Epidimiolog: Penggunaan masker lebih efektif daripada vaksin

Epidimiolog: Penggunaan masker lebih efektif daripada vaksin

Ilustrasi - Seorang bocah melintas di depan mural tentang penggunaan masker di Kota Tangerang, Banten, Ahad (21/12/2020). Mural tersebut dibuat sebagai edukasi kepada masyarakat untuk selalu menggunakan masker guna mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Fauzan/aww/aa. (ANTARA FOTO/FAUZAN)

Jakarta (ANTARA) - Pakar epidemiologi dari University of North Carolina- Chapel Hill Amerika Serikat Juhaeri Muchtar mengatakan penggunaan masker lebih efektif menurunkan angka kasus COVID-19 dibandingkan vaksin.

“Dari The Institute for Health Metrics and Evaluation (covid19.healthdata.org), menunjukkan bahwa penggunaan masker diproyeksi akan mampu menurunkan jumlah kasus mulai dari akhir Desember 2020, dan akan terus turun di April 2021,” ujar Juhaeri dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dalam webinar yang diselenggarakan Sekolah Gemala Ananda itu, Juhaeri menambahkan jika semua orang pakai masker maka bisa langsung menurun jumlah kasus COVID-19 pada April 2021.

“Kalau penggunaan vaksin bisa segera diaplikasikan, maka memuncak di bulan Februari 2021, dan kemudian menurun. Ini digunakan oleh pemerintah Amerika untuk memprediksi ke depannya bagaimana,” kata Juhaeri.

Baca juga: Epidemiolog: Patuhi prokes meski vaksin akan dijalankan

Baca juga: 1.227 Nakes di Sangihe segera di vaksin COVID-19


Dia menambahkan penggunaan masker lebih efektif dibandingkan vaksin, karena sebetulnya vaksin yang diuji klinis, kalau sudah (beredar) di masyarakat belum tentu keefektifannya mencapai 95 persen.

“Kalau masker, bisa langsung menurunkan (kasusnya) sekarang. Kalau vaksin, perlu waktu untuk distribusi, administrasi, dan untuk menunggu imunitas. Makanya, masker itu jauh lebih mudah dan efektif. Dua-duanya perlu, cuma masker tinggal pakai sekarang, sementara vaksin perlu waktu,” imbuh dia.

Juhaeri pun memaparkan pandemi di dunia yang terjadi pada masa sebelum sekarang, semisal pandemi “Spanish Flu” pada tahun 1918, yang mungkin yang paling mematikan di abad 20. Sebanyak 50 juta orang meninggal akibat pandemi tersebut. Menurut Juhaeri, pandemi COVID- 19 berasal dari binatang, dan informasi itu juga menangkal isu yang mengatakan bahwa pandemi kali ini adalah rekayasa genetik dari sebuah laboratorium.

“Kalau saya bilang enggak, karena ini bukan hal pertama juga. Kita tahu yang sejenis ini mulai dari Rift Vallet Fever Virus di tahun 1931. Terus, terjadi berkali-kali sampai sekarang,” kata dia lagi.

Co inisiator Pandemic Talks, dr Muhammad Kamil PhD. mengatakan jumlah anak Indonesia yang terinfeksi COVID- 19 hingga 20 Desember 2020 yakni telah mencapai 74.249 kasus.

“ Mungkin data-data saat ini tidak merepresentasikan kondisi sebenarnya, dan indikasi-indikasi variabel yang ada kalau dilihat lebih dalam, jelas Indonesia lebih buruk. Tapi, dengan database yang ada, kita bisa lihat bahwa unik banget di Indonesia ini. Kasus untuk anak 0-18 tahun mencapai 74.249 kasus. Ini bahkan lebih besar dibandingkan total kasus di beberapa negara, seperti Thailand, yang semua umurnya saja tidak mencapai 70-an ribu kasus,” kata Kamil.*

Baca juga: Kepri peringkat keempat patuh gunakan masker secara nasional

Baca juga: Masker transparan ini dilengkapi kipas mini dan baterai


Pewarta: Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kepatuhan rendah, Ridwan Kamil sosialisasi penggunaan masker di Tasikmalaya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar