Isu sawit Indonesia-EU, Hongaria dukung perlakuan yang adil

Isu sawit Indonesia-EU, Hongaria dukung perlakuan yang adil

Ilustrasi kebun kelapa sawit. (ANTARA/Joko Nugroho)

Jakarta (ANTARA) - Hongaria menyatakan pihaknya mendorong perlakuan yang adil dalam penyelesaian isu minyak kelapa sawit antara Indonesia dengan Uni Eropa (EU), meskipun negara itu merupakan bagian dari blok tersebut.

"Mengenai masalah sawit, penting untuk melihat bahwa Hongaria adalah anggota dari Uni Eropa, dan kami bersikap sebagaimana EU karena itu merupakan pandangan bersama negara anggota, termasuk Hongaria," kata Duta Besar Hongaria untuk Indonesia Judit Pach kepada ANTARA, dalam wawancara khusus pada Rabu.

"Namun Hongaria juga ingin mendorong dan akan terus membela perlakuan yang adil bagi Indonesia, dan kami akan selalu menjaga agar suara Indonesia didengar dengan baik," ujar dia menambahkan.

Isu minyak kelapa sawit mencuat dalam hubungan perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa pada 2019 lalu, usai blok itu meluncurkan kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) dan Delegated Regulation--yang disebut oleh Pemerintah Indonesia sebagai diskriminasi sawit.

Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar, pada 14 Januari 2021, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menentang segala bentuk proteksionisme yang berkedok kampanye lingkungan.

Indonesia telah membawa sengketa tersebut ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dengan mengajukan gugatan terhadap Uni Eropa secara resmi pada 9 Desember 2019, atas tuduhan pembatasan akses pasar produk minyak sawit dan biofuel berbasis sawit Indonesia.

Hingga saat ini, gugatan Indonesia di WTO atas persoalan sawit dengan EU masih dalam proses.

"Namun kami yakin dalam proses pengadilan sekarang dijalankan perlakuan yang adil dan tengah dilakukan pembahasan, yang saya percaya (bertujuan) untuk kepentingan semua pihak  dan kami berharap isu ini dapat segera diselesaikan," demikian  Pach.

Berdasarkan catatan resmi, perdagangan Indonesia dan EU turun hingga 11% dalam 10 bulan pertama di tahun 2020, sebagaimana disampaikan Duta Besar EU untuk Indonesia Vincent Piket dalam pemaparan media awal tahun, 13 Januari 2021.

"Indonesia bertahan surplus  kebanyakan berkat keberhasilan negara ini dalam ekspor minyak kelapa sawit ke EU, yang faktanya naik sebesar tak kurang dari 27% secara nilai, dan 10% secara volume," kata Piket menjelaskan.

Baca juga: Dubes EU: tak ada target waktu untuk CEPA, isu sawit masuk bahasan

Pewarta: Suwanti
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Gubernur Babel tanam perdana sawit unggul untuk peremajaan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar