Epidemiolog ingatkan orang sudah divaksin tetap harus jaga 3 M

Epidemiolog ingatkan orang sudah divaksin tetap harus jaga 3 M

Petugas kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 Sinovac saat vaksinasi tahap pertama di Puskesmas Jurang Mangu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (15/1/2021). Sebanyak 8.901 tenaga kesehatan di Tangerang Selatan menerima vaksinasi COVID-19 tahap pertama yang dimulai Jumat (15/1). ANTARA FOTO/Fauzan/foc.

Meski sudah divaksin belum ada jaminan mereka menghasilkan antibodi yang cukup
Surabaya (ANTARA) - Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D menyatakan orang yang sudah divaksin COVID-19 tetap harus menjaga perilaku 3 M yakni memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak.

"Meski sudah divaksin belum ada jaminan mereka menghasilkan antibodi yang cukup. Makanya perlu menjaga perilaku 3 M," kata Pandu Riono saat menjadi narasumber webiner bertema "Vaksinasi COVID19: Perspektif Klinis, Epidemiologis dan Etis" yang digelar Rotary Club of Surabaya dan Indonesia Bioethics Forum (IBF), Sabtu.

Menurut dia, vaksinasi saat ini sudah menjadi tujuan untuk mengatasi pandemi. Namun, lanjut dia, masalahnya saat ini mungkinkah hal itu bisa mengatasi pandemi?.

Baca juga: Kemenkes: Mematuhi prokes tetap penting meski sudah divaksin

"Pada dasarnya saya meragukan setiap pendapat atau ilmiah terkait mengatasi pandemi ini, supaya kita bisa berfikir kritis," katanya.

Jika dilihat situasi pandemi ini ibarat gunung es, di mana yang terlihat di rumah sakit maupun puskesmas hanya sebagian kecil, namun faktanya banyak kematian yang tidak dikenali sebagai infeksi COVID-19.

"Banyak yang terinfeksi tapi tidak bergejala. Hampir 80 persen tidak bergejala tapi menularkan," katanya.

Baca juga: Penerima vaksin diimbau tetap disiplin protokol kesehatan

Saat ini, kata dia, banyak harapan terlalu berlebihan terhadap vaksinasi. "Padahal kita tahu, Rotary Club jauh hari sudah melakukan vaksin polio. Tapi sampai saat ini juga belum selesai, masih ada yang terkena polio," ujarnya.

Problemnya saat ini, kata dia, banyak penerima vaksin yang meragukan vaksin itu sendiri. "Jangan bilang tenaga kesehatan itu rasional, ada juga profesor hingga tenaga kesehatan cara berfikir tidak rasional atau ragu-ragu soal vaksin," katanya.

Meski demikian, ia menekankan vaksin bisa mencegah penularan COVID-19 karena vaksin menstimuulasi antibodi sehingga tidak menjadi COVID-19 yang mematikan.

Baca juga: Epidemiolog khawatir masyarakat abai protokol kesehatan pascavaksinasi

"Jadi kita berusaha keras untuk menurunkan angka penularan dengan cara 3 M dan 3T (Tracing, Testing, Treatment)," ujarnya.

Hal sama juga dikatakan dokter RS Siloam dan RS Awal Bros Makassar Dr. Bambang Budiono, Sp.JP, FIHA, PAPSIC, FSCAI. Ia mengatakan orang yang divaksin sistem tubuhnya membutuhkan waktu agar bisa memproduksi antibodi.

Menurutnya, vaksin adalah bentuk dari virus yang utuh, virus yang dinonaktifkan, virus yang dilemahkan dan virus dimatikan. Vaksin juga merangsang membentuk antibodi yang baru. Berbagai cara digunakan untuk melatih sistem kekebalan itu.

"Kalau orang sudah divaksin kemudian hura-hura melupakan 3 M, maka tidak ada gunanya. Apalagi virus ini (corona) bisa bermutasi," katanya.

Baca juga: Menkes: Warga berusia di atas 60 tahun tetap divaksinasi COVID-19

Pewarta: Abdul Hakim
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkes minta PB IDI gerakan seluruh dokter pada vaksinasi semester 2

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar