Presiden Afrika Selatan minta negara maju tidak timbun vaksin COVID-19

Presiden Afrika Selatan minta negara maju tidak timbun vaksin COVID-19

Petugas kesehatan mendampingi pasien di dalam tenda yang dipasang di lapangan parkir Rumah Sakit Akademi Steve Biko, ditengah penguncian nasional akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Pretoria, Afrika Selatan, Senin (11/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Siphiwe Sibeko/HP/djo

Johannesburg (ANTARA) - Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Selasa, mendesak negara-negara maju tidak menimbun vaksin COVID-19 dan ia menyebut negara-negara di seluruh dunia harus bekerja sama untuk melawan pandemi.

Kasus kematian akibat COVID-19 di Afrika Selatan hampir mencapai setengah dari total korban jiwa di Afrika. Negara-negara di Afrika saat ini kesulitan mengamankan persediaan vaksin COVID-19 untuk memulai vaksinasi 1,3 miliar penduduk.

"Kami meminta agar mereka yang menimbun segera membagikan vaksinnya sehingga negara lain dapat memiliki persediaan," kata Ramaphosa saat pertemuan World Economic Forum (WEF) yang diadakan virtual Selasai.

"Negara-negara kaya membeli vaksin dalam jumlah besar .... Beberapa negara membeli dosis vaksin empat kali lipat lebih banyak dari kebutuhan warganya ... (sehingga) itu mengurangi jatah vaksin bagi negara lain," kata dia.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus minggu lalu menyebut akses vaksin yang tidak setara sebagai "kegagalan moral yang merusak". Ia mendesak negara-negara dan pembuat vaksin untuk memastikan vaksin terbagi rata ke seluruh negara dunia.

Uni Afrika, lembaga yang dikepalai oleh Ramaphosa, bulan ini telah mengamankan 270 juta dosis vaksin COVID-19 sebagai tambahan atas 600 juta dosis vaksin yang diperoleh dari skema pengadaan vaksin global, COVAX.

COVAX merupakan kerja sama pembelian vaksin yang digerakkan oleh WHO, bersama Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) dan Aliansi Vaksin Global (GAVI).

Ratusan juta dosis vaksin itu dijadwalkan siap tahun ini, tetapi belum ada yang disalurkan ke Afrika. Namun, beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika, telah menerima jatah vaksin dan memulai program vaksinasi massal.

Inggris, misalnya, telah memesan 367 juta dosis vaksin dari tujuh perusahaan untuk kurang lebih 67 juta penduduknya, sementara Uni Eropa telah membeli hampir 2,3 miliar dosis vaksin untuk 450 juta warga Eropa.

Ramaphosa, yang dikritik warganya karena kurang cepat mengamankan persediaan vaksin, mengatakan negara-negara Afrika membutuhkan akses membeli vaksin yang cepat.

"Kita tidak akan selamat jika masih ada negara yang sudah memulai vaksinasi dan ada negara yang belum," kata dia.

Afrika Selatan sejauh ini telah melaporkan lebih dari 1,4 juta kasus positif dan 41.000 di antaranya meninggal dunia. Jumlah kasus positif di Afrika telah melewati angka 3,4 juta jiwa dan 86.000 di antaranya tewas akibat COVID-19.

Upaya Afrika Selatan mengamankan persediaan vaksin sampai dua pertiga dari 60 juta total penduduknya terhambat masalah keuangan. Tidak hanya itu, negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah juga harus membiayai sendiri pengadaan vaksin via COVAX.

Afrika Selatan dijadwalkan menerima 1,5 juta dosis vaksin buatan AstraZeneca/Oxford University, yang diproduksi di India, pada Januari dan Februari 2021. Otoritas di Pretoria mengatakan pihaknya akan menerima sembilan juta dosis vaksin buatan Johnson & Johnson, tetapi waktu pengiriman masih belum diketahui.
Baca juga: Afrika Selatan beli vaksin AstraZeneca dengan harga lebih mahal
Baca juga: Afrika Selatan dijanjikan 9 juta dosis vaksin COVID Johnson & Johnson


Sumber: Reuters

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Suharto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar