Artikel

Menilik kebutuhan pangan Sulteng selama pandemi COVID-19

Oleh Anas Masa

Menilik kebutuhan pangan Sulteng selama pandemi COVID-19

Pedagang beras di Pasar Induk Tradisional Masomba Palu, (Foto Antara/Anas Masa) (Antara/Anas Masa)

Palu, Sulteng (ANTARA) - Provinsi Sulawesi Tengah sejak 1984 sudah mencacat dirinya sebagai salah satu daerah di Jantung Pulau Sulawesi yang mencapai swasembada pangan, khususnya beras.

Sejak saat itu hingga sekarang ini, beras produksi petani Sulteng juga banyak dikirim antar pulau ke sejumlah daerah di kawasan Timur Indonesia.

Daerah-daerah yang pernah mendapat pasokan beras produksi petani Sulteng seperti Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku.

Sebagian lagi,hasil panen petani dibeli oleh Dolog (Depot Logistik) dan sekarang adalah Badan Urusan Logistik (Bulog) yang ada di provinsi itu.

Masyarakat di Sulteng selama ini masih sangat bergantung pada beras.

Padahal, masih banyak sumber bahan makanan lainnya seperti umbi-umbian, pisang, jagung, sagu dan lain yang bisa dikonsumsi masyarakat sehingga tidak tergantung hanya pada makanan dari beras.

Secara umum, Sulteng yang berpenduduk sekitar 3 juta jiwa tidak akan pernah kekurangan pangan, khususnya beras, sebab setiap tahunnya produksi petani jauh melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Sulteng setiap tahun surplus beras sekitar 300.000 ton. Total produksi petani setiap musim panen (MP) setahun diatas satu juta ton.

Karena itu, di masa pandemi COVID-19 yang dialami Indonesia sejak 2020 hingga 2021 ini, Sulteng dijamin aman untuk kebuthan pangan.

Ketahanan stok

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulteng, Abdullah Kawulusan menjamin ketersediaan pangan, termasuk di dalamnya daging, telur,minyak goreng, gula dan lainnya.

Sulteng dijamin aman soal persediaan kebutuhan pangan baik yang ada di pasaran maupun di tingkat petani cukup memadai.

Misalkan, untuk beras, hasil panen sebelumnya pada 2020 masih banyak yang disimpan petani dan juga dikuasai pedagang dan Bulog Sulteng.

Kebutuhan pangan masyarakat Sulteng tidak perlu dikahawatirkan, sebab secara produksi masih suprlus beras. Selain itu, Sulteng juga memiliki banyak cadangan pangan nonberas.

Sehingga tidak mungkin, masyarakat di provinsi ini kekurangan, apalagi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Abdullah mengemukakan tingkat konsumsi beras masyarakat Sulteng sebanyak 118 kg per kapita/tahun.

Sementara luas luas panen sawah produktif di Sulteng berdasarkan data mencapai 203 918 hektare dengan produksi per tahunnya 1.001 949,19 ton dan produktivitas 49,13 per hektare.

Pemerintah pusat maupun provinsi dan kabupaten di Sulteng dalam menjaga ketahanan stok pangan di daerah ini juga setiap tahun melakukan pencetakan sawah baru sebagai upaya meningkatkan produksi padi/beras.

Selain pencetakan sawah baru, juga diikuti pula dengan bantuan alat-alat pertanian,benih,pupuk dan obat-obatan. "Semua dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi dan juga tentu komoditi pangan lainnya," ujarnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng, Trie Iriyani Lamakampali juga meneguhkan bahwa selama masa pandemi COVID-19, Sulteng dijamin tak akan kekurangan stok pangan cukup memadai.

Bahkan, Sulteng saat gempabumi di Sulbar, juga mengirim berbagai bantuan, termasuk beras guna meringankan penderitaan dan beban korban gempabumi di wilayah Mamuju dan Majene.

Pemerintah Sulteng ikut menyalurkan bantuan bahan makanan dan lainnya yang dibutuhkan korban gempabumi di Sulteng.

"Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Sulteng menyalurkan beras untuk para korban gempabumi di Sulteng," kata dia.

Harga aman

Kepala Dinas Peridustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng, Armando Djanggola mengatakan hasil survei dan monitoring lapangan, harga berbagai jenis komoditi pangan dan lainnya di tingkat pengecer cukup aman.

Terutama beras, kata dia, stok di tangan petani,distributor maupun pedagang hingga kini cukup memadai dan harga reatif stabil terkendali.

Pihaknya bersama satgas pangan dan tim pengendali inflansi daerah (TPID) rutin turun lapangan untuk menjaga stok dan harga di tingkat pengecer.

Namun, kata dia, selama masa pandemi COVID-19 pada 2020 sampai saat ini, pemerintah daerah mulai di tingkat provinsi sampai kabupaten/kota di Sulteng berhasil mengamankan dan mengendalikan harga pangan dan kebutuhan lainnya di pasaran.

Soal ketersediaan dan harga pangan di Sulteng, kata dia, tidak perlu dikhawatirkan, sebab begitu ada komoditi strategis yang bergerak naik, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota langsung melakukan intervensi pasar.

Selama ini intervensi pasar, pemerintah daetrah kerja sama dengan Bulog Sulteng melakukan operasi pasar . Misalkan jika harga beras naik, Bulog langsung intervensi dengan menjual beras dibawah harga sehingga pedagang kembali menurunkan harga penjualan tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Peran Bulog

Bulog Sulawesi Tengah selaku salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dipercayakan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beberapa komoditi pangan di daerah cukup berperan penting dalam melaksanakan intervensi pasar saat harga bergejolak.

Bulog sekarang ini tidak sama lagi dengan sebelumnya yang masih bernama Dolog. Kalau dahulu hanya semata-mata membeli dan menyalurkan beras, tetapi sekarang ini menjual beberapa komoditi strategis.

Sejak beberapa tahun terakhir selain membeli beras dan menjualnya, juga gula pasir, daging sapi, daging kerbau, minyak goreng, daging ayam dan telur, serta tepung terigu.

Hingga kini Bulog masih memiliki cadangan stok beras di gudang mencapai 15.000 ton. Beras itu seluruhknya adalah produksi petani lokal.

Artinya, Bulog Sulteng memprioritaskan pembelian beras produksi petani di Sulteng. Pada 2020 realisasi pengadaan beras oleh Bulog di Sulteng mencapai sekitar 18.000 ton dari target 20.000 ton.

Pada 2021 ini, kata Kepala Kantor Wilayah Perum Bulog Sulteng, Basirun, ditergetkan membeli sebanyuak 30.800 ton beras produksi petani lokal.

Namun, hingga kini Bulog belum membeli beras PSO karena musim panen belum berlangsung. Panen raya baru akan dimulai Maret-April 2021.

Tetapi, untuk kebutuhan komersial, Bulog sudah membeli beras kualitas terbaik sekitar 250 ton.

Bulog dalam melaksanakan pembelian beras ada dua sisi, pertama membeli beras medium dan kedua membeli beras premium.

Dia juga menjamin stok beras yang ada di gudang Bulog saat ini masih cukup memadai untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.
Tumpukan beras di gudang Bulog di Kelurahan Tondo, Palu Timur. Kepala Bulog Sulteng (kanan) dan Kepala Dinas Sosial Sulteng Ridwan Mumu saat sidak ke gudang beberapa waktu lalu, (Foto Antara/Anas Masa) (Antara/Anas Masa)

 

Oleh Anas Masa
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Polda Sulteng selidiki keterlibatan pemodal di tambang ilegal Parigi Moutong

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar