Dolar jatuh saat kenaikan yuan mengangkat mata uang berisiko

Dolar jatuh saat kenaikan yuan mengangkat mata uang berisiko

Ilustrasi - Dolar AS di Tumpukan Yuan China. ANTARA/Shutterstock/pri.

New York (ANTARA) - Dolar Amerika jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah keputusan China menaikkan nilai tukar yuan resminya dengan margin tertinggi sejak meninggalkan patokan dolar pada 2005, sementara pemilihan putaran kedua Senat AS di negara bagian Georgia juga menjadi fokus.

Bank sentral China menetapkan kurs tengah yuan resmi pada 6,4760 per dolar AS sebelum pasar dibuka, naik satu persen dari penetapan sebelumnya, penyesuaian lebih tinggi terbesar sejak 2005.

Di pasar luar negeri, yuan menguat ke setinggi 6,4119 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni 2018. Yuan mengawali perdagangan minggu ini pada 6,494 yuan per dolar.

Dolar sempat menguat dalam langkah risk-off (penghindaran risiko) pada Senin (4/1/2021) karena saham Amerika (AS) turun, tetapi melanjutkan jalur penurunannya setelah pengumuman China, yang juga membantu mengangkat mata uang berisiko. Setelah awalnya dibuka lebih rendah pada Selasa (5/1/2021), saham AS rebound yang semakin mengurangi daya tarik dolar, dengan prospek pemilihan putaran kedua Senat AS di Georgia menarik perhatian yang terlalu besar.

Kemenangan Demokrat di negara bagian Georgia dapat mengambil kendali Senat dari Partai Republik, membuka jalan bagi langkah-langkah stimulus lebih lanjut serta pajak perusahaan yang lebih tinggi dan lebih banyak peraturan.

"Ada perbedaan pandangan yang besar tentang pemilihan di Georgia ini, orang-orang agak bingung sejauh apa yang akan menjadi hasil di sini," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

"Akan ada optimisme untuk rebound pada dolar, itu tidak bisa dihindari, pertanyaannya berapa lama, tetapi Anda akan melihat penentuan posisi berlebihan atas taruhan bearish pada dolar ini harus dibatalkan."

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, turun 0,486 persen menjadi 89,429. Greenback telah jatuh dalam dua sesi pertama 2020 setelah penurunan hampir tujuh pada 2020 mencapai level yang belum pernah terlihat sejak April 2018.

Bursa Efek New York mengatakan tidak lagi bermaksud untuk mencopot pencatatan tiga perusahaan telekomunikasi China. Pembalikan mengejutkan dari pengumuman yang dibuat minggu lalu menambah kebingungan atas tindakan keras AS terhadap perusahaan yang dikatakan terkait dengan militer China.

Dolar Aussie, barometer sentimen risiko yang juga cenderung mengikuti yuan, melonjak 1,4 persen menjadi 0,7772 dolar, setelah naik ke 0,77775 dolar, level tertinggi sejak April 2018.

Euro menguat 0,42 persen menjadi 1,23 dolar, sementara yen Jepang menguat 0,45 persen terhadap greenback di 102,64 per dolar.

Sterling diperdagangkan terakhir pada 1,363 dolar, naik 0,45 persen, setelah digerogoti oleh lonjakan infeksi varian baru virus corona yang menyebar cepat di Inggris, dengan pemerintah menyerukan penutupan nasional ketiga dalam upaya untuk mengekang penyebaran.

Sterling jatuh 0,73 persen pada Senin (4/1/2021), terbesar sejak 10 Desember, setelah sebelumnya menguat menjadi 1,3703 dolar, level yang tidak terlihat sejak Mei 2018.

Bitcoin diperdagangkan pada 34.077,96 dolar, melonjak 6,41 persen, mengikuti perjalanan roller-coaster yang membawanya ke rekor tertinggi 34.800 dolar pada Minggu (3/1/2021) dan selanjutnya jatuh ke level 27.734 dolar pada sesi berikutnya.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mendag: mata uang digital tidak diperbolehkan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar