Bangunan tahan gempa mutlak di daerah rawan gempa seperti Sulbar

Bangunan tahan gempa mutlak di daerah rawan gempa seperti Sulbar

Sejumlah penduduk melintas di depan rumah tahan gempa atau biasa disebut rumah dome, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Minggu (4/10). Rumah dome pemberian Amerika tersebut bisa menjadi alternatif bangunan tahan gempa, mengingat Indonesia merupakan negara rawan gempa. (ANTARA/STRINGER) (ANTARA/STRINGER/)

Jakarta (ANTARA) - Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan dalam mitigasi gempa, khususnya di daerah rawan gempa seperti di Majene dan Mamuju Sulawesi Barat, yang paling utama adalah bangunan tahan gempa.

"Bangunan tahan gempa sesuai dengan building code mutlak di daerah rawan gempa agar masyarakat bisa selamat," kata Daryono di Jakarta, Jumat.

Baca juga: PMI beri pertolongan darurat korban gempa Sulawesi Barat

Baca juga: Gempa Sulbar, ASDP tutup sementara Pelabuhan Mamuju


Berdasarkan pengamatan sepintas dalam peristiwa gempa magnitudo 6,2 di wilayah Majene Sulbar, Daryono mengatakan banyak rumah yang tidak memenuhi standar tahan gempa dengan guncangan sampai skala V-VI MMI.

Konstruksi bangunan tahan gempa tentunya harus lebih kuat dan akan berimplikasi pada penambahan biaya pembangunan. "Kalau mahal, masyarakat harus ada pilihan, misalnya membangun dengan bahan kayu atau bambu, dibuat semenarik mungkin," katanya.

Dia menegaskan bahwa gempa bumi tidak membunuh, tapi penyebab jatuhnya korban jiwa adalah akibat tertimpa bangunan yang rubuh. "Dengan membangun asal-asalan akan sangat berisiko bangunan roboh saat gempa," ujarnya.

Indonesia merupakan wilayah rawan gempa karena terletak di antara tiga lempeng, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia.

Selain itu, cukup banyak sesar-sesar atau patahan lokal, sehingga menambah kerawanan suatu daerah seperti Majene yang berhadapan dengan Sesar Naik Mamuju (Mamuju Thurst).

Sesar Naik Mamuju diduga kuat sebagai sumber pemicu gempa di Majene dan juga berdampak di Mamuju.

Gempa yang terjadi sejak Kamis (14/1) dengan magnitudo 5,9 pukul 13.35 WIB dirasakan kuat ditambah gempa pada Jumat (15/1) dini hari bermagnitudo 6,2, dan menurut estimasi peta tingkat guncangan hasil analisis BMKG sesaat setelah gempa akurat dalam mengestimasi kedua gempa tersebut menimbulkan kerusakan karena muncul warna kuning dalam shake map yang artinya guncangan gempa mencapai skala intensitas VI MMI yang berpotensi merusak.

Baca juga: PLN gerak cepat pulihkan kelistrikan terdampak gempa di Sulbar

Baca juga: Dua orang selamat dari reruntuhan Kantor Gubernur Sulbar

Baca juga: Gempa Sulbar, PMI kerahkan relawan dari Palu, Makassar


Dari lapangan saat ini banyak laporan terjadi kerusakan rumah dan bangunan di Kabupaten Majene. Bahkan, gempa juga memicu dampak ikutan berupa reruntuhan batu di beberapa lokasi perbukitan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 15 Januari 2021, pukul 14.00 WIB, korban meninggal dunia akibat gempa M6,2 yang terjadi pada Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB di Provinsi Sulawesi Barat sebanyak 34 orang, dengan rincian 26 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan delapan orang di Kabupaten Majane.

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mayoritas daerah tak punya ahli bangunan tahan gempa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar