Pegiat: Normalisasi sungai harus melalui gerakan 3M

Pegiat: Normalisasi sungai harus melalui gerakan 3M

Pohon bengalon, salah satu jenis pohon yang ditanam oleh Komunitas GMSS-SKM di Sungai Karang Mumus Samarinda. ANTARA/M Ghofar/am.

Samarinda (ANTARA) -
Pegiat Sungai Karang Mumus Samarinda Provinsi Kalimantan Timur menyatakan normalisasi sungai untuk menghasilkan sumber air yang bersih dan berkualitas harus melalui gerakan 3M, yakni memulihkan, menjaga, dan merawat.
 
"Cara memulihkannya antara lain dengan penanaman. Berbagai pohon yang tingginya di kisaran 4-6 meter ini merupakan bibit yang kami tanam sejak empat tahun lalu," ujar Misman, Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda di Samarinda, Sabtu.

Baca juga: Lembaga Lingkungan Hidup Aisyiyah Magelang tanam ratusan pohon
 
Di riparian SKM sekitar Sekolah Sungai dalam Kecamatan Samarinda Utara ini meski sudah ada ribuan pohon yang ditanam sejak empat tahun lalu, namun hingga kini ia bersama sejumlah warga yang peduli masih tetap menanam karena di jalur hijau SKM itu belum semua tertanam.
 
Munculnya gerakan 3M diawali dari visi untuk mengembalikan sungai seperti dulu, yakni ketika ia masih anak-anak yang sering mandi di sungai dan mengkonsumsi air dari SKM, karena saat itu sungainya belum tercemar.

Baca juga: Aqua Berastagi tanam 3.725 pohon demi hijaukan Tahura Bukit Barisan
 
Misi pertama yang dilakukan untuk mewujudkan visi ini adalah melalui gerakan "memulihkan", salah satunya dengan melakukan penanaman pohon di palung, tepi, dan daerah aliran sungai (DAS).
 
"Banyak manfaat yang didapat dari penanaman pohon ini, antara lain sampah yang hanyut di sungai akan tersangkut di pepohonan yang kemudian kami pungut, karena sungai bukan tempat sampah, tapi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lain," ucap Misman.

Baca juga: Indonesia-AstraZeneca tanam 20 juta pohon dukung lingkungan sehat
 
Sedangkan pohon yang ada di riparian maupun DAS, antara lain berfungsi sebagai penahan abrasi dan penyaring air alami dari berbagai toksin, sebelum akhirnya dialirkan ke sungai sehingga menghasilkan air bersih, kontinyu, dan berkualitas.
 
"Alhamdulillah, masih ada beberapa orang yang peduli terhadap sungai sehingga terkadang mereka ke sini membantu menanam dan merawat. Ini merupakan gerakan sosial dan tidak ada yang membayar, maka kita tidak bisa memaksa orang untuk peduli," tutur dia.
 
Sedangkan gerakan "menjaga" merupakan hal yang harus dilakukan setiap hari, karena jika tidak dijaga, maka pohon-pohon tersebut akan ditebang orang, mengingat hanya sedikit orang yang paham manfaat tumbuhan dan tanaman dalam DAS.
 
Untuk gerakan "merawat" lanjutnya, semua bibit yang telah ditanam maupun yang tumbuh secara alami, rutin dilakukan perawatan baik penyiraman, penyulaman, maupun penyiangan, termasuk menanam di lokasi terdekat dari Muang.
 
"Berbagai pohon yang ditanam di kawasan ini terdiri dari berbagai jenis, mulai pohon lokal seperti kratom, rengas, bengalon, dan pohon ara. Bahkan berbagai pohon buah pun ada dan sudah beberapa kali panen seperti jambu, sirsak, anona, dan lainnya," ujarnya.
 

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada kaum milenial di balik gerak sukses UMKM di Balige

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar