Biden berencana percepat pelepasan vaksin COVID-19 ke negara bagian

Biden berencana percepat pelepasan vaksin COVID-19 ke negara bagian

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden . ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar/wsj/cfo.

Saya juga akan menambahkan bahwa masalahnya bukan soal pasokan tapi kemampuan untuk benar-benar memberikan vaksin secara fisik, jadi ini perlu dibarengi dengan kemampuan mendirikan klinik vaksinasi, lokasi vaksinasi massal, dan melatih para pemberi v
New York (ANTARA) - Presiden terpilih Joe Biden mungkin mempercepat distribusi vaksin COVID-19 ke negara bagian AS, kata seorang juru bicara pada Jumat (8/1), untuk memulai inokulasi yang belum terlaksana yang berdampak kecil pada pandemi sepekan memasuki tahun baru.

Langkah Biden itu ketika dia menjabat dalam waktu kurang dari dua minggu akan menjadi penyimpangan dari strategi pemerintahan Trump yang menahan pasokan untuk memastikan bahwa dosis kedua vaksin yang diperlukan tersedia.

Langkah itu juga mengharuskan Pfizer Inc dan mitranya BioNTech SE dan Moderna Inc, pembuat dari dua vaksin virus corona pertama yang resmi untuk digunakan di Amerika Serikat, dapat mempertahankan pasokan yang konsisten sehingga suntikan kedua masih dapat diberikan sesuai jadwal.

"Presiden terpilih percaya kami harus mempercepat distribusi vaksin sambil terus memastikan orang Amerika yang paling membutuhkannya mendapatkannya secepat mungkin," kata TJ Ducklo, juru bicara transisi Biden, kepada Reuters.

Hingga Jumat, sekitar 6 juta orang di seluruh Amerika Serikat telah menerima suntikan pertama dari dua suntikan, terhitung kurang dari sepertiga dari lebih dari 21 juta dosis yang dikirim hingga saat ini, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Beberapa mulai mendapatkan dosis kedua minggu ini.

Jumlah itu jauh dari 20 juta vaksinasi yang telah dijanjikan oleh pemerintahan Trump pada akhir 2020 saat pandemi tidak terkendali dengan rekor jumlah infeksi, rawat inap, dan kematian yang terus meningkat.

"Tujuannya harus untuk mengeluarkan vaksin dari ruang penyimpanan dan sampai ke tangan masyarakat, dan saya pikir kita harus mendapatkan dosis pertama dan mengandalkan proses manufaktur untuk memberikan dosis kedua tepat waktu," kata Dr. Amesh. Adalja, seorang sarjana senior di The Johns Hopkins Center for Health Security.

“Saya juga akan menambahkan bahwa masalahnya bukan soal pasokan tapi kemampuan untuk benar-benar memberikan vaksin secara fisik, jadi ini perlu dibarengi dengan kemampuan mendirikan klinik vaksinasi, lokasi vaksinasi massal, dan melatih para pemberi vaksin,” kata Adalja.

NEGARA PERLUAS PROGRAM VAKSIN

Kelambatan (distribusi vaksin) itu sebagian disebabkan oleh aturan ketat oleh negara bagian AS yang mengontrol siapa yang harus diinokulasi terlebih dahulu. Rencana itu diperumit oleh beberapa petugas kesehatan di garis depan yang menolak suntikan, membiarkan dosis tidak terpakai.

CDC mengatakan petugas perawatan kesehatan dan penghuni panti jompo serta staf harus mendapat prioritas untuk terbatasnya pasokan vaksin. Pada Jumat, badan itu mengklarifikasi bahwa mereka merekomendasikan negara bagian juga dapat beralih ke prioritas berikutnya: orang yang berusia di atas 75 tahun dan pekerja sektor layanan publik.

New York pada Jumat menjadi negara bagian terbaru yang memperluas peluncuran vaksinasi untuk orang lanjut usia, dengan pengumuman Gubernur Andrew Cuomo bahwa orang yang berusia 75 tahun ke atas dapat mulai menerima suntikan pekan depan.

New York mencatat lebih dari 38.000 kematian akibat COVID-19, lebih banyak dari negara bagian AS lainnya.

Di Texas, Florida dan Georgia, di antara beberapa lusin negara bagian yang telah memulai atau akan segera mulai menyuntik lansia yang rentan, orang berusia di atas 65 tahun memenuhi syarat untuk mendapatkan suntikan. Virginia Barat dan Indiana sejauh ini membatasi vaksin untuk mereka yang berusia di atas 80 tahun.

Virginia Barat memimpin negara itu dalam kecepatan inokulasi dosis pertama, setelah mengelola 59% dari pasokan vaksin yang dialokasikan, menurut data CDC.

Pandemi tidak menunjukkan tanda-tanda surut minggu ini, menewaskan lebih dari 4.000 orang di seluruh negeri untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis, atau satu nyawa hilang setiap 22 detik, menurut analisis Reuters terhadap data kesehatan masyarakat.

Dengan total lebih dari 365.000 kematian, satu dari setiap 895 penduduk AS telah meninggal karena COVID-19 sejak pandemi dimulai, menurut perhitungan Reuters. Kasus baru harian mencapai rekor 272.563 pada Kamis.

Lonjakan COVID-19 terbaru diperparah oleh penyebaran varian virus corona baru yang lebih menular yang pertama kali terdeteksi di Inggris yang kini telah ditemukan di setidaknya delapan negara bagian AS.

Lebih dari 132.000 orang Amerika dirawat di rumah sakit karena virus corona pada Kamis malam. Jumlah total kasus AS sejak pandemi mulai meningkat menjadi 21,5 juta, karena langkah-langkah mitigasi yang ketat semakin membebani ekonomi AS yang rapuh.

Hilangnya 140.000 pekerjaan nonpertanian pada Desember, yang dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja pada Jumat, terkonsentrasi di sektor rekreasi dan perhotelan. Wilayah ini sangat terpukul oleh pandemi, dengan penutupan bar dan restoran yang menyebabkan tiga perempat dari hilangnya pekerjaan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Ukraina perketat 'lockdown', tutup sekolah dan restoran

Baca juga: Warga Tokyo khawatir soal pelaksanaan Olimpiade

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Akademisi minta pemerintah hati-hati terhadap isu Papua

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar