Dentuman di Malang Raya diduga berasal dari aktivitas petir

Dentuman di Malang Raya diduga berasal dari aktivitas petir

ilustrasi petir. (Pixabay.com)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang menyatakan bahwa suara dentuman keras yang terdengar oleh sebagian warga Malang Raya, Jawa Timur berasal dari aktivitas petir.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Stasiun Geofisika Malang Ma’muri mengatakan bahwa pada musim hujan seperti saat ini, banyak pembentukan awan hujan yang bisa menimbulkan petir.

"Sejauh ini, dugaan sementara (suara dentuman) itu mengarah ke aktivitas petir atau thunderstorm," kata Ma'muri di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis.

Ma'muri menjelaskan suara dentuman keras yang terdengar oleh sebagian warga Malang Raya pada Selasa (2/2) malam tersebut, dipastikan bukan berasal dari aktivitas di dalam bumi, namun berasal dari luar.

Baca juga: BMKG belum bisa pastikan sumber dentuman keras di Malang

Baca juga: Lapan: Dentuman di langit Bali diduga dari meteor jatuh


Menurut Ma'muri, BMKG Malang tidak mencatat adanya aktivitas guncangan atau gempa pada saat terjadi dentuman yang didengar sebagian warga Malang Raya tersebut. Seismograf milik BMKG Malang, tidak mencatat ada lonjakan aktivitas apapun dari dalam tanah.

"Untuk aktivitas dari dalam bumi akan terekam dalam seismograf. Sensor kami tidak mencatat itu, sehingga dugaan sementara berasal dari aktivitas petir," kata Ma'muri.

Ma'muri menambahkan dentuman yang diduga berasal dari aktivitas petir tersebut, masih merupakan dugaan sementara. Pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait, terkait asal sumber suara yang didengar sebagian warga itu.

Menurut Ma'muri, jika masyarakat masih ada yang mendengar dentuman pada siang hari, pihaknya masih akan melakukan kajian terkait suara tersebut. Karena, suara dentuman memiliki banyak penyebab seperti aktivitas gempa bumi atau petir.

Ma'muri menjelaskan ada tiga jenis petir yang terjadi di alam. Pertama, petir yang muncul dalam awan, kemudian pertemuan awan yang menyebabkan lompatan elektron dan menimbulkan petir, serta petir dari awan ke bumi.

"Untuk yang paling berbahaya adalah petir dari awan ke bumi. Tiga hal itu terkait dengan aktivitas petir. Seandainya itu dilihat dari suara dentuman hanya terjadi di atas, maka sebaran suara bisa kemana-mana," kata Ma'muri.

Ma'muri meminta masyarakat untuk tetap tenang menanggapi adanya bunyi dentuman tersebut. Namun, diharapkan bisa tetap waspada karena saat ini wilayah Indonesia memasuki musim hujan dengan curah yang tinggi.

"Sejauh ini aman, namun kita berusaha agar selalu waspada, terutama di musim hujan seperti saat ini," kata Ma'muri.

Berdasarkan catatan BMKG Malang, lanjut Ma'muri, suara dentuman keras pernah terdengar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Lampung, Sumatera Selatan, Buleleng Bali, dan DKI Jakarta.

Baca juga: Suara dentuman di Bali terekam sensor gempa BMKG

Baca juga: Suara dentuman di Jakarta, sebagian warga akui terasa getaran kecil


"Untuk di Lampung, karena meteor yang jatuh. Sementara di Jakarta, memang petir. Macam-macam penyebabnya. Untuk di Malang, belum bisa kita pastikan, namun dugaan sementara yang mengarah ke aktivitas petir," kata Ma'muri.

Pada Selasa (2/2) malam, sebagian warga Kota Malang melaporkan mendengar suara dentuman keras kurang lebih mulai pukul 23.40 WIB. Dentuman tersebut, terjadi berulang-ulang hingga kurang lebih pukul 04.00 WIB.

Pada Rabu (3/2) malam, juga kembali dilaporkan sebagian warga Kota Malang mendengar dentuman serupa, namun dengan suara yang lebih kecil.

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BMKG Denpasar pastikan suara dentuman di Bali bukan meteor

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar