Dolar jatuh, sentimen risiko naik karena optimisme pemerintahan Biden

Dolar jatuh, sentimen risiko naik karena optimisme pemerintahan Biden

Ilustrasi - Dolar AS di Tumpukan Yuan China. ANTARA/Shutterstock/pri.

New York (ANTARA) - Dolar jatuh terhadap sebagian besar mata uang pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi), karena sentimen risiko terangkat di tengah optimisme tentang paket stimulus besar-besaran di bawah pemerintahan baru Joe Biden yang kemungkinan akan mendukung pemulihan ekonomi AS.

Greenback melemah terhadap yen serta mata uang terkait dengan harga komoditas seperti dolar Australia, Kanada, Selandia Baru, dan krona Norwegia. Dolar AS turun ke level terendah tiga tahun terhadap mata uang Kanada dan sterling, sementara mencapai level terendah dua minggu terhadap yen.

S&P 500 naik ke tertinggi baru sepanjang masa, sementara harga minyak mentah berjangka AS naik seiring berlanjutnya reli risiko.

Biden dilantik sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat pada Rabu (20/1/2021) bersumpah untuk mengakhiri "perang tak beradab" di negaranya yang terpecah belah dan terguncang oleh ekonomi yang terpukul dan pandemi virus corona yang mengamuk telah menewaskan lebih dari 400.000 warganya.

Pemerintah baru diharapkan mendorong melalui Kongres rencana stimulus fiskal AS hampir dua triliun dolar AS.

"Setelah Anda tidak lagi yakin tentang sesuatu dan hal itu terwujud, optimisme keseluruhan tumbuh dan memberi jalan kepada narasi pemulihan global," kata Juan Perez, ahli strategi dan pedagang valas senior di Tempus Inc. di Washington.



Baca juga: Dolar jatuh, toleransi risiko meningkat didukung prospek stimulus AS


“Pemilu dan masalah setelahnya - semuanya memainkan peran yang dramatis, tapi sekarang sudah berakhir. Joe Biden adalah presiden dan harapan stimulus, seperti beberapa pasar, berada pada rekor tertinggi,” tambahnya.

Dalam perdagangan sore, dolar turun 0,4 persen terhadap yen menjadi 103,54 yen, meluncur ke level terendah dua minggu di awal sesi ke 103,45 yen.

Dolar AS jatuh ke level terendah tiga tahun terhadap mata uang Kanada pada 1,2607 dolar Kandana, setelah bank sentral Kanada pada Rabu (20/1/2021) memilih untuk tidak memangkas suku bunga. Greenback terakhir turun 0,7 persen pada 1,2642 dolar Kanada.

Dolar Aussie menguat 0,6 persen menjadi 0,7745 dolar AS, sedangkan mata uang Selandia Baru juga naik 0,6 persen menjadi 0,7167 dolar AS.


Baca juga: Dolar melayang dekati tertinggi sebulan saat kebijakan Biden terbentuk



Sterling naik ke level tertinggi tiga tahun terhadap mata uanga AS menjadi 1,3720 dolar, tetapi menyerahkan sebagian dari keuntungan itu menjadi diperdagangkan hanya naik 0,1 persen pada 1,3643 dolar.

Kombinasi dari selera risiko yang tinggi di pasar global dan optimisme khusus Inggris mengangkat pound sterling pada Rabu (20/1/2021).

Sementara itu, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen menjadi 90,483. Sejak awal tahun, indeks telah membukukan kenaikan 0,5 persen.

Data posisi berjangka masih menunjukkan bahwa investor kekurangan dolar karena mereka memperkirakan defisit anggaran dan transaksi berjalan akan membebani greenback.

Euro melemah 0,2 persen terhadap dolar menjadi 1,2106 dolar.

Negara-negara Eropa sedang berjuang untuk menahan penularan virus corona di tengah kekhawatiran bahwa varian baru dapat menyebabkan penguncian yang lebih ketat dan lebih banyak kesulitan ekonomi.

Investor juga mengkhawatirkan kecepatan yang lebih lambat dari peluncuran vaksin relatif terhadap Amerika Serikat dan Inggris, yang mungkin menghambat pemulihan ekonomi di zona euro.



Baca juga: Dolar sentuh tertinggi satu bulan ketika pasar amati kebijakan Biden

Baca juga: Dolar tahan kenaikan, data lemah AS rusak sentimen, fokus PDB China


 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pengarahan pertama Gedung Putih dalam pemerintahan Biden

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar