Artikel

Menyelami Laut Jawa demi korban tragedi Sriwijaya Air

Oleh Muhammad Zulfikar

Menyelami Laut Jawa demi korban tragedi Sriwijaya Air

Prajurit Batalyon Intai Amfibi 1 Korps Marinir (Yontaifib) bersiap melakukan operasi pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182 pada hari keempat di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (12/1/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww/pri.

Jarak pandang itu maksimal satu meter di kedalaman 18 hingga 20 meter
Jakarta (ANTARA) - Perihal takdir seorang insan baik itu langkah, pertemuan, jodoh, rezeki, perpisahan hingga maut ialah rahasia ilahi. Tidak satupun jiwa manusia yang mengetahui ataupun benar-benar mampu memprediksi serta memastikannya.

Layaknya suratan yang terjadi pada Sabtu (9/1) siang itu. Barangkali para penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tujuan Jakarta-Pontianak masih dalam keadaan sehat, riang dan gembira.

Setidaknya, luapan emosi positif itu terlihat jelas dari salah satu akun media sosial milik salah seorang korban yang diduga ikut menjadi penumpang pesawat nahas tersebut.

Ya, unggahan video singkat itu tampak nyata dalam akun media sosial milik Ratih Windania yang tersebar secara cepat di dunia maya. Dilihat dari data manifes, nama tersebut memang tercatat sebagai salah seorang penumpang.

Bahkan, akun tersebut sempat menuliskan kata-kata perihal ucapan "selamat tinggal keluarga semuanya, kita pulang kampung dulu". Benar saja, korban bersama anggota keluarga lainnya di Bandara Internasional Soekarno Hatta itu tidak menyadari bahwa sesaat kemudian maut akan menjemput. Demikianlah takdir.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal keberangkatan tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya yakni 13.35 WIB disebabkan faktor cuaca.

Tak berselang lama tepatnya pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ-182 rute Jakarta-Pontianak dilaporkan hilang kontak. Tak terbayangkan betapa nahasnya kala itu, dengan ketinggian sekitar 11.000 kaki serta saat menambah ketinggian di 13.000 kaki, "burung besi" itu malah jatuh seketika.

Sontak kejadian bak petir di siang bolong itu membuat masyarakat awam hingga media internasional sekalipun mengutip pemberitaan dari dalam negeri terkait tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Pada awal mula laporan kejadian, memang belum ada info pasti dari pesawat keluaran 1994 tersebut. Namun, masyarakat terutama keluarga korban telah was-was perihal berita yang menyebar begitu cepat.

Raut wajah para kerabat penumpang pesawat tersebut baik di Dermaga Jakarta International Container Terminal
(JICT), Jakarta maupun di ruang tunggu Terminal Kedatangan Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (9/1) tampak begitu sedih. Mereka berdoa sembari berharap ada keajaiban dari sang pencipta agar keluarga terkasih ditemukan dalam keadaan selamat.

Pencarian korban

Pada hari pertama pencarian memang belum membuahkan hasil yang begitu maksimal. Namun, beberapa nelayan lokal menemukan serpihan-serpihan yang diduga kuat merupakan bagian dari badan pesawat.

Pencarian oleh Basarnas, TNI, polisi serta dari berbagai unsur lainnya ditunda karena gelap mulai menyelimuti perairan Kepulauan Seribu yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Esoknya pada Minggu (10/1), pencarian dilanjutkan. Alhasil tim penyelam gabungan dari beberapa instansi pun menemukan serpihan pesawat serta bagian tubuh korban yang sudah tidak utuh.

Temuan tersebut tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa pesawat jenis boeing itu memang jatuh di sekitar perairan Kepulauan Seribu atau di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Putaran jarum jam terus berputar seiring tim SAR yang terus bekerja keras. Selang waktu berjalan, sejumlah kepingan-kepingan badan pesawat serta bagian jenazah terus ditemukan dari dasar laut.

Temuan-temuan itu dikirim ke JICT untuk diperiksa lebih lanjut. Khusus untuk bagian jenazah korban pesawat nahas itu dibawa ke Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Jakarta Timur untuk penanganan lebih detail.

Baca juga: KNKT: Pesawat Sriwijaya SJ 182 tidak meledak sebelum jatuh ke laut

Baca juga: Pencarian kotak hitam Sriwijaya Air mengerucut di lima titik



Perluas pencarian korban

Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Korpolairud) Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri pada akhirnya memperluas areal pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1).

"Areal ini kita perluas lagi. Kemarin petunjuk dari Bapak Kabarhakam bahwa areal ini diperluas," kata Dirpolair Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Yassin Kosasih di atas Kapal Polisi Bisma 8001.

Perluasan areal pencarian tersebut mengingat sudah memasuki hari keempat pascakejadian. Selain itu, pertimbangan arus bawah laut yang deras serta angin kencang menjadi faktor pendorong perluasan areal pencarian.

Pada hari keempat pencarian, Korpolairud menerjunkan 30 penyelam serta tambahan beberapa penyelam dari Direktorat Polisi Air Polda Banten serta Polda Jawa Barat.

Untuk teknis pencarian dilakukan secara bergantian dimana gelombang pertama terdiri atas tiga tim dengan total 30 penyelam dengan kurun waktu satu jam penyelaman.

Terombang ambing di laut lepas

Perjalanan dari markas Korpolairud Baharkam Polri menuju lokasi kejadian membutuhkan waktu sekitar dua jam menggunakan kapal cepat. Namun, untuk kapal jenis tertentu waktu perjalanannya dapat dipangkas sekitar 1,5 jam.

Jika cuaca sedang bersahabat, goncangan ombak dan angin laut mungkin tidak begitu terasa. Namun, bila tidak, maka konsekuensi mabuk laut tak dapat pula dihindari sebagaimana yang penulis alami bersama sejumlah "kuli tinta" lainnya.

Perjuangan terombang ambing di laut lepas tentunya tak apa kala diketahui saat hari ketiga pencarian itu para penyelam menemukan serpihan-serpihan pesawat Sriwijaya Air serta sejumlah "body part" atau bagian jenazah korban. Selain itu terdapat pula temuan berupa baju, seragam pramugari, tas, uang hingga gaun pengantin berwarna putih.

Baca juga: Sriwijaya Air akan antar jenazah korban sesuai kemauan keluarga

Baca juga: Keluarga korban Sriwijaya tunggu proses identifikasi di RS Polri
Petugas mengidentifikasi temuan serpihan pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Beruntungnya lagi, cuaca memang tidak begitu parah. Namun di sisi lain, tiupan angin laut menjadi begitu kencang pada malam hari hingga merasuk ke tulang. Di tambah lagi tidak ada selimut yang cukup tebal untuk menanganinya. Alhasil alas tidur kasur pun terpaksa digunakan untuk menyelimuti tubuh agar dingin tak begitu kentara. Walaupun sejatinya tetap saja terasa dingin.

Ditemani secangkir teh manis dan mi instan, malam yang cukup sulit di laut lepas setidaknya bisa diterima dengan baik secara perlahan. Perkara makan, sudah disiapkan nasi berikut daging ayam dan sayur sebagai lauknya.

Tapi lagi-lagi masalahnya, tetap saja sulit mencerna selayaknya makan nan seharusnya. Sebab, sulit menghilangkan memori-memori dalam pikiran atas berbagai temuan yang tampak nyata pada siang hari.

Cerita dari bawah laut

Sebelum terjun ke laut lepas, tim penyelam terlebih dahulu mendapatkan arahan dari Dirpolair Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Yassin Kosasih.

Tepat di hari keempat pascakejadian, jenderal bintang satu itu menginstruksikan penyelam agar fokus pada pencarian korban serta potongan atau bagian dari pesawat Sriwijaya Air.

"Maksimalkan pencarian korban, karena diduga bodi utama pesawat dan kotak hitam sudah dipegang oleh TNI AL," kata dia.

Meskipun demikian, bila penyelam menemukan kotak hitam yang berisi data penerbangan, maka benda itu tetap harus dievakuasi. Walaupun memang berdasarkan informasi Basarnas, TNI AL pada hakikatnya telah menemukan keberadaan benda penting tersebut.

Namun, saat ini kondisi di bawah laut kurang mendukung karena derasnya arus serta diperparah dengan kondisi lumpur sekitar 30 centimeter di beberapa titik. Sehingga dikhawatirkan keberadaannya yang sudah diketahui itu malah berpindah.

Salah seorang penyelam pencari korban pesawat Sriwijaya Air Bripka Jefry Manik Bintara Unit (Banit) SAR Polisi Perairan dan Udara Polda Banten mengatakan kendala di lapangan ialah jarak pandang dan arus air yang cukup kuat terutama di atas.

"Jarak pandang itu maksimal satu meter di kedalaman 18 hingga 20 meter," kata polisi berdarah Batak tersebut.

Bahkan, di beberapa titik dipenuhi lumpur sehingga menyulitkan proses pencarian korban. Di samping itu, jika dipaksakan mendekat ke dasar maka semburan lumpur akan naik sehingga mengganggu penglihatan.

Polisi air yang ikut dalam pencarian tiga warga negara asing (WNA) yang hilang di perairan Pulau Sangiang pada November 2019 itu bercerita pengalaman dan kesiapan mental serta kesehatan berpengaruh saat misi kemanusiaan.

Bagi penyelam yang sudah beberapa kali menyelam mencari korban di laut lepas, biasanya lebih tenang dibandingkan dengan pemula. Bahkan, secara pribadi ia juga mengalaminya.

Salah satu hal yang membuat kepanikan ialah bila bertemu korban di dasar laut. Baik dalam kondisi utuh maupun tidak. Sebagai petugas, ia mengatakan pencarian korban merupakan misi kemanusiaan sehingga berharap besar bisa menemukan mereka dalam kondisi apapun.

Bagi mereka para penyelam, tak ada kata nyali ciut demi mencari dan menemukan serpihan pesawat serta korban Sriwijaya Air yang malang itu.

Kini, meskipun kemungkinan penemuan korban dalam kondisi selamat terbilang kecil, namun tak ada salahnya terus berharap sembari berdoa kepada yang di atas. Untaian doa dari rakyat Indonesia untuk korban pesawat Sriwijaya Air.

Baca juga: Personel KRI Rigel-933 evakuasi korban Sriwijaya Air

Baca juga: Iran bersimpati dengan Indonesia atas kecelakaan pesawat Sriwijaya Air

Oleh Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Posko krisis kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 Bandara Supadio ditutup

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar