Indonesia harapkan perdagangan yang seimbang dengan China

Indonesia harapkan perdagangan yang seimbang dengan China

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kiri) memberikan keterangan seusai pertemuan bilateral di Kantor Kemenlu, Jakarta, Rabu (13/1/2021). ANTARA FOTO/HO/Humas Kemenlu/wpa/aww/pri.

Saya menyambut baik naiknya ekspor Indonesia ke China pada tahun lalu sebesar lebih 10 persen, di saat perekonomian global menghadapi guncangan yang berat akibat pandemi
Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan pentingnya mengupayakan perdagangan yang meningkat dan lebih seimbang dengan China, dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

“Dalam kaitan ini, saya menyambut baik naiknya ekspor Indonesia ke China pada tahun lalu sebesar lebih 10 persen, di saat perekonomian global menghadapi guncangan yang berat akibat pandemi,” kata Retno saat menyampaikan pernyataan pers bersama dengan Wang Yi di Jakarta, Rabu.

Selain itu, Menlu Retno juga menggarisbawahi perlunya mengatasi hambatan perdagangan, terutama yang menyangkut akses pasar bagi ekspor produk unggulan Indonesia ke China seperti produk perikanan, buah tropis, sarang burung walet, dan kelapa sawit.

Defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China selama periode Januari-November 2020 menurun sebesar 66,67 persen.

Namun, berdasarkan informasi dari KBRI Beijing yang dihimpun ANTARA, pada periode tersebut Indonesia masih mengalami defisit sebesar 3,2 miliar dolar AS (sekitar Rp45,4 triliun) dalam perdagangan dengan China---meskipun jumlahnya menurun tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang mencapai 9,6 miliar dolar AS (sekira Rp135,9 triliun).

Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia ke China sepanjang 2020 tercatat sebesar 33,1 miliar dolar AS (sekitar Rp459,8 triliun).

Indonesia menempati posisi ke-14 negara pengekspor ke China dengan komoditas utama besi dan baja, kertas dan karton, tembaga, alas kaki, karet, dan alumunium.

Selain perdagangan, Menlu Retno juga menyinggung pentingnya kedua negara untuk terus meningkatkan kerja sama investasi yang berkualitas, ramah lingkungan, dan dapat menyerap tenaga kerja Indonesia.

Salah satu kerja sama konkret yang disepakati adalah studi kelayakan untuk pembangunan Bendungan Lambakan di Kalimantan Timur. Penandatanganan dokumen kerja sama dilakukan di sela-sela kunjungan Menlu Wang Yi di Indonesia.

Menurut Wang Yi, Indonesia dan China telah mengembangkan kerja sama ekonomi yang menunjukkan stabilitas rantai industri dan pasokan, serta kerja sama perdagangan dan investasi yang tetap tumbuh meskipun di tengah tantangan pandemi COVID-19.

“Ini akan memperbarui kekuatan kita dan membangun fondasi untuk pemulihan ekonomi kita setelah COVID-19,” ujar dia.

Baca juga: Menko Luhut ajak Menlu China Wang Yi nikmati pesona Danau Toba

Baca juga: Menko Luhut terima Menlu China di Danau Toba, bahas investasi


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar