Mentan khawatir pengurangan subsidi pupuk turunkan produktivitas sawah

Mentan khawatir pengurangan subsidi pupuk turunkan produktivitas sawah

Tangkapan layar - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (25/1/2021). ANTARA/Tangkapan layar TV Parlemen/pri.

Kalau intervensi pupuk diturunkan saja dari kondisi sekarang, 50 persen saja, saya khawatir ini akan menurunkan 20-24 persen dari hasil yang ada
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menilai pengurangan alokasi subsidi pupuk bisa menurunkan produktivitas hasil tanaman sebesar 20-24 persen, mengingat pupuk menjadi bahan penunjang bagi petani dalam berproduksi.

Hal itu diungkapkan Mentan Syahrul dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR. Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota Komisi IV DPR sempat mempertanyakan terkait manfaat dari subsidi pupuk, apalagi dana yang telah digelontorkan pemerintah mencapai Rp33 triliun.

Mentan Syahrul menyebutkan nilai manfaat dari penggunaan pupuk bersubsidi mencapai Rp347,2 triliun, berdasarkan luas baku sawah Nasional seluas 7,46 juta hektare.

"Kalau intervensi pupuk diturunkan saja dari kondisi sekarang, 50 persen saja, saya khawatir ini akan menurunkan 20-24 persen dari hasil yang ada. Dan itu triliunan. Jadi menurut saya, pupuk ini harus dilakukan (subsidi)," kata Mentan Syahrul dalam RDP bersama Komisi IV di Gedung DPR/MPR Senayan Jakarta, Senin.

Baca juga: Mentan sebut nilai manfaat subsidi pupuk capai 250 persen

Syahrul mengungkapkan nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp98,4 triliun, berdasarkan hasil kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Jika dibandingkan dengan anggaran yang digunakan rata-rata yakni dari tahun 2014-2020 sebesar Rp28,1 triliun, nilai manfaat dari subsidi pupuk mencapai 250 persen.

Mentan juga menegaskan sebelum ada kebijakan subsidi pupuk, produktivitas tanaman paling tinggi hanya berkisar 3,5-4 ton per hektare (ha). Dengan adanya subsidi yang membuat petani bisa mengakses pupuk, produktivitas meningkat mencapai 6-7 ton per ha.

Ada pun terkait dengan isu kelangkaan pupuk di berbagai daerah, Mentan Syahrul menilai peningkatan distribusi pupuk harus ditingkatkan dengan koordinasi bersama PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebagai produsen dan BUMN yang ditugaskan dalam penyaluran pupuk bersubsidi.

Baca juga: DPR ungkap penyebab keterlambatan penyaluran pupuk subsidi ke petani

"Minimal pengawasan harus ditingkatkan, terutama di lini kios-kios perlu konsentrasi, karena biasanya dari lini 1 dan 2 tidak ada masalah, begitu lini 4 di situ bermasalah," kata Mentan Syahrul.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman menyatakan posisi stok pupuk subsidi saat ini mencapai 1,9 juta ton, tersebar di lini I-III, berdasarkan data per 20 Januari 2021.

"Posisi saat ini di lini I totalnya ada 381.416 ton dari segala jenis pupuk, lini II di gudang distribusi kami ada 343.006 ton dan di lini III yang sudah masuk ke kabupaten dan gudang distributor ada sekitar 1,2 juta ton dan yang sudah kami sebar ke kios atau di lini IV adalah sebesar 226.904 ton," kata Bakir.

Baca juga: Pupuk Indonesia sebut penerbitan SK dinas jadi kendala salurkan pupuk

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mentan serahkan bantuan bibit dan sembako untuk korban banjir di Kalsel

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar