BPS: Nilai Tukar Petani Desember 2020 naik 0,37 persen

BPS: Nilai Tukar Petani Desember 2020 naik 0,37 persen

Petani membajak sawah di Desa Pasuruan Kidul, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (13/12/2020). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/rwa.

Indeks yang diterima petani meningkat 0,82 persen sementara yang dibayarkan meningkat 0,44 persen
Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2020 naik 0,37 persen sebesar 103,25 dibandingkan NTP November 2020 sebesar 102,86.

Kenaikan NTP pada Desember 2020 disebabkan oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani yang naik sebesar 0,82 persen, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,44 persen.

"Indeks yang diterima petani meningkat 0,82 persen sementara yang dibayarkan meningkat 0,44 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam paparan secara virtual di Jakarta, Senin.

Setianto menjelaskan kenaikan NTP secara keseluruhan tidak diiringi dengan tren positif untuk seluruh sektor.

Di sektor tanaman pangan, indeks yang diterima petani turun 0,05 persen, sedangkan indeks yang dibayar naik 0,49 persen, sehingga ada perubahan minus 0,54 persen dengan komoditas yang mendominasi penurunan indeks tanaman pangan yakni gabah, ketela pohon dan ketela rambat.

Sementara subsektor tanaman hortikultura tercatat naik 1,01 persen karena indeks yang diterima petani di sektor tersebut sebesar 1,34 persen, sedangkan indeks yang dibayarkan hanya 0,33 persen.

"Komoditas yang mempengaruhi kenaikan indeks yang diterima petani hortikultura adalah cabai rawit, cabai merah, tomat, kol, kubis, wortel, kentang, jeruk, ketimun, terong, dan cabai hijau. Sementara komoditas yang menghambat indeks yang diterima petani hortikultura adalah bawang merah, bawang daun, salak, apel, mangga, labu siam, sawi putih, pisang, dan alpukat," katanya.

Setianto menyebutkan kenaikan NTP untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat 1,63 persen. Indeks yang diterima petani perkebunan rakyat sebesar 2,10 persen, sedangkan indeks yang dibayarkan hanya 0,45 persen.

Ada pun komoditas yang mempengaruhi kenaikan indeks yang diterima petani, antara lain kelapa sawit, karet, cengkeh, kakao, kelapa, pala biji, lada, merica, tebu, pinang, dan kemiri. Sedangkan komoditas yang menjadi penghambat di antaranya kopi, teh, vanili dan jambu mete.

Sementara itu, untuk peternakan mengalami kenaikan 0,41 persen dikarenakan ada kenaikan indeks yang diterima peternak sebesar 0,79 persen, lebh besar dari indeks yang harus dibayarkan peternak sebesar 0,38 persen.

Komoditas yang mempengaruhi kenaikan adalah ayam ras pedaging, telur ayam ras, ayam kampung, sapi perah, kerbau, ayam telur, itik, dan bebek. Sementara yang menghambat adalah sapi potong dan kambing.

Tren positif juga dialami sektor perikanan yang mengalami kenaikan total 0,86 persen karena kenaikan indeks yang diterima nelayan baik budidaya dan laut di mana ada kenaikan indeks yang diterima sebesar 1,13 persen, lebih besar dari indeks yang dibayarkan sebesar 0,27 persen.

Komoditas yang mempengaruhi kenaikan indeks yang diterima nelayan yaitu bandeng, tongkol, cakalang, teri, cumi dan kembung. Sementara yang menghambat adalah rumput laut dan lais.

Nilai tukar nelayan naik 1,03 persen karena adanya kenaikan indeks yang diterima nelayan sebesar 1,29 persen lebih besar dari indeks yang dibayarkan sebesar 0,26 persen. Komoditas yang mempengaruhinya yaitu ikan tongkol, cakalang, teri, cumi, kembung, kakap, selar dan rajungan. Sedangkan komoditas yang menghambat kenaikan diantaranya lais, selanget dan patin.

Untuk nilai tukar pembudidaya ikan tercatat meningkat 0,58 persen karena kenaikan indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan sebesar 0,89 persen, lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayarkan pembudidaya sebesar 0,30 persen.

"Komoditas yang mempengaruhi kenaikan bandeng payau, ikan mas, nila tawar, lele tawar, gurame, patin payau, udang payau. Yang menghambat kenaikan indeks yang diterima yaitu rumput laut," katanya.

Sementara itu, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) yang merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal pada Desember 2020 sebesar 104,00 atau naik 0,70 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Kenaikan NTUP secara keseluruhan didukung oleh kenaikan NTUP di subsektor hortikultura yang meningkat 1,32 persen, disusul kenaikan tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,04 persen, peternakan 0,56 persen, dan perikanan 1,04 persen. Sedangkan NTUP subsektor tanaman pangan masih mengalami penurunan sebesar 0,19 persen.

Baca juga: Harga gabah dan beras premium turun pada November 2020
Baca juga: NTP November 2020 naik tipis
Baca juga: Peneliti: Pandemi COVID-19 semakin turunkan nilai tukar petani

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Malam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar