mengenang para musisi Indonesia yang berpulang di 2020

1. Kepergian Glenn Fredly
Salah satu musisi kebanggan Indonesia Glenn Fredly telah meninggal dunia pada Rabu (8/4/2020). Kepergiannya di usia muda itu telah mengagetkan masyarakat Indonesia. Gelnn menghembuskan napas terakhirnya pada usia 44 tahun karena radang selaput otak atau meningitis. Jenazah Gelnn dimakamkan di TPU Tanak Kusir, setelah dilakukan ibadah pelepasan.

Kepergian ayah dari Gewa Atlana Syamayim Latuihamallo dan suami dari Mutia Ayu itu pun tak hanya mengagetkan masyarakat saja. Orang-orang terdekatnya pun ikut terkejut dengan kabar itu. Sebelum adanya kabar lara tersebut, Glenn memang tak tampak sakit. Dia selalu aktif dalam kegiatan bermusik. Tidak hanya manggung, Gelnn juga ikut memperjuangkan beberapa isu dalam dunia musik.

Misalnya saja Glenn salah satu musisi yang lantang bersuara menolak RUU Permusikkan yang dianggap dapat menjadi pasal karet bagi musisi. Dia beserta pegiat musik lainnya juga ikut mendorong kota Ambon menjadi Kota Musik Dunia yang dinobatkan oleh UNESCO. Glenn juga menjadi ketua komite KAMI musik Indonesia, yang berupaya memperbaiki tata kelola industri musik di Indonesia.

Selama 2020, Indonesia menjalni tahun-tahun yang berat, tak hanya karena pandemi. Melainkan Indonesia juga banyak kehilangan putra-putri bangsa berprestasi, antara lain Didi Kempot, Ashraf Sinclair, Ria Irawan, Ade Irawan, Omas, dan lainnya.

2. Istilah baru: "lockdown" hingga "goshting"
Penyebaran COVID-19 yang begitu masif telah memiliki dampak diberbagai aspek termasuk memunculkan istilah-istilah yang baru bagi masyarakat. Berbagai istilah muncul itu muncul karena adanya upaya untuk memotong rantai penyebaran virus. Misalnya saja istilah pandemi yang sudah ada sejak lama tapi menjadi sering digunakan saat 2020.

Ada juga istilah "lockdown" atau karantina wilayah. Menariknya alih-alih menggunakan istilah karantina wilayah pemerintah membuat istilah baru, yaitu PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Ada juga istilah lain yang dimunculkan oleh pemerintah seperti OTG (orang tanpa gejala), ODP (orang dalam pengawasan) dan istilah lainnya.

Tak hanya itu, istilah penyerta akibat pandemi COVID-19 lainnya juga muncul, seperti social distancing yang dipopulerkan oleh WHO, WFH (work from home atau bekerja di rumah), dan WFP (work form office atau bekerja di kantor). Ada juga istilah canggih "Herd Imunity" yang menjadi akrab ditelinga masyarakat. Herd Imunity adalah perlindungan secara tidak langsung dari suatu penyakit menular yang terjadi karena populasi masyarakatnya telah memiliki kekebalan.

Dunia pendidikan juga punya istilah baru, yaitu PJJ atau pembelajaran jarak jauh. Pandemi membuat murid dan guru tak dapat bertemu dalam ruang kelas, sehingga kegiatan belajar-mengajar harus dilakukan secara daring. Istilah PJJ tersebut pertama dipopulerkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makrim.

Tak hanya pandemi saja yang menyebabkan timbulnya istilah-istilah baru, ternyata pengguna media sosial juga melahirkan istilah baru, seperti istilah ghosting. Menurut Google Trending kata ghosting adalah salah kata yang dicari di Indonesia. Ghosting berasal dari bahasa Inggris yang artinya berbayang. Namun kata ini digunakan pengguna internet untuk menjelaskan tentang seseorang yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan, padahal sebelumnya orang tersebut intens berkomunikasi. Isitlah ini biasanya dipakai oleh dua orang yang sedang dalam masa pendekatan.

3. Omnibus Law, Pilkada, hingga Pulangnya Habib Rizieq Shihab
Sepanjang 2020, Indonesia juga diramaikan oleh sejumlah momentum politik. Beberapa isu yang menyorot perhatian adalah diubahnya jadwal Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020 dari yang semula akan digelar pada 23 September menjadi 9 Desember 2020. Pengubahan jadwal ini berkaitan dengan pandemi yang terjadi sejak Maret 2020.

Kendati sudah diundur selama hampir tiga bulan dari jadwal semula, pelaksanaan Pilkada tahun ini tetap menuai kritik dari sejumlah pihak. Sebabnya, penyelenggaraan Pilkada yang tahapan dan pelaksanaannya menimbulkan keramaian dikhawatirkan akan menyebabkan penyebaran COVID-19 semakin tak terkendali. Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat selama tahapan, sejumlah panitia pelaksana Pilkada ikut terinfeksi COVID-19. Seperti Ketua KPU RI Arief Budiman atau yang sampai meninggal dunia yakni Ketua KPU Tangerang Selatan Bambang Dwitoro.

Disahkannya Undang Undang Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR dan Pemerintah juga menjadi momentum politik yang ramai diperbincangkan di tahun 2020. Penolakan yang datang terutama dari elemen buruh, aktivis HAM, dan mahasiswa cukup massif digelar dalam bentuk aksi langsung atau kampanye di media sosial.

Pada beberapa aksi langsung tak jarang gesekan antara aparat dan massa menimbulkan kericuhan. Di sisi lain, pro kontra terkait UU ini pun diramaikan oleh beredarnya banyak draft UU tersebut yang menimbulkan perdebatan baru di publik. Saat ini UU tersebut telah diteken Presiden Joko Widodo, sejumlah elemen buruh pun sudah melayangkan gugatan uji materi terkait UU ini ke Mahkamah Konstitusi.

Di akhir 2020, Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab (HRS) pulang ke tanah air. Kepulangannya ke Indonesia setelah tiga tahun menetap sementara di Arab Saudi mendapat respons luar biasa dari para pendukungnya. Penjemputan HRS bahkan sampai membuat Bandara Soekarno-Hatta lumpuh. Namun, sesaat setelah kepulangannya ke tanah air, HRS kembali menuai kontroversi. Kepolisian lantas menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus membuat keramaian di tengah pandemi Covid-19. Hal ini berlanjut pada sengketa tanah pesantrennya di Kawasan Mega Mendung, Bogor hingga ditetapkannya FPI sebagai organisasi terlarang.

Baca juga: Yasonna sebut UU Cipta Kerja lahir atasi benang kusut perizinan

4. #Blacklivesmatter, ledakan Beurit, boikot Prancis hingga Pilpres Amerika
Di jagat internasional, beberapa berita juga menjadi tren di Indonesia, dimulai munculnya tagar #blacklivesmatter pada akhir Mei 2020. Tagar tersebut merupakan dukungan dan kritikan terhadap kasus meninggalnya George Floyd, seorang warga Amerika berkulit gelap yang meninggal karena kehabisan nafas saat polisi berkulit putih Derek Chauvin menindih lehernya dengan lutut selama tujuh menit.

Saat ditindih Floyd berkali-kali berteriak, meronta, dan meminta ampun karena dia kehabisan nafas. Ketika berita itu viral, unjuk rasa pun terjadi di mana-mana. Di awali dengan demonstrasi di Menneapolis di Amerika.

Gelombang unjuk rasa makin lama kian meluas ke daerah lain di Amerika. Tak hanya di Amerika, bahkan unjuk rasa antirasisme itu berkembang ke beberapa penjuru dunia, seperti di Inggris dan Belanda. Pada 7 Juni di Inggris, massa yang berunjuk rasa di Bristol merubuhkan patung pedagang budak Edward Colston.

Pada 4 Agustus ledakan besar mengguncang Beirut yang mengakibatkan banyak orang terluka. Ledakan itu terjadi di daerah pelabuhan di mana terletak gudang yang menampung bahan peledak.

Ledakan itu juga mengakibatkan delapan ribu bangunan hancur, termasuk 50 bangunan kuno. Pemerintah setempat menyalahkan timbunan 2.750 ton amoniak nitrat di sebuah gudang sebagai penyebab ledakan. Ledakan yang terjadi di tengah krisis keuangan parah di Lebanon itupun memicu aksi protes masyarakat.

Pada Oktober, peristiwa kelam terjadi di Paris dan Nice, di mana terjadi pemenggalan kepala warga Prancis, salah satunya terhadap guru bernama Samuel Patty. Dia dipenggal muridnya yang berusia 18 tahun setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada sejumlah muridnya pada pelajaran kebebasan pers.

Peristiwa kriminal juga terjadi kepada tiga orang saat akan memulai beribadah misa pertama di Basilika. Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 29 Oktober 2020 mengatakan bahwa penikaman itu adalah "serangan teroris kelompok Islamis".

Pidato tersebut dianggap melukai sebagian besar perasaan umat Islam termasuk muslim Indonesia. Beberapa negara melakukan aksi memboikot produk Prancis. Di dalam negeri, aksi serupa pun digencarkan.

Presiden Jokowi yang didampingi Wakil Presiden KH Maruf Amin juga menyatakan mengecam keras pernyataan Macron tersebut yang disebut menghina Islam. Tak hanya mengecam Macron, Presiden juga mengecam tindakan brutal di Paris dan Nice yang telah memakan korban jiwa.

Selain peristiwa-peristiwa yang mengguncang tersebut, berita internasional juga diikuti dengan kabar gembira terpilihnya Kamala Harris untuk mendampingi Presiden Joe Biden. Kamala menjadi perempuan pertama yang menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Kamala tidak hanya mewakili kaum perempuan, tetapi juga mewakili kaum kulit gelap dan Asia. Narasi ini menjadi penting mengingat Amerika Serikat tengah dilanda isu rasisme, dan juga isu-isu kesetaraan gender selama kepemimpinan Presiden Donald Trump. Apalagi pada awal tahun Amerika Serikat menghadapi kampanye Black Lives Matters.

6. Video trending: Tilik dan Lathi
Film pendek Tilik yang berduras 32:34 menit menjadi primadona masyarakat Indonesia pada 2020. Berawal dari banyaknya perbincangan di Twitter, film yang sebenarnya sudah tayang di Youtube pada 2018 menjadi viral. Bu Tedjo, salah satu karater di film itu pun menjadi tanda pagar di media sosial. Hingga 30 Desember 2020, film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo telah ditonton hampir 25 juta kali.

Google pun mencatat, sepanjang 2020 film Tilik beradad diurutan pertama yang menjadi film paling dicari masyarakat Indonesia. Posisi tersebut mengalahkan beberapa drama Korea yang tren di Indonesia seperti Crash Landing On You dan The World of The Married.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati, seperti yang dikuti dari AntaraTV pada 21 Agustus 2020, mengatakan alasan mengapa film ini diminati masyarakat Indonesia karena film tersebut berhasil menjadi sarana hiburan dan kritik sosial bagi masyarakat. Film itu juga dipandang dapat mengubah cara pandang dan perilaku penonton di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Tilik menceritakan soal pergunjingan ibu-ibu desa tentang Dian yang menjadi kembang desa tersebut. Pergunjingan dilakukan di atas truk saat mereka berbondong-bondong ingin menjenguk Bu Lurah di salah satu rumah sakit di kota. Film ini pun menjadi "Top Trending Videos" di Youtube Indonesia.

Tak hanya film Tilik, video klip Lathi dari trio EDM Indonesia yaitu Weird Genius juga menduduki puncak Top Trending Videos versi Youtube Indonesia. Seperti Tilik, Lathi juga menjadi salah satu pencarian teratas untuk lirik lagu di Google. Lathi juga memecahkan rekor di Spotify Indonesia sebagai lagu lokal yang menjuarai tangga lagu Indonesia Top 50 dengan durasi terlama.

Lagu yang dirilis pada akhir Februari 2020 itu, berhasil bertahan selama enam minggu di puncak tangga lagu sejak 10 Mei 2020. Lagu ini juga berhasil memasuki tangga lagi di negara lain, mulai dari Singapura (nomor 1 di Singapore Viral 50 pada Juni 2020), Malaysia (nomor 1 di Malaysia Viral 50 pada Mei 2020), Hong Kong, hingga Taiwan.

Lathi menjadi ramai dibicarakan karena beredar tanda pagar LathiChallage di media sosial yang mendorong orang untuk membaut video Lathi versi mereka. Marestro tari Didik Nini Thowok juga ikut meramaikan #LathiChallange tersebut.

Baca juga: Jadi trending topik, "Bu Tejo" disebut mewakili ibu-ibu Indonesia

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

41 gugatan sengketa Pilkada gunakan dalil pelanggaran TSM

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar