Telaah

Raffi Ahmad, A Lim Kim, dan protokol kesehatan

Oleh Jafar M Sidik

Raffi Ahmad, A Lim Kim, dan protokol kesehatan

Pegolf Korea Selatan A Lim Kim tak pernah melepaskan masker saat berlomba seperti terlihat pada b abak kedua turnamen golf U.S. Women's Open di Champions Golf Club di Texas, Amerika Serikat, pada 11 Desember 2020 ini. ANTARA/REUTERS/USA TODAY Sports/Erik Williams.

"... vaksinasi bukanlah tiket untuk serta merta meninggalkan protokol kesehatan ketika bagian terbesar masyarakat belum terpastikan kebal dari penyakit itu."
Jakarta (ANTARA) - Pastinya ada senyum puas mengembang dari wajahnya, tetapi semua orang yang ada di Champions Golf Club di Houston kala itu tidak melihatnya kecuali gerak mata yang makin menyipit dan pipi mengembung yang menjadi ciri umum orang yang lagi tersenyum atau tertawa.

Mencetak tiga birdie berturut-turut untuk mengakhiri babak final yang sekaligus memastikan dia merebut gelar turnamen golf putri sangat bergengsi US Women's Open 15 Desember tahun lalu itu semestinya membuat atlet ini bahagia sehingga bolehlah barang sejenak melepaskan maskernya demi memamerkan senyum puasnya kepada kamera.

Tapi pegolf putri ini tak mau melakukannya. Sepanjang lomba di padang luas yang tak mungkin orang berkerumun sehingga tak apalah masker dilepas dan apalagi selalu ada tes COVID-19 setiap kali pertandingan dimainkan, A Lim Kim, nama sang atlet, tak pernah mau menanggalkan masker, barang sejenak pun.

Padahal hampir semua cabang olahraga yang melanjutkan lagi turnamen atau kompetisi setelah dihentikan oleh pandemi virus corona, tidak mewajibkan atlet bermasker saat bertanding atau berlomba, apalagi cabang-cabang olahraga yang mustahil bisa menghindarkan kontak fisik seperti sepakbola, basket atau tinju.

Pegolf-pegolf yang lain juga berlaku seperti atlet-atlet lain dari cabang olah raga lain. Tetapi A Lim Kim beda.

Media bertanya mengapa dia tak mau melepaskan masker saat berlomba, padahal padang golf adalah tempat sangat lapang yang rasanya sulit sekali manusia kontak fisik sekerap atlet-atlet sepak bola, apalagi bergerombol, belum lagi protokol kesehatan setiap waktu diterapkan sebelum lomba dimainkan.

A Kim Lim yang berasal dari negeri yang mewajibkan masyarakatnya mengenakan masker saat di tempat umum itu menjawab, "Saya tak apa-apa jika dites positif terjangkit COVID-19, tetapi saya tak ingin membahayakan orang lain, pemain lain, caddie yang turut bermain dalam kelompok ini, jadi itulah alasan saya mengenakan masker sepanjang waktu.”

Rupanya orang lain yang lebih dia khawatirkan. Sebagai public figure dia tahu ada tanggung jawab yang melekat pada dirinya untuk memberi contoh, paling tidak peduli kepada protokol kesehatan yang memang menjadi salah satu kunci sukses negaranya, Korea Selatan, dalam mengendalikan pandemi COVID-19.

Soal Korea Selatan ini sendiri adalah kisah yang selalu diceritakan media massa seluruh dunia tentang betapa social distancing dan wajib masker di tempat-tempat publik menjadi salah satu kunci keberhasilan negara ini dalam membendung pandemi.

Baca juga: Kim A Lim bangkit untuk juarai AS Terbuka Putri
Baca juga: Kim setia bermasker dan tak mau buru-buru pulang ke Korsel


Selanjutnya: Setia pada protokol kesehatan
 

Oleh Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ini alasan pemerintah ajak seniman sosialisasikan protokol kesehatan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar