Kementerian ESDM fokus empat program prioritas EBTKE pada 2021

Kementerian ESDM fokus empat program prioritas EBTKE pada 2021

Petugas memeriksa panel surya terapung sebelum peresmian Pembangunan pertama PLTS Terapung Cirata di kawasan Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, dalam rangka meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) . ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian ESDM memfokuskan empat program prioritas subsektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) pada 2021 guna mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.

"Bagaimana mencapai 23 persen pada 2025 secara bertahap harus mulai dipastikan capaiannya pada tahun ini dan langkah apa yang akan kita ambil ke depan," kata Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dikutip dari laman Kementerian ESDM di Jakarta, Jumat.

Program pertama adalah keberlangsungan mandatori B30 dengan mewajibkan pencampuran 30 persen biodiesel dengan 70 persen bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

"Kita sedang menyiapkan pemanfaatan biofuelnya," jelas Dadan.

Dadan mengakui penyerapan B30 pada 2020 sempat mengalami penurunan sebesar 12 persen dari alokasi yang ditetapkan 9,55 juta kiloliter menjadi 8,4 juta kiloliter.

"Kita sudah siap dari sisi produksi, logistik, dan transportasi, tapi karena pandemi COVID dari sisi konsumsi berkurang," terangnya.

Pada 2021, penyerapan biodiesel ditargetkan mencapai 9,2 juta kiloliter. "Ini suplai dari 10 perusahaan BBN (bahan bakar nabati) dan disalurkan 20 perusahaan BBN," ungkap Dadan.

Fokus selanjutnya, kata Dadan, adalah co-firing biomassa. Program ini merupakan metode memanfaatkan biomassa sebagai subtitusi atau pengganti batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Program prioritas lainnya adalah percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Fleksibilitas lokasi lahan dan waktu yang singkat dalam pembangunan menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam mengutamakan program tersebut.

"Ada PLTS atap/rooftop, PLTS terapung di waduk atau bendungan, dan PLTS skala besar," bebernya.

Fokus keempat adalah konversi pembangkit listrik berbasis energi fosil, utamanya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke PLT EBT yang lebih ramah lingkungan.

"Ini sedang disiapkan keputusan menteri untuk mendukung hal tersebut," ungkap Dadan.

Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas terpasang PLT EBT 905,73 MW, yang terdiri atas 196 MW dari panas bumi, 557,93 MW dari air, 138,8 MW dari surya, dan 13 MW dari bio.

Sementara, target investasi EBT pada 2021 naik menjadi 2,05 miliar dolar AS atau Rp28,9 triliun dari capaian 2020 yang 1,36 miliar dolar atau Rp19,2 triliun.

"Ada sedikit ekspansi, peningkatan kualitas, jadi investasi pada 2021 targetnya lebih tinggi," pungkas Dadan.

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sektor EBT ditargetkan capai 31% di tahun 2050

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar