Aplikasi digital, senjata utama bisnis saat pandemi

Aplikasi digital, senjata utama bisnis saat pandemi

Ilustrasi - Wanita memegang smartphone dengan aplikasi dompet digital. ANTARA/Shutterstock/pri.

Jakarta (ANTARA) - Aplikasi digital selama pandemi virus corona di berbagai negara dipandang sebagai alat yang wajib ada demi mendukung bisnis perusahaan.

"Gaya hidup berubah, aplikasi digital jadi prioritas nomor satu," kata Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, saat diskusi virtual, Kamis.

Pandemi COVID-19 mengubah banyak aspek kehidupan, terutama yang berkaitan dengan pertemuan langsung.

F5 melihat memiliki aplikasi saja belum cukup, aplikasi tersebut harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kebutuhan yang selalu berubah, terutama jika aplikasi tersebut untuk berhubungan dengan konsumen.

"Sejak pandemi, aplikasi menjadi tulang punggung bisnis. Ketika bisnis ingin berinteraksi, baik dengan konsumen atau mitra, 'engagement' banyak lewat aplikasi," kata Surung.

Baca juga: Pemerintah gandeng asosiasi fintech genjot ekonomi digital nasional

Baca juga: Indonesia dukung ekosistem digital aman dan transformatif ASEAN


F5 mengutip COVID-19 Digital Engagement Report dari Twilio, pandemi virus corona mempercepat waktu transformasi digital yang biasanya dilakukan dalam enam bulan, menjadi hanya tiga bulan.

Sementara di Indonesia, menurut The Promising Future of Indonesia's Digital Economy, pandemi virus corona membuat lompatan 18 bulan dalam hal transformasi digital.

Lompatan ini terjadi hampir di semua industri. Temuan Mobile Marketing Association, banyak orang yang akhirnya mencoba menggunakan untuk pertama kalinya aplikasi telemedis (38 persen) dan belajar online (34 persen).

Harapan masyarakat terhadap aplikasi pun tinggi, terutama jika mereka sudah terbiasa menggunakan teknologi sebelum pandemi.

Pengguna akan mengharapkan pengalaman yang sama baiknya antara aplikasi existing dengan aplikasi yang baru muncul, termasuk untuk sektor yang baru "go digital" ketika pandemi.

F5 Indonesia melihat masih ada sejumlah aplikasi yang menggunakan pendekatan tradisional, yaitu sebagai "point of solution", bukan sebuah platform.

Pendekatan tradisional ini, menurut Surung, sudah tidak bisa dipertahankan di era digital ini karena hampir tidak mungkin memberikan pengalaman yang luar biasa.

"Kunci bisnis ke depan adalah bagaimana bisa menghadirkan pengalaman digital yang bisa membuat konsumen senang," kata Surung.

Baca juga: Metode "inbound marketing" perlu dikombinasikan dengan teknik lainnya

Baca juga: Kominfo ajak talenta digital Indonesia buat aplikasi selama pandemi

Baca juga: UMKM yang beralih ke digital lebih bertahan di masa pandemi

 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Perpanjang SIM lewat aplikasi daring, ini panduannya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar