Artikel

Kearifan lokal dalam pengendalian COVID-19

Oleh Indriani

Kearifan lokal dalam pengendalian COVID-19

Masyarakat adat Pattallassang memasang spanduk pencegahan COVID-19 di kawasan masyarakat adat Pattalassang, Gowa, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO- dok pri.

Kearifan lokal antara satu masyarakat adat dengan masyarakat adat lainnya sangat beragam dan tidak bisa diterapkan secara universal
Jakarta (ANTARA) - Total positif COVID-19 di Indonesia hingga hari ini hampir mencapai satu juta kasus, tepatnya 999.256 kasus. Angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Data lain menyebut total kematian 28.132 kasus dan sembuh 809.488 kasus. Dengan kata lain, jumlah kasus aktif saat ini 161.636 kasus.

Bagaimana pun, jumlah kasus COVID-19 di Tanah Air itu jauh melampaui negara lainnya di kawasan regional itu. Hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kasus COVID-19 di Filipina yang sempat keteteran pada awal pandemi.

Uniknya, meski virus SARS-CoV2 itu telah menjangkau seluruh provinsi dan 510 di antara 514 kabupaten/kota, ada sejumlah masyarakat adat yang tak tersentuh oleh COVID-19. Contohnya, masyarakat adat Badui di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka tak tersentuh kasus COVID-19 karena disiplin dan tidak ke luar daerah.

Masyarakat adat Pattallassang, Gowa, Sulawesi Selatan juga punya cara tersendiri dalam menangkal COVID-19. Tak heran sepanjang 2020 tak ada satu pun kasus menghampiri komunitas adat yang beranggotakan 15.000 jiwa tersebut. Baru pada 2021 ada satu kasus positif namun sudah berangsur pulih.

Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Gowa, Muklis Paraja, mengatakan datangnya pandemi ini telah diprediksi para leluhur masyarakat adat Pattalassang ratusan tahun lalu.

“Reing antu Se're hattu na talasiturungia taua ka rieng doko attama ri kampongia”, demikian kalimat dalam Bahasa Konjo Makassar itu memiliki makna suatu saat akan datang masa di mana masyarakat tidak saling menjenguk, karena suatu penyakit yang melanda kampung dan menyebabkan kematian, serta membuat masyarakat panik dan ketakutan.

Menurut pesan leluhur masyarakat adat setempat, pandemi itu akan datang pada 2000-an. Selama sebulan setelah kasus COVID-19 pertama masuk Tanah Air, masyarakat adat Pattalassang hidup dalam ketakutan.

Bahkan, mereka menolak saudara mereka yang datang dari kota karena takut tertular COVID-19.

“Padahal saudaranya di kota juga kembali ke kampung, karena kesulitan hidup di kota,” kata dia.

Baca juga: Puluhan warga Baduy gelar selamatan kampung cegah COVID-19

Ia kemudian melakukan identifikasi dan menemukan nilai-nilai leluhur yang bermanfaat dalam mengatasi pandemi tersebut, yakni hanya orang yang yakin pada Tuhan Yang Maha Esa dan berpegang teguh pada kejujuran yang akan selamat.

Wabah juga pernah menyerang komunitas adat itu pada 1920-an.

Dengan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka akan menjauhkan rasa cemas dan ketakutan, sehingga hati menjadi tenang dan fisik menjadi sehat.

“Langkah awal, kami berupaya mengubah pola pikir masyarakat adat untuk tidak terlalu takut dengan COVID-19, ya memang virus itu nyata adanya. Tetapi jangan terlalu takut dan jangan pula terlalu berani,” terang dia.

Ia mengajak masyarakat untuk menaati protokol kesehatan dan menghindari rasa cemas.

Pihaknya meyakini dengan menghindari perasaan resah maka penyakit apapun akan sulit masuk dalam tubuh.

Ia juga menyosialisasikan mengenai COVID-19 yang dialihbahasakan ke bahasa lokal. Spanduk sosialisasi itu dipasang di tempat strategis di komunitas tersebut.

Muklis juga melakukan identifikasi dan mengumpulkan bahan terkait dengan COVID-19. Ia kemudian bersama peramu obat atau yang dikenal dengan sebutan sanro, mencoba membuat ramu-ramuan untuk mengatasi gejala COVID-19.

“Kami percaya, apapun yang diciptakan oleh Tuhan ada gunanya dan dapat menyembuhkan penyakit,” terang dia.

Ramuan yang terbuat bahan baku, seperti jahe, kunyit, kelapa, gula aren, untuk meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat.

Dia mengajak masyarakat adat untuk rutin mengonsumsi ramuan herbal tersebut. Masyarakat adat pun menyediakan satu tempat khusus untuk menanam tanaman obat itu.

Beberapa waktu lalu, kata Muklis, ada yang meneleponnya dan mengeluhkan indra pengecapnya tak berfungsi.

Ia sadar bahwa itu gejala COVID-19. Ia menyarankan warga tersebut untuk berkumur dengan air garam selama tiga hari dan minum perasan jeruk lemon.

“Selain itu juga diberikan motivasi pada yang bersangkutan untuk tidak cemas. Rasa cemas yang berlebihan justru memperburuk kondisi kesehatan. Alhamdulillah, yang bersangkutan sudah mulai berangsur sembuh,” terang dia.

Ia juga mengingatkan warga untuk taat pada protokol kesehatan.

Baca juga: Kekuatan masyarakat adat hadapi pandemi COVID-19

Mengutip pepatah adat Pattallassang, yakni “Inai tutu ia salama na ianai pacapa ia cilaka” yang memiliki makna barang siapa selalu menjaga dirinya dia akan selamat dan siapa yang lalai maka dia akan celaka.

Melekat

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Samsul Hadi mengatakan kearifan lokal sudah melekat erat dan menyatu dalam ekosistem tatanan masyarakat adat.

“Kearifan lokal antara satu masyarakat adat dengan masyarakat adat lainnya sangat beragam dan tidak bisa diterapkan secara universal,” kata dia.

Setiap masyarakat adat di Tanah Air memiliki benteng tersendiri dalam menghadapi bala bencana. Selain itu, daya tahan tubuh masyarakat adat lebih bagus dalam menangkal COVID-19.

“Makanan mereka lebih sehat dan fisik mereka terus bergerak. Beda dengan masyarakat di perkotaan yang makanannya condong ke makanan cepat saji dan kurang bergerak secara fisik,” jelas dia.

Baca juga: Viral virus corona menuju budaya baru

Apalagi jika tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan secara ketat, hal itu rentan terinfeksi COVID-19.

Masyarakat adat, lanjut Samsul, dengan kearifan lokal sudah secara turun-temurun melalui pengetahuan tradisional, mengenal tanaman obat dan rempah, untuk meningkatkan stabilitas imunitas tubuhnya,

“Pendukung kedua sisi ekosistem mereka yang menyatu dengan alam terbuka sangat mendukung,” kata dia.

Prinsip utama masyarakat adat yang lebih tunduk dan patuh pada tatanan adat atau keputusan musyawarah adat memudahkan pengendalian penyebaran COVID-19.

Masyarakat adat yang turun ke kota pun dengan kesadaran mandiri melakukan karantina di tempat telah disepakati bersama.

Dengan taat pada peraturan bersama tidak hanya membuat diri sendiri selamat, tetapi juga menyelamatkan masyarakat dari pandemi.

Baca juga: Masyarakat buru empon-empon cegah virus corona
Baca juga: IDI: Empon-empon untuk COVID-19 hukumnya mubah


Oleh Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar