Telaah

Politisasi dan nasionalisme vaksin COVID-19

Oleh Jafar M Sidik

Politisasi dan nasionalisme vaksin COVID-19

Seorang pekerja kesehatan menerima suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech di pusat perawatan kesehatan utama Fuentelarreina di Madrid, Spanyol, 18 Januari 2021. (REUTERS/SERGIO PEREZ)

"Dunia menjadi terlihat mementingkan diri sendiri dan ego sentris"
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Sao Paulo Joao Doria melakukan apa saja untuk mendapatkan akses ke vaksin buatan China produksi Sinovac. 120.000 unit vaksin ini sudah tiba di Brasil pertengahan November tahun lalu sampai kemudian otoritas Brasil mengotorisasi penggunaannya, selain juga vaksin buatan Universitas Oxford-Astra Zaneca, pada 18 Januari 2021.

Sang gubernur memilih perusahaan farmasi China itu sejak awal pandemi. Sinovac sendiri sudah menguji vaksinnya di negara bagian Brasil itu selama beberapa bulan, seperti juga mereka lakukan di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia.

Jika vaksin ini terbukti ampuh maka citra dan reputasi Joao Doria pun terangkat sehingga menaikkan statusnya menjelang pemilihan presiden 2022.

Tapi ini pula alasan Presiden Brasil Jair Bolsonaro menggoreng sentimen anti-vaksin buatan China. Bolsonaro berusaha merusak rencana vaksinasi Doria karena dia menganggap sang gubernur adalah rival terkuatnya pada pemilu tahun depan.

Semula otoritas kesehatan yang dikendalikan pemerintahan pusat pimpinan Bolsonaro terus menunda kedatangan vaksin China dengan alasan Bolsonaro lebih memilih vaksin AstraZeneca- Oxford walaupun vaksin ini baru tersedia dalam skala besar Maret nanti.

Pergulatan di Brasil itu menguak politik global yang dihadapi dunia, yakni soal produksi, distribusi dan administrasi vaksin COVID-19 secepat-cepatnya kepada miliaran manusia di seluruh dunia yang bisa menjadi tantangan logistik besar dan mencapai dimensi tak pernah dihadapi manusia sebelum ini.

Negara yang pertama mendapatkan vaksin akan menjadi negara yang pertama mengakhiri lockdown dan berbagai bentuk pembatasan guna membendung COVID-19, membuka sekolah, fasilitas-fasilitas umumnya, dan menggerakkan lagi roda perekonomian.

Negara yang mengendalikan akses ke vaksin bakal mendapatkan kekuasaan lebih.

"Pandemi memberikan kesempatan kepada sejumlah negara untuk mengukuhkan diri sebagai produsen komoditas publik sehingga memperoleh pengaruh lebih ketimbang yang mereka bisa dapatkan dari cara ideologis pada abad ke-20," kata Dmitry Trenin, kepala think tank Carnegie Moscow Center, seperti dilaporkan Der Spiegel.

Sebaliknya, negara-negara lainnya akan menghadapi masa dan situasi sangat sulit dalam mendapatkan akses ke vaksin COVID-19.

Baca juga: Kurang data, Persetujuan Brazil untuk vaksin Sputnik V tertunda
Baca juga: Anvisa Brazil: Permohonan vaksin COVID Sinovac China minim informasi


Selanjutnya: dunia menjadi terlihat mementingkan diri sendiri dan ego sentris
 

Oleh Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Uji vaksin Rekombinan, Ridwan Kamil sebut kebutuhan sangat besar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar