BI: Pemulihan bergantung pada kecepatan implementasi kebijakan

BI: Pemulihan bergantung pada kecepatan implementasi kebijakan

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/1/2021). Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 3,75 persen yang konsisten dengan perkiraan inflasi tetap rendah dan stabilitas eksternal terjaga sebagai upaya bersama untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Tergantung pada bagaimana kecepatan implementasi berbagai kebijakan. Semakin efektif maka akan semakin lebih tinggi di atas 5 persen.
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa realisasi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi akan bergantung pada kecepatan implementasi berbagai kebijakan dalam rangka menanggulangi dampak pandemi COVID-19.

Perry menuturkan optimisme BI untuk tahun ini tergambar melalui proyeksi yang dilakukan terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu mencapai di kisaran 4,8 persen sampai 5,8 persen.

“Tergantung pada bagaimana kecepatan implementasi berbagai kebijakan. Semakin efektif maka akan semakin lebih tinggi di atas 5 persen,” katanya dalam acara bertajuk Membangun Optimisme Pasca Pandemi COVID-19 di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Pulihkan ekonomi, Indonesia pimpin pengaturan koridor perjalanan ASEAN

Perry mengatakan optimisme terhadap pemulihan ekonomi nasional akan dicapai melalui beberapa sumber yaitu ekspor, fiskal, konsumsi, hingga investasi.

Ia menyebutkan ekspor yang tahun lalu mencapai 16,5 miliar dolar AS atau tumbuh 14,6 persen merupakan tertinggi sejak 2013 karena permintaan terutama ke China, negara-negara ASEAN, dan AS meningkat.

“Ekspor ini akan menjadi daya dukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Kemudian investasi bergantung pada kebijakan pemerintah yang salah satunya berupa Undang-Undang Cipta Kerja sehingga mampu mendorong penanaman modal asing ke Indonesia.

Baca juga: Sri Mulyani sebut SWF sebagai instrumen pelengkap pemulihan ekonomi RI

Untuk konsumsi, menurut Perry mulai meningkat namun tidak secepat perkiraan pemerintah karena sangat bergantung pada bantuan sosial (bansos) dan mobilitas.

“Kemarin menjelang akhir tahun mobilitas naik, konsumsinya naik, sekarang ada PSBB jadi agak menurun sedikit,” katanya.

Perry menyatakan perbaikan ekonomi Indonesia tahun ini juga akan didukung oleh stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Ia menyebutkan inflasi tahun ini diperkirakan terkendali yaitu 3 persen plus minus 1 persen, defisit transaksi berjalan minus 1 persen sampai 2 persen dari PDB, kredit 7 persen sampai 9 persen, serta dana pihak ketiga 7 persen sampai 9 persen.

Baca juga: Sri Mulyani: Joe Biden bawa harapan pemulihan ekonomi global

Oleh sebab itu, Perry pun mengajak pemerintah, masyarakat, dan otoritas terkait untuk tetap selalu optimis terhadap outlook perekonomian nasional tahun ini meskipun masih terdapat pandemi.

“Ini adalah beberapa ringkasan dari outlook 2021 yang mendasari kami untuk tetap optimistis. Mari kita bangun optimisme bagi pemulihan ekonomi,” tegasnya.

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kampanye Eksotisme Lombok dorong penggunaan produk lokal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar