Kebijakan Yellen bantu aset berisiko, tingkatkan kekhawatiran utang

Kebijakan Yellen bantu aset berisiko, tingkatkan kekhawatiran utang

Foto dokumentasi - Janet Yellen, calon menteri keuangan presiden AS terpilih Joe Biden, naik ke podium untuk berbicara saat Presiden terpilih Biden mengumumkan calon dan orang yang ditunjuk untuk bertugas dalam tim kebijakan ekonominya di markas transisi di Wilmington, Delaware, AS , 1 Desember 2020. ANTARA/REUTERS/Leah Millis

Sebagai Menteri Keuangan, dia memang memiliki agenda yang cukup progresif yang ingin dia jual
New York (ANTARA) - Dukungan tegas calon Menteri Keuangan Janet Yellen untuk rencana penyelamatan pandemi membagi dua arah bagi investor, memicu optimisme bahwa reli aset-aset berisiko akan terus berlanjut sambil memperkuat kekhawatiran atas kenaikan besar-besaran utang pemerintah.

Dalam sidang penetapan Senat pada Selasa (19/1/2021), mantan ketua Federal Reserve itu mendesak anggota parlemen untuk "bertindak besar" pada paket bantuan virus corona berikutnya setelah Presiden terpilih Joe Biden pekan lalu menguraikan proposal stimulus 1,9 triliun dolar AS sebagai bagian dari agenda kebijakan domestik yang besar pada pengeluaran pemerintah.

Sementara rencana tersebut diharapkan dapat memberikan dorongan penting bagi ekonomi yang dilanda virus corona, investor mengatakan stimulus besar-besaran juga dapat memperluas defisit yang sudah besar dan menaikkan imbal hasil obligasi, sambil mendorong reli yang beberapa dikhawatirkan akan meningkatkan gelembung di berbagai aset. Aspek lain dari rencana Biden, seperti kenaikan pajak pada perusahaan dan orang kaya, juga mendapat sambutan beragam.

“Jelas, dia merasa ekonomi membutuhkan bantuan ini dan ini adalah pertanyaan untuk meyakinkan Senat,” kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities. “Saya yakin mereka akan melewatinya, kita akan melihat paket besar lainnya dan itu positif jangka pendek tapi negatif jangka panjang.”

Sejak Demokrat memenangkan kendali Senat awal bulan ini, menyiapkan panggung untuk stimulus yang lebih besar, S&P 500 telah naik sekitar dua persen, dengan kekuatan khusus di bank, saham-saham berkapitalisasi kecil dan lainnya yang diperkirakan berkinerja baik dalam ekonomi yang membaik.

Yellen menyinggung beberapa kekhawatiran jangka panjang pasar dalam kesaksian Selasa (19/1/2021), di mana dia mendesak anggota parlemen untuk meningkatkan pengeluaran sekarang, dan membayar utang nanti.

“Lintasan fiskal jangka panjang menjadi perhatian. Ini adalah sesuatu yang akan kami perhatikan ... Tapi penting juga bagi Amerika untuk berinvestasi," kata Yellen kepada Senat. “Penting untuk diingat bahwa kami berada dalam lingkungan suku bunga yang sangat rendah.”

Yellen juga mengatakan dia setuju bahwa pemotongan pajak perusahaan Presiden Donald Trump tahun 2017 telah meningkatkan daya saing bisnis Amerika, dan bahwa Biden tidak mengusulkan untuk menaikkan pajak perusahaan ke tingkat sebelum tahun 2017. Namun dia mengatakan, penting juga bagi perusahaan dan individu kaya untuk membayar bagian yang adil.

“Sebagai Menteri Keuangan, dia memang memiliki agenda yang cukup progresif yang ingin dia jual,” kata Jack Ablin, kepala investasi di Cresset Capital Management.

"Saya pikir dia harus menempuh garis tipis antara menampilkan dirinya sebagai pembuat kebijakan berkepala dingin, tetapi pada saat yang sama merangkul rencana fiskal yang cukup besar dari Presiden terpilih Biden."

Sebagai kepala Fed dan wakil ketua sebelumnya, Yellen memimpin bank sentral selama periode suku bunga rendah ketika ekonomi bangkit dari krisis keuangan. Dalam sebuah langkah yang dapat merongrong kritik apa pun terhadapnya karena terlalu dovish terhadap kebijakan, dia berada di pucuk pimpinan The Fed ketika membuat keputusan kontroversial pada Desember 2015 untuk menaikkan suku bunga dari nol.

Setelah Presiden Donald Trump sering menyerukan dolar yang lebih lemah untuk meningkatkan ekspor AS, Yellen pada Selasa (19/1/2021) membahas sikap Departemen Keuangan terhadap greenback, mengatakan nilai dolar dan mata uang lainnya harus ditentukan oleh pasar dan bahwa Amerika Serikat harus menentang upaya-upaya negara lain untuk memanipulasi nilai mata uang secara artifisial guna mendapatkan keuntungan perdagangan.

Win Thin, kepala strategi mata uang global di BBH, mengatakan dalam sebuah catatan bahwa komentar mata uang Yellen adalah bagian dari upaya "yang dimaksudkan untuk menandakan perubahan luas dalam kebijakan dari pemerintahan Trump yang akan berakhir."

"Jika tidak ada yang lain, pasar tidak akan lagi tunduk pada volatilitas terkait cuitan dan itu hal yang baik," katanya.

Baca juga: Pasar Asia bersiap untuk keuntungan moderat setelah Wall Street naik
Baca juga: Wall Street ditutup menguat dipicu dukungan Yellen untuk stimulus
Baca juga: Harga emas melonjak saat dolar AS tertekan prospek stimulus

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dipengaruhi vaksinasi, Menkeu optimis ekonomi 2021 tumbuh 4,5-5,3%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar