Pengamat: Gerakan "Jateng di Rumah Saja" bisa kurangi mobilitas

Pengamat: Gerakan "Jateng di Rumah Saja" bisa kurangi mobilitas

Dokumentasi - Warga yang mengenakan baju APD melakukan aksi dengan membawa poster imbauan "Tahun Baru di Rumah Saja" di Gladak, Solo, Jawa Tengah, Kamis (31/12/2020). Aksi tersebut untuk mengajak warga agar tetap di rumah saja saat perayaan Tahun Baru guna menghindari penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/pras.

Purwokerto (ANTARA) - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Slamet Rosyadi mengatakan gerakan "Jateng di Rumah Saja" yang akan dilaksanakan di seluruh Jawa Tengah pada 6-7 Februari bisa mengurangi mobilitas masyarakat dan mencegah penyebaran COVID-19.

"Saya pikir program 'stay at home' dalam jangka pendek bisa mengurangi mobilitas masyarakat," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.

Hal tersebut kata dia akan berdampak positif terhadap upaya pengendalian penyebaran COVID-19.

Namun demikian, kata dia, program tersebut harus diiringi dengan penegakan disiplin protokol kesehatan secara masif agar masyarakat dapat mematuhi dan melaksanakan aturan yang berlaku.

Baca juga: Ganjar gagas 'Gerakan Jateng di Rumah Saja' mulai akhir pekan ini

"Para perangkat daerah tingkat kecamatan hingga desa atau kelurahan juga harus berperan lebih aktif dalam melaksanakan sosialisasi protokol kesehatan dan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan di wilayah masing-masing," katanya.

Selain itu pelaksanaan operasi yustisi dengan melibatkan seluruh unsur terkait, kata dia, harus lebih digencarkan, terutama saat pelaksanaan gerakan "Jateng di Rumah Saja".

Kendati demikian dia juga mengatakan bahwa selama penerapan program tersebut, pemerintah daerah juga harus memperhatikan dampak sosial dan ekonomi terutama bagi masyarakat yang bekerja dengan upah harian.

"Perlu dipikirkan juga bahwa untuk mereka yang bekerja dengan upah harian atau usaha kecil akan sangat terdampak secara ekonomi. Pemerintah daerah harus mempersiapkan solusi misalkan dengan memberikan bantuan sosial," katanya.

Baca juga: Ganjar pastikan seluruh daerah dukung "Jateng di Rumah Saja"

Selain itu, kata dia, program tersebut juga harus diiringi dengan tes cepat antigen atau tes usap PCR secara masif.

"Program tinggal di rumah perlu diikuti juga dengan pengujian PCR secara masif untuk memastikan siapa yang sehat dan yang sakit," katanya.

Sementara itu seperti diwartakan sebelumnya Gubernur Ganjar Pranowo memastikan seluruh daerah di Provinsi Jawa Tengah mendukung gerakan "Jateng di Rumah Saja" untuk mengurangi jumlah kasus COVID-19.

Ganjar juga meminta masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam melaksanakan gerakan "Jateng di Rumah Saja" yang bakal dilaksanakan pada 6-7 Februari 2021 atau akhir pekan ini.

Orang nomor satu di Jateng itu juga mengimbau masyarakat untuk menunda seluruh kegiatan yang sudah direncanakan pada akhir pekan nanti agar pelaksanaan Gerakan "Jateng di Rumah Saja" bisa berjalan dengan baik.

Melalui surat edaran, Ganjar juga akan meminta restoran, tempat wisata hingga pasar untuk tutup selama dua hari tersebut, namun pelayanan umum, seperti kesehatan dan transportasi publik tetap beraktivitas dengan pengetatan protokol kesehatan.

Baca juga: Banyumas tidak tutup pasar saat Gerakan Jateng di Rumah Saja

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Fokus Operasi Keselamatan Lalu Lintas Candi 2021 di Jawa Tengah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar