Jubir: Vaksin COVID-19 untuk cegah orang jadi sakit bukan penularan

Jubir: Vaksin COVID-19 untuk cegah orang jadi sakit bukan penularan

Tangkapan layar - Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi COVID-19 Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (21/1/2021). ANTARA/Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden/pri. (ANTARA/Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jadi vaksin bukan mencegah seseorang menjadi tertular. Kemungkinan tertular itu ada. Tapi kalau pun tertular, ada kemungkinan tidak menjadi sakit.
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa fungsi utama vaksinasi COVID-19 adalah untuk mencegah seseorang menjadi sakit karena COVID-19, bukan untuk mencegah kemungkinan penularan virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit itu.

"Jadi vaksin itu mencegah kita menjadi sakit, bukan mencegah kita menjadi tertular," kata Nadia yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, kepada ANTARA, Jumat.

Ia mengatakan seseorang yang telah mendapat suntikan vaksin masih memiliki kemungkinan terinfeksi. Tapi itu bukan karena vaksinnya melainkan karena penderita kemungkinan saat divaksin telah terpapar pada beberapa hari sebelumnya. Sementara masa inkubasi penularan virus SARS-CoV-2 adalah 14 hari.

Baca juga: Jubir pastikan capaian vaksinasi COVID-19 masih sesuai target

"Jadi bisa saja dia sudah terpapar, tapi belum ada gejala, sehingga tidak dilakukan pemeriksaan ataupun belum diketahui bahwa dia sudah positif COVID-19," katanya.

Ia mengatakan bahwa dari hasil uji klinis di Bandung sebelumnya memang menunjukkan bahwa ada tujuh orang yang sudah divaksin tetapi kemudian mereka juga terinfeksi COVID-19. Itu menunjukkan bahwa ketujuh orang tersebut telah terinfeksi terlebih dahulu sebelumnya akhirnya mendapatkan vaksinasi.

Berikutnya, Nadia juga mengatakan bahwa vaksinasi COVID-19 membutuhkan waktu untuk dapat membentuk kekebalan tubuh.

Baca juga: Dokter ajak sukseskan vaksinasi COVID-19 perkuat perlindungan diri

"Jadi tidak bisa satu kali suntik kemudian dia menjadi kebal terhadap virus SARS-CoV-2," katanya.

Dan pada kondisi seseorang telah disuntik dua kali vaksin COVID-19, tetapi 14 hari setelah itu orang tersebut masih terkena COVID-19, kemungkinan tersebut juga masih dapat terjadi karena vaksin COVID-19 tidak mencegah seseorang untuk tertular penyakit itu, tetapi untuk mencegah seseorang tersebut menjadi sakit karena COVID-19.

"Jadi bukan mencegah kita menjadi tertular. Kemungkinan tertular itu ada. Tapi kalau pun kita tertular, ada kemungkinan kita tidak menjadi sakit dengan adanya vaksin. Ada kemungkinan kita tidak menjadi sakit, ataupun sakitnya itu tidak menjadi berat," demikian Nadia.

Baca juga: Pemerintah optimistis terhadap periode vaksinasi yang telah disusun

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#jagajarak
#pakaimasker
​​​​​​​#vaksincovid19

Pewarta: Katriana
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenkes canangkan imunisasi 3 antigen cegah kematian

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar