Artikel

Napas panjang menghadapi pandemi

Oleh Sri Muryono

Napas panjang menghadapi pandemi

Pekerja melakukan bongkar muat Envirotainer berisi vaksin COVID-19 buatan Sinovac setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (31/12/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pras.

Pemerintah Indonesia telah memesan jutaan dosis vaksin, 1,2 juta di antaranya telah tiba pada 6 Desember lalu dan selanjutnya menyusul pada Desember 2020 dan Januari 2021
Jakarta (ANTARA) - Sebuah rekaman video beredar luas di masyarakat melalui grup-grup aplikasi percakapan dan media sosial pekan lalu.

Dalam video berdurasi tiga menit 21 detik itu terlihat seorang sedang berjalan menyusuri jalan dan gang di permukiman warga di Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Dia menyapa warga lalu membagikan beras dalam kemasan masing-masing dua kilogram (kg). Dia lalu merogoh kantong baju dan memberikan Rp100 ribu sebagai uang untuk membeli lauknya.

Aksi sosialnya mendapat apresiasi dari banyak orang. Dia adalah Habib Hasan Mulachela, tokoh masyarakat yang sering berbagai kepada warga kurang mampu tanpa memandang latar belakang, baik suku maupun agama.
 
Aksinya menebar kebaikan dengan berbagi bahan kebutuhan pokok itu terasa bermakna saat ini. Krisis kesehatan akibat wabah virus corona berujung pada persoalan amat serius di bidang ekonomi di setiap negara.

Miliaran orang di dunia sedang berjibaku agar terhindar dan terbebas dari cengkeraman virus. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial, wabah ini menggugah banyak orang menyatukan semangat untuk menghadapinya bersama-sama.

Gotong-royong dan menguatkan nilai-nilai kemanusiaan bergelora dalam beragam bentuk dan caranya. Bersinergi dan berkolaborasi agar tangguh dalam menghadapi pandemi ini.

Baca juga: 1,8 juta dosis vaksin COVID-19 dari Sinovac tiba di Indonesia
Baca juga: Menkes: Vaksin segera didistribusikan ke 34 provinsi
Truk yang membawa Envirotainer berisi vaksin COVID-19 Sinovac tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (31/12/2020). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Vaksin
Jika dilihat kembali rangkaian informasi dari beragam platform media, wabah virus corona (COVID-19) telah setahun. Bermula dari Kota Wuhan di China pada November-Desember 2019, lalu menyebar ke seluruh dunia mulai Januari 2020.

Virus ini dinyatakan mulai melanda Indonesia pada 2 Maret 2020. Saat itu baru terdeteksi menginfeksi dua warga Depok (Jawa Barat) yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianto Saroso (Jakarta Utara).

Jumlah pasiennya kian hari kian bertambah, baik yang baru dinyatakan positif terpapar, dalam perawatan maupun yang meninggal dunia. Meskipun jumlah yang sembuh juga terus bertambah dan pertambahan angka kasus baru fluktuatif (kadang naik kadang turun), tetapi secara umum grafik dan kurva kasus terus naik.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 hingga Kamis (31/12) pukul 12.00 WIB, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia telah sebanyak 743.198. Dari jumlah itu, 109.963 pasien dalam perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri.

Sebanyak 611.097 pasien telah dinyatakan sembuh. Sedangkan pasien yang meninggal dunia sebanyak 22.138 orang.

Harapan terbentang luas untuk segera mengakhiri pagebluk ini dengan telah berhasil diciptakannya vaksin. Sejumlah perusahaan di dunia telah memproduksi vaksin yang diyakini bakal mampu menangkal virus corona.

Beberapa negara pun mulai menyuntikkan vaksin kepada warganya. Pemerintah Indonesia telah memesan jutaan dosis vaksin, 1,2 juta di antaranya telah tiba pada 6 Desember lalu dan selanjutnya menyusul pada Desember 2020 dan Januari 2021.
 
Kemudian sebanyak 1,8 juta dosis vaksin buatan perusahaan farmasi asal Tiongkok, Sinovac, tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Kamis sekitar pukul 12.00 WIB. Vaksin tersebut diangkut menggunakan pesawat Garuda Indonesia dan merupakan paket pengiriman vaksin Sinovac ke-2.

Hadirnya vaksin menjadi pengharapan yang demikian tinggi untuk segera berakhirnya wabah ini. Namun di sisi lain kini justru muncul informasi mengerikan tentang mulai merebaknya virus corona varian baru yang diidentifikasi lebih cepat menular dibanding yang telah ada.

Sejumlah negara kembali menutup perbatasannya dengan negara lain serta membatasi secara ketat mobilitas orang antarnegara. Pemerintah Indonesia juga mengambil kebijakan yang sama mulai akhir Desember 2020.

Baca juga: Pengiriman paket saat Harbolnas 12.12 melonjak 30-40 persen
Baca juga: JNE-SBM ITB bangun laboratorium bisnis cetak entrepreneur masa depan
Petugas JNE Cabang Dharmasraya melayani pengiriman kendaraan sepeda motor konsumen. (Antara/Ho-Myd)

Pengadaan
Dalam situasi perkembangan seperti itulah penanganan dan penyebaran virus corona di dunia maupun di Indonesia. Meski tetap harus optimis atas upaya mengatasinya, namun tampaknya masih terlalu dini untuk memprediksi wabah ini segera berakhir dalam waktu dekat.

Selama ini vaksin memang menjadi pengharapan sangat tinggi untuk menghentikan penyebaran virus corona. Tetapi barangnya baru sebagian yang sampai di negeri ini.

Sedangkan berharap pada vaksin produksi dalam negeri juga masih butuh waktu. Kebutuhan vaksin pun mengandalkan pasokan dari negara lain.

Sejauh ini, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin, Pemerintah Indonesia telah mengamankan 660 juta dosis. Pengadaannya melalui jalur bilateral maupun multilateral sehingga lima produsen siap memasok, yakni Sinovac, Novavax, COVAX/GAVI, AstraZeneca dan Pfizer/BioNTech.

Dengan baru ada tiga juta dosis dari 660 juta dosis yang dibutuhkan, maka kehadiran vaksin untuk masyarakat tampaknya masih butuh waktu beberapa bulan mendatang. Karena itu, tak berlebihan kiranya dikatakan lagi bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi wabah ini berakhir dalam waktu dekat.

Kini yang perlu terus dilakukan adalah mencegah penukaran virus lebih luas lagi. Penerapan protokol kesehatan 3M, yakni mengenakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Baca juga: Pembayaran digital GoPay bisa dinikmati di ribuan gerai JNE
Baca juga: JNE optimis target satu juta pengiriman barang per hari tercapai
Warga sedang mengirim paket di kantor JNE di Jalan Raya Pekayon, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/12/2020). (ANTARA/Sri Muryono)

Kolaborasi
Di banyak negara, dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir sebenarnya penyebaran COVID-19 telah bisa dikendalikan. Itu berkat kerja keras pemerintah dan semua elemen masyarakatnya.

Di Indonesia, sinergi dan kolaborasi antarinstansi pemerintah, antara pemerintah dengan masyarakat serta antarmasyarakat untuk menghadapi wabah juga kuat. Kalangan dunia usaha berada dalam pusaran kolaborasi itu.

Wujudnya berupa gotong-royong melalui peran masing-masing. Untuk urusan ini, Indonesia tak kekurangan sumber daya yang dibutuhkan.
 
Kisah Habib Hasan di Solo hanyalah sekelumit dari banyak sekali fakta tentang peran lembaga dan warga dalam mengambil bagian pada perang melawan virus corona. Caranya bisa beragam bentuk tetapi muaranya sama, yakni menghentikan penyebaran COVID-19 dan meringankan beban warga yang sangat terdampak.

Aksi-aksi sosial berlandaskan kemanusiaan pun tumbuh subur dimana-mana. Selain tumbuh, juga beragam; dari sekedar berbagi makanan siap saji hingga bahan pangan atau bahan kebutuhan pokok.

Tak sedikit pula munculnya mobilisasi bantuan peralatan kesehatan; dari masker, tes cepat (rapid test) dan tes usap (swab test) hingga alat pelindung diri (APD). Juga pengiriman logistik untuk mendukung kegiatan penanganan virus ini.

Aksi berbagi kebutuhan pokok di antara warga sering terlihat sejak awal hingga kini. Langkah menebar kebaikan seperti itu yang perlu terus dilakukan mengingat grafik dan kurva korban pandemi ini berikut dampaknya masih meningkat.
 
Baca juga: Perluas titik layanan, JNE tambah pergudangan di Denpasar
Baca juga: Menguji keikhlasan tanpa batas
Pembagian paket sembako bagi penyandang tunanetra di Denpasar oleh JNE, Kamis (31/12/2020). (Antara/Ayu Khania Pranisitha/2020)

Berperan
Badan-badan usaha adalah entitas yang tak luput dari dampak pagebluk ini. Tak sedikit yang akhirnya terpaksa harus menerima kenyataan terpahit.

Tetapi tak sedikit pula yang bisa bertahan bahkan terus berkembang, lalu mengambil peran penting dalam simponi kebersamaan mengatasi masalah ini. Mereka (baik milik negara maupun swasta) seperti lokomotif bagi terwujudnya kelancaran penanganan krisis kesehatan.

Salah satunya ditunjukkan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang juga ikut memberi perhatian serius pada upaya mengatasi wabah ini. Itu dilakukan sejak awal pandemi hingga kini dan diyakini terus-menerus sampai wabah teratasi.

Dari laman perusahaan ini tergambar jelas perannya dalam keikutsertaan mengatasi pandemi dan dampaknya di masyarakat. JNE pun melakukan berbagai langkah untuk mencegah penyebaran virus corona sekaligus mempertahankan kualitas pelayanan.

Presiden Direktur JNE, M. Feriadi mengatakan, langkah pencegahan penyebaran virus corona dijalankan dengan dimulai dari diri sendiri, yaitu internal perusahaan. Diawali dengan peningkatan kebersihan untuk menjaga kesehatan para ksatria dan srikandi JNE yang terus mengemban amanah pengiriman semua paket pelanggan di tengah situasi saat ini.

Feriadi menambahkan bahwa proses pengiriman JNE hingga saat ini masih berjalan normal. “Hal tersebut karena, selain pelanggan retail yang diimbau pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, JNE pun harus selalu siap memenuhi kebutuhan banyak pelanggan perusahaan, termasuk perusahaan di bidang kesehatan dengan jenis paket berupa alat kesehatan mau pun obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat,” katanya, 17 Maret lalu.

Baca juga: Yayasan Sinar Mas-Benihbaik.com-JNE ajak masyarakat donasikan Al Quran
Baca juga: DKI percayakan Baznas salurkan bantuan Rp1 miliar
JNE menggelar Harbokir atau Hari Bebas Ongkos Kirim dengan tema "Bahagia Bersama" yang tiap tahun dirayakan dalam rangka perayaan hari ulang tahun JNE yang ke-30 tahun untuk pelanggan setianya selama dua hari, yaitu pada tanggal 26 hingga 27 November 2020. (HO/Humas JNE)

Beragam
Tidak saja terkait bisnis, JNE banyak melakukan aksi kemanusiaan. Sebut saja pada 26 Maret 2020 JNE membantu 13 ribu butir vitamin bagi relawan PMI Jakarta Pusat yang diserahkan oleh Edy Widianto dari HSE (Healthy & Safety Enviroment) Dept. JNE dan diterima oleh Ketua Markas PMI Jakarta Pusat Edward Bachtiar di Markas PMI Jl. Pecenongan Nomor 82 Jakarta Pusat.

Pada 3 April, JNE menyalurkan 10 ribu masker ke-25 rumah sakit rujukan pasien virus corona di berbagai kota di Indonesia, termasuk DKI Jakarta. Masker-masker untuk para tenaga medis tersebut tersedia berkat kegiatan penggalangan donasi lewat platform online kitabisa.com oleh Adib Hidayat yang merupakan seorang penulis dan pengamat musik Indonesia.

Pada 6 April, JNE bantu distribusi APD Anne Avantie untuk paramedis secara gratis. Kemudian pada 10 April, memberikan diskon biaya kirim APD sebesar 50 persen dengan menggunakan layanan JNE Trucking (JTR) dan menyantuni 33 panti asuhan dan dua pondok Pesantren Tahfiz di Pekanbaru (Riau) pada 21 April.

Langkah ikut memerangi pandemi COVID-19 terus dilakukan oleh JNE. Kali ini, donasi sebesar Rp1 miliar kepada Pemprov DKI Jakarta untuk membantu program-program penanganan wabah virus corona yang berdampak ke seluruh warga ibukota. Pemberian donasi dilaksanakan pada Jumat 24 April 2020 jam 13.00 WIB di Balai Kota DKI Jakarta.

Aksi kemanusiaan juga dilakukan di berbagai daerah. Seperti di Bandar Lampung, Sukabumi, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Tidak saja terkait wabah, bantuan juga untuk korban kekeringan di Gunung Kidul, korban letusan Gunung Sinabung serta korban banjir bandang di Sukabumi.

Seperti disampaikan Feriadi, upaya memerangi virus corona harus dilakukan dengan kerja sama dan gotong-royong. JNE yang telah
30 tahun dalam kiprahnya ingin menjadi entitas yang semakin bermanfaat bagi masyarakat termasuk di tengah pandemi ini.

#jne
#jne30tahun
#connectinghappiness
​​​​​​​
#30tahunbahagiabersama

Oleh Sri Muryono
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Operasi Ketupat Semeru 2021 ikut hadang varian baru virus corona

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar