WHO peringatkan "terlalu dini longgarkan" penguncian di Eropa

WHO peringatkan "terlalu dini longgarkan" penguncian di Eropa

Sebuah truk memblokir jalan tol M20 dimana truk-truk mengantri menuju pelabuhan Dover, saat negara Uni Eropa memberlakukan larangan perjalanan dari United Kingdom menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di dekat Ashford, Inggris, Rabu (23/12/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Peter Nicholls/foc/cfo.

Jenewa (ANTARA) - Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Kawasan Eropa Hans Kluge pada Kamis mengatakan tingkat penularan COVID-19 di Eropa masih sangat tinggi, sehingga membuat layanan kesehatan begitu kewalahan dan oleh karenanya "terlalu dini untuk melonggarkan" penguncian.

"Kita perlu bersabar, perlu waktu untuk melakukan vaksinasi. Kita sudah pernah memetik pelajaran yang berharga - membuka dan menutup, dan membuka kembali pembatasan sosial bagi (masyarakat) secara terburu-buru merupakan strategi buruk dalam upaya mencegah penularan virus corona," katanya saat konferensi daring.

"Tingkat penularan di seluruh Eropa masih sangat tinggi, yang berdampak pada sistem kesehatan dan menyebabkan layanan kesehatan kewalahan, sehingga terlalu dini untuk berleha-leha," kata Kluge.

"Menekan penularan membutuhkan upaya yang berkelanjutan dan konsisten. Ingat, lebih dari 3 persen orang di kawasan telah terinfeksi COVID-19. Area yang pernah mengalami wabah parah bisa terkena lagi," lanjutnya.

Baca juga: Uni Eropa targetkan vaksinasi 70% orang dewasa per Agustus 2021

Baca juga: Menteri Jerman serukan 'pembagian adil' distribusi vaksin di Eropa


Dia menyebutkan bahwa sebanyak 35 negara di Eropa telah meluncurkan program vaksinasi dengan pemberian 25 juta dosis vaksin hingga kini.

"Vaksin ini telah menunjukkan keampuhan dan keamanan yang kita semua harapkan ... kerja keras luar biasa ini akan menghilangkan tekanan terhadap sistem kesehatan kita dan pastinya menyelamatkan nyawa."

Kluge mengatakan tingkat penularan yang masih tinggi dan kemunculan varian baru COVID-19 membuat upaya vaksinasi kelompok prioritas menjadi hal yang mendesak, namun ia juga menilai bahwa tingkat produksi dan distribusi vaksin sejauh ini belum memenuhi harapan.

"Paradoks ini, di mana masyarakat merasakan ada akhir (pandemi) dengan adanya vaksin, tetapi pada saat yang sama, mereka diminta untuk mematuhi aturan pembatasan dalam menghadapi ancaman baru. Hal ini menyebabkan ketegangan, kecemasan, kelelahan dan kebingungan. Ini dapat dipahami sepenuhnya dalam kondisi saat ini," ujar Kluge.

Sumber: Reuters

Baca juga: Atasi varian baru COVID, Uni Eropa sasar peningkatan uji deteksi

Baca juga: Jerman akan larang pengunjung dari Inggris, Portugal terkait COVID-19

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar