Indonesia pimpin kenaikan sejumlah pasar saham Asia

Indonesia pimpin kenaikan sejumlah pasar saham Asia

Pengunjungi berjalan di samping layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz

dalam beberapa aspek, makro Asia memasuki 2021 dari posisi yang kuat
Bengaluru (ANTARA) - Indonesia memimpin kenaikan atas beberapa pasar saham Asia pada Senin, didukung oleh harapan kenaikan reflasi untuk ekonomi di seluruh kawasan dalam beberapa bulan ke depan, sementara saham Malaysia merosot menjelang pengumuman pembatasan baru virus corona.

Naik sebanyak 1,8 persen, saham-saham di Jakarta mencapai level tertinggi sejak September 2019 ketika prospek stimulus fiskal AS lebih lanjut menambah harapan untuk kawasan yang sejauh ini telah melewati tahun krisis lebih baik daripada banyak negara lain di Barat.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan Senat pekan lalu, telah membalikkan investor secara global kembali ke perdagangan yang bertaruh pada kenaikan harga-harga dan pertumbuhan tahun ini, permainan tradisional yang akan menguntungkan pasar negara berkembang yang tumbuh lebih cepat dan berisiko.

"Tema reflasi global akan menjadi dominan di kuartal pertama, dan dalam beberapa aspek, makro Asia memasuki 2021 dari posisi yang kuat," kata Duncan Tan, pakar suku bunga dan valas di DBS.

Namun demikian, janji "triliunan" dalam pengeluaran tambahan, juga telah mengirim imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi 10 bulan, mengangkat dolar dan menekan banyak mata uang negara berkembang.

Tan berargumen bahwa penguatan dolar AS lebih cenderung hanya berupa kenaikan jangka pendek.

Rupiah Indonesia - favorit di antara investor asing yang mencari obligasi negara dengan imbal hasil tinggi - turun 0,7 persen bersama dengan won Korea Selatan karena tertekan kenaikan dolar.

Bursa saham di Kuala Lumpur turun tajam ketika para pedagang bersiap menghadapi langkah-langkah baru untuk mengekang penyebaran kasus COVID-19 yang diharapkan lebih ditargetkan.

Produksi industri di Malaysia juga mengalami kontraksi secara tak terduga pada November, data menunjukkan, memperlemah sentimen. Citigroup mengatakan gelombang infeksi terbaru menimbulkan risiko jangka pendek terbesar dan memperkirakan ekonomi negara itu akan tetap lemah dalam bulan-bulan pertama tahun ini.

Sementara saham-saham Singapura juga turun 0,2 persen karena investor melakukan aksi ambil untung setelah indeks menembus level 3.000 poin pada Jumat lalu (8/1/2021).

Baca juga: IHSG awal pekan ditutup menguat di tengah koreksi bursa Asia
Baca juga: Saham Tokyo ditutup naik, ditopang penguatan saham Asia
Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat seiring positifnya mata uang Asia

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada stimulus bagi investor untuk gairahkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar