Artikel

Pendidikan karakter bentengi anak dari dampak negatif internet

Oleh Indriani

Pendidikan karakter bentengi anak dari dampak negatif internet

Dua siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (22/7/2020). ANTARA FOTO/Syaiful Arif/pras.

Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 membuat pembelajaran dilakukan secara daring, yang mengakibatkan interaksi anak dengan gawai semakin tak terpisahkan.

Seorang ibu rumah tangga di Tangerang, Lilis, mengeluhkan anaknya yang saban hari semakin tak terpisahkan dari gawai.

“Lebih banyak main game dari pada belajar,” kata Lilis, mengeluh, saat ditemui di Tangerang, Kamis.

Padahal, ia membelikan anaknya, Vino, gawai pada awal tahun ajaran baru 2020/2021 dengan tujuan mempermudah pembelajaran yang dilakukan secara daring.

Faktanya, hal itu justru membuat anaknya yang duduk di kelas lima SD tersebut semakin kecanduan dengan permainan daring.

Akibatnya, nilai Vino pada semester gasal lalu anjlok. Bahkan, lanjut Lilis, ada satu mata pelajaran yang nilai ujian akhir semesternya di bawah 50. Padahal, biasanya di atas 70.

“Sulit mengawasi anak belajar daring, karena bapak dan ibunya bekerja. Kami baru bisa menemani anak belajar, sore sepulang kerja,” ujar dia.

Saat siang, anaknya dititipkan di rumah neneknya. Neneknya yang berusia 65 tahun tersebut, tidak bisa menemani anaknya belajar daring. Akibatnya pada siang hari, Vino lebih banyak bermain game online dibandingkan belajar.

Sang nenek pun tidak paham jika cucunya itu tidak belajar, melainkan bermain game. Bahkan tak jarang, Vino mengajak teman-temannya ke rumah neneknya untuk bermain bareng atau “mabar”. Tak hanya itu, anaknya juga meniru apa yang dilakukan idolanya di media sosial. Mengetahui hal itu, ia pun memutuskan menyita gawai anaknya tersebut dan baru diberikan saat anaknya belajar daring.

“Saya pribadi lebih senang sekolah kembali dibuka dan anak-anak belajar di sekolah lagi. Tidak belajar di rumah seperti saat ini, mengawasinya sulit, terutama bagi orang tua yang bekerja,” kata dia.

Keluhan yang sama juga disampaikan wali murid lainnya. Faisal, ayah dua orang anak juga mengaku anaknya kini sulit lepas dari gawai. Faisal mengaku khawatir anaknya dengan mudah menelan mentah-mentah informasi yang di dapatnya melalui internet.

“Tidak semua informasi yang ada di internet itu benar, banyak hoaksnya. Orang tua perlu mendampingi anaknya saat belajar daring,” kata Faisal.

Praktisi pendidikan dari Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan perlu ada pembatasan penggunaan gawai bagi siswa, terutama untuk jenjang SD dan SMP.

Satriwan menambahkan perlu ada pembatasan penggunaan gawai, terutama dalam mengakses internet. Seperti yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan, yang mana akses internet hanya diberikan melalui komputer di sekolah, sedangkan gawai yang digunakan siswa hanya gawai yang bisa untuk menelepon dan mengirim pesan untuk menghubungi orang tua.

Satriwan menerangkan saat perwakilan guru dari Jepang dan Korea Selatan datang ke sekolah, mereka heran dengan banyaknya siswa yang membawa gawai ke sekolah. Sementara di negara mereka hanya boleh mengakses internet dengan menggunakan komputer sekolah.

“Pembatasan penggunaan gawai ini penting bagi anak agar mereka dapat berkembang secara alami,” jelas Satriwan.

Oleh karenanya, perlu adanya kolaborasi antara guru, siswa dan orang tua dalam penggunaan gawai untuk mengakses dari internet. Apalagi, pemerintah telah memberikan subsidi bantuan kuota internet pada tahun lalu.

Beberapa waktu lalu, dia mendapatkan laporan dari sejumlah daerah jika siswa belajar di rumah tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Akhirnya kuota internet yang diberikan digunakan untuk mengakses media sosial.

Tak hanya orang tua, guru juga ikut bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan pada anak meski pembelajaran dilakukan secara daring. Guru juga harus terlibat dalam pengawasan, pembimbingan serta mendampingi anak. Guru juga hendaknya jangan bosan memberikan muatan karakter kepada siswa.

Dalam pembelajaran, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga mentransformasi siswa. Dalam artian mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik.

Guru tidak hanya memikirkan aspek kognitif saja, tetapi juga penguatan karakter. Misalnya, guru bahasa Inggris, jangan hanya mengajarkan bagaimana grammar pada siswa, tetapi juga bagaimana etika, disiplin dan nasionalisme.

Baca juga: Orang tua harus kendalikan penggunaan gawai pada anak, sebut KPPPA

“Jangan sampai penguatan karakter hanya dibebankan pada guru, tapi tri sentra pendidikan itu sangat mempengaruhi karakter anak pada era digital. Tri sentra itu, yakni rumah, guru dan masyarakat,” ujar Satriwan.


Keteladanan

Satriwan juga meminta agar para orang tua maupun guru dapat memberi keteladanan pada anak di rumah dan sekolah, karena anak merupakan peniru yang hebat.

“Bagaimana anak tidak kecanduan terhadap gawai dan internet, kalau orang tuanya asyik menatap layar HP setiap malamnya. Padahal anaknya ingin ngobrol, curhat tentang sekolah dan temannya, atau diskusi yang agak berat. Harus ada waktu momentum bersama anak pada sore dan malam hari sepulang anak sekolah,” ujar Satriwan.

Ponsel atau HP orang tua wajib ditaruh sepulang kerja dan mendengarkan curahan hati anak. Jika hal itu tidak dipraktikkan maka jangan heran anak-anak akan meniru idolanya di media sosial tanpa filter. Sebab karakter mereka dibentuk oleh idola dan media sosialnya bukan oleh orang tua dan gurunya.

Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hendarman mengatakan orang tua perlu menunjukkan keteladanan dalam penggunaan gawai.

Baca juga: Psikolog: waspadai dampak buruk "gadget" bagi anak

“Orang tua harus menunjukkan keteladanan agar tidak menggunakan gawai di depan anak-anaknya pada waktu yang telah disepakati, “ kata Hendarman.

Baik orang tua dan anak perlu membuat kesepakatan mengenai pembatasan penggunaan gawai. Kesepakatan itu merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kerja sama di dalam keluarga.

Hal itu menjadi tantangan bagaimana orang tua dapat mengajak anak-anaknya untuk patuh pada kesepakatan yang mensyaratkan mensyaratkan kemampuan komunikasi orang tua.

Orang tua perlu membatasi anaknya dalam bermain gawai. Terutama pada saat pandemi COVID-19, yang mana pembelajaran juga dilakukan secara daring sehingga intensitas penggunaan gawai semakin tinggi.

Baca juga: Cegah dampak buruk gawai di kalangan anak-anak

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi hal itu. Pemerintah tidak punya kewenangan, begitu juga sekolah dan guru, karena saat di rumah yang menjadi orang tua adalah guru. Orang tua merupakan guru utama dan pertama.

“Seyogyanya, orang tua mengajarkan dan mendidik anak dengan disiplin waktu atau pembatasan penggunaan gawai,” kata Hendarman.

Keteladanan orang tua maupun guru menjadi kata kunci agar anak tidak larut dengan gawai dan media sosial. Dengan keteladanan yang baik, anak tidak mudah meniru para pesohor yang mudah ditemuinya di dunia maya.

Oleh Indriani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar