Onkolog: Satu dari delapan perempuan berisiko terkena kanker payudara

Onkolog: Satu dari delapan perempuan berisiko terkena kanker payudara

Spesialis Bedah Onkologi dr. Walta Gautama berbicara dalam diskusi tentang Peran Bidan pada Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara secara virtual, Jakarta, Selasa (2/2/2021). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Spesialis Bedah Onkologi dr. Walta Gautama mengatakan bahwa satu dari delapan perempuan berisiko terkena penyakit kanker payudara dalam hidupnya, dengan berbagai faktor risiko yang dimiliki.

"Jadi, bayangkan betapa tinggi angkanya," kata Walta dalam diskusi tentang Peran Bidan pada Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara secara virtual, Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan kanker payudara merupakan jenis kanker terbesar yang menyerang perempuan pada saat ini, dimana jenis tersebut menduduki urutan pertama sebagai kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan dibandingkan pada laki-laki.

Kanker payudara merupakan tumor ganas yang menyerang jaringan payudara yang berasal dari kelenjar, dengan sebagian di antaranya berasal dari saluran ASI, yaitu pada saluran kelenjar payudara.

Baca juga: Pemeriksaaan payudara mandiri penting temukan gejala kanker lebih dini

Baca juga: Onkolog: Penting kenali gejala kanker payudara lebih dini


Kanker payudara terjadi karena ada kerusakan gen yang mengatur pertumbuhan, sehingga sel tumbuh dan berkembang biak tanpa dapat dihentikan.

"Dalam satu sistem sel normal, ada fase dimana sel ini tumbuh dan fase dimana sel itu diperintahkan untuk stop tumbuh dan diakhiri dengan bunuh diri sel. Jadi sel itu melakukan kematian dirinya. Ada perintah untuk kematian sel. Nah, ini semua rusak pada kanker, dimana dia tetap tumbuh, tidak mati-mati," katanya.

Untuk melihat lebih jelas kemungkinan seseorang dapat terkena kanker payudara, orang tersebut perlu mengetahui faktor apa saja yang berisiko menyebabkan terjadinya kanker payudara, salah satunya adalah faktor usia.

"Semakin tua usianya semakin berisiko untuk terkena kanker payudara dan pada wanita risiko ini lebih banyak daripada pria. Pria kurang dari 5 persen angka kejadian kanker payudara," katanya.

Kemudian, riwayat keluarga dekat juga sangat terkait dengan risiko kanker payudara. Jika ada kerabat dekat yang menderita kanker payudara, seseorang itu juga berisiko terkena penyakit serupa. Demikian juga kerabat yang memiliki riwayat penyakit yang berkaitan erat dengan penyakit kanker payudara, yaitu kanker ovarium, kanker pankreas, kanker prostat, dan kanker usus besar.

"Kalau ada riwayat keluarga dekat dengan kanker prostat yang banyak, dia juga harus berpikir untuk masuk ke dalam faktor risiko kanker payudara," kata Walta.

Selanjutnya, riwayat haid atau menstruasi juga memiliki risiko terkena kanker payudara, yaitu jika menstruasi terjadi pertama kali pada usia di bawah 12 tahun.

Selain itu, seseorang yang mengalami menopause juga berisiko terkena kanker payudara apabila menopause itu terjadi pada usia sekitar 48 tahun atau dengan paparan hormon estrogen lebih dari 35 tahun.

"Itu ada hitungannya sebenarnya. Kalau paparan hormon itu berlangsung lebih dari 35 tahun, dia akan masuk ke dalam faktor risiko. Misalnya ada ibu umur 60 tahun, dia menopause pada usia 55 tahun dan dia menstruasi pertama umur 12 tahun. Jadi kurang lebih 43 tahun dia terpapar oleh hormon. Maka dia masuk ke dalam faktor risiko," katanya.

Begitu juga dengan riwayat reproduksi yang juga berisiko terkena kanker payudara.

Baca juga: Kanker payudara mulai menyasar generasi milenial

Baca juga: Memilih bra tanpa kawat yang nyaman


"Karena orang yang tidak punya anak berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Karena pada saat wanita itu hamil kanker payudara diperkirakan berhubungan dengan hormon estrogen. Pada saat wanita hamil, payudaranya istirahat dan estrogennya dipakai oleh rahim untuk elastis," kata dia.

Adapun riwayat radiasi atau terapi radiasi pada daerah leher dan dada saat anak usia muda juga berisiko terkena kanker payudara.

"Riwayat radiasi yang dimaksud adalah bukan radiasi seperti rontgen, CT Scan atau mamografi. Riwayat radiasi di sini adalah radiasi terapi untuk keganasan atau kanker-kanker di daerah dada, leher pada usia muda," katanya.

Sementara itu, gaya hidup juga memengaruhi seseorang untuk terkena kanker payudara. Gaya hidup yang berisiko terkena kanker payudara adalah konsumsi lemak secara berlebihan, mengonsumsi alkohol dan nikotin atau merokok.

Untuk mencegah risiko kanker payudara karena gaya hidup tersebut, perlu dilakukan perubahan gaya hidup, yaitu dengan menghindari konsumsi bahan-bahan yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Selain itu, pemeriksaan dini juga perlu dilakukan untuk mencegah risiko tingkat keparahan yang lebih besar dan mempercepat proses penyembuhan.

"Jadi, kenapa penting melakukan deteksi dini kanker payudara? Karena semakin dini kanker payudara dideteksi, makin banyak pilihan terapi, makin tinggi angka kesembuhan dan makin rendah biaya yang dikeluarkan," kata dr. Walta Gautama.

Pewarta: Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenkes : Kanker payudara, jenis kasus kanker terbanyak di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar