Aksi mogok perajin tahu dan tempe se-Jabodetabek berakhir Minggu

Aksi mogok perajin tahu dan tempe se-Jabodetabek berakhir Minggu

Pekerja membuat tahu di sebuah industri kecil rumahan, Kelurahan Brojolan, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (2/1/2021). Perajin tahu mengaku pendapatannya menurun drastis akibat sejak dua bulan terakhir harga kedelai terus mengalami kenaikan dari Rp7.800 per kilogram menjadi Rp9 ribu per kilogram. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/wsj.

harapan pemerintah mendengar keluhan sehingga mengeluarkan kebijakan agar harga kedelai bisa kembali normal
Depok (ANTARA) - Aksi mogok produksi yang dilakukan perajin tahu dan tempe wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) yang berlangsung sejak  Kamis (31/12) dipicu naiknya harga kedelai akan berakhir pada  Minggu (3/1).

Ketua Bidang Hukum Sedulur Perajin Tahu Indonesia (SPTI), Fajri Safii dalam keterangan tertulis, Sabtu mengatakan aksi mogok produksi tersebut  terpaksa dilakukan mengingat harga kedelai naik hingga 35 persen.

Baca juga: Produsen tahu tempe DKI mogok produksi mulai Jumat ini

Para perajin tahu dan tempe itu melakukan aksi mogok produksi dengan harapan  pemerintah mendengar keluhan sehingga mengeluarkan kebijakan agar harga kedelai bisa kembali normal.

Menurut Fajri, saat ini lonjakan harga kedelai mencapai kisaran Rp9.000 sampai Rp10.000. Sedangkan, harga kedelai pada bulan lalu, ungkapnya Fajri, hanya di kisaran Rp7.000 sampai Rp7.500.

"Kenaikan harga kedelai sebesar itu menyebabkan para perajin tahu mogok produksi karena tidak sanggup lagi membeli kedelai," kata Fajri Safii.

Baca juga: Mau belajar membuat tempe, ada Rumah Tempe Indonesia di Bogor

"Kalau melihat Peraturan Menteri Perdagangan nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 tentang ketentuan import kedelai dalam rangka stabilitas harga kedelai. Peraturan ini dianggap menghambat tumbuhnya importir-importir baru yang menyebabkan seseorang importir lama bisa semaunya menentukan harga, dan melakukan kesepakatan harga atau kesepakatan pembagian wilayah pemasaran. Hal ini jelas bertentangan dengan UU No.5 Tahun 1999 tentang Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha yang tidak sehat," ungkap Fajri.

Sementara, Ketua Umum Sahabat Perajin Tempe Pekalongan (SPTP) Indonesia, Haryanto mengaku tak sedikit para perajin yang tergabung dalam organisasinya banyak yang gulung tikar akibat dari kenaikan harga kedelai.

Baca juga: Pengusaha tahu keluhkan kenaikan harga kedelai impor

Perajin tahu dan tempe asal Pekalongan yang kini tinggal di Tangerang, itu berharap kepada pemerintah untuk bisa menekan kembali harga kedelai seperti semula.

"Dengan adanya kenaikan harga kacang kedelai impor yang sangat tinggi dari Rp7.000 menjadi Rp9.500 per kilonya telah menimbulkan keresahan. Lonjakan harga ini membuat para perajin gulung tikar. Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan kembali harga seperti semula," kata Haryanto.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Satgas Pangan Polri ungkap penyebab harga kedelai melonjak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar