Artikel

Googleplex, industri kreatif, dan satu masa tanpa ketersesatan

Oleh Hanni Sofia

Googleplex, industri kreatif, dan satu masa tanpa ketersesatan

Monumen Nasional atau Monas dilihat dari fitur Street View di aplikasi Google Maps. (ANTARA/Natisha Andarningtyas)

Jakarta (ANTARA) - Generasi mendatang barangkali tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya tersesat. Sebab dengan Google mereka akan selalu tahu dengan pasti dimana mereka berada dan arah kemana mereka pergi.

Namun semua harus kembali menyadari bahwa Google Maps and Google Earth tidak diciptakan dalam semalam. Kisah perjalanannya dipenuhi aral melintang, dari sebuah startup kecil di Silicon Valley, bernama Keyhole yang nyaris tidak selamat dari gejolak keuangan yang diakibatkan oleh fenomena dot-com bubble menjelang 2000-an.

Semua kemudian bisa mengambil pelajaran dari Keyhole’s product and marketing director, Bill Kilday yang merintis sebuah startup kecil di Mountain View, California, sampai kemudian mampu berpindah ke kantor dengan fasilitas terlengkap di Googleplex.

Sekaligus semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan Keyhole cikal bakal Google Map dan Earth yang berhasil menemukan teknologi yang memastikan manusia tak akan tersesat lagi dalam perjalanan.

Semua berawal ketika pada 1999 Bill Kilday mendapat telepon dari teman kuliah yang dikenalnya sejak menjadi mahasiswa baru di Universitas Texas, John Hanke. John ingin menunjukkan sesuatu yang sangat menarik kepada Bill.

Baca juga: Google Street View izinkan pengguna tambahkan foto

Bill dan tunangannya Shelley, pun kemudian menonton John mengoperasikan komputer di kamarnya. Di layar tertera foto bentangan bumi sebagai titik biru di angkasa. Bill dan Shelley pada awalnya tidak tertarik sama sekali sampai ketika keduanya melihat John melakukan zoom in dan zoom in hingga ukuran terdekat.

Aplikasi itu membuat mereka seperti sedang terbang layaknya Superman, ke belahan Amerika Utara, lalu ke Amerika Serikat, kemudian ke Austin, Texas, hingga mereka melihat atap rumah Bill dan Shelley. Mereka terpana.

Dari situlah kemudian mereka sepakat untuk merintis startup yang menawarkan layanan EarthViewer. Mereka menamai perusahaannya Keyhole dan menunjuk John sebagai CEO pertamanya.

Mereka banyak melayani klien-klien termasuk kompleks perumahan mewah. Hingga nasib membawa mereka pada takdir yang lebih besar.

Invasi Amerika Serikat ke Irak faktanya mengubah nasib Keyhole secara amat signifikan, ketika pada 27 Maret 2003, David Kornmann, salah satu karyawan di Keyhole, datang ke kantor dan mendapati ada fax yang masuk ke kantor berupa tawaran kontrak dari CNN senilai 75.000 dolar AS.

Jaringan berita kabel itu ingin menggunakan EarthViewer sebagai bagian dari peliputan mereka dalam perang Irak. Dari situlah kemudian seluruh dunia seperti dibukakan matanya bahwa ada perangkat yang membuat mereka bisa mengetahui informasi pada setiap jengkal dengan begitu mudahnya.

Seluruh dunia seperti mulai ingin turut serta menggunakan EarthViewer setelah sukses mereka merekam setiap jengkal perang di Baghdad.

Kisah mereka dibungkus dengan apik dalam sebuah buku berjudul Never Lost Again yang dirilis pada 2018 oleh penulisnya Bill Kilday yang sebelum pindah ke Google merupakan Direktur Marketing Keyhole.

Saat ini Bill Kilday menjabat sebagai Wakil Presiden Marketing Niantic Inc., penanggung jawab di Google untuk games yang berbasis GPS, seperti Ingress, Pokemon GO, dan Harry Potter: Wizard Unite.

Diakuisisi Google

Suatu hari yang cerah pada April 2004, kisah manis Keyhole berlanjut ketika duo pendirinya John Hanke dan Bill Kilday pergi berdua setelah pulang kantor.

John mengatakan kepada Bill bahwa ia punya rahasia sangat besar yang ia tak ingin bagi kepada siapapun termasuk kepada istrinya sekalipun.

Setelah memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka, John mengatakan kepada Bill bahwa Google ingin membeli perusahaan mereka.

Bill sangat terkejut sekaligus gembira, ia tahu bahwa Google baru saja mengumumkan go public perusahaan dan menjadi raksasa teknologi dengan valuasi mencapai 27 miliar dolar AS. Tetapi Bill sekaligus bingung mengapa perusahaan mesin pencari seperti Google ingin membeli Keyhole.

Baca juga: Google Assistant untuk mengemudi segera masuk Android

Faktanya, Google mengambil peluang untuk mendongkrak kinerja dan kapasitas mesin pencarinya ke level yang lebih tinggi saat mengakuisisi Keyhole pada 2004.

Setelah proses akuisisi tersebut rampung pada 2005, tim dan seluruh karyawan Keyhole berpindah ke Googleplex (kompleks perkantoran Google yang amat bergengsi di Silicon Valley yang dilengkapi seluruh fasilitas yang memanjakan karyawannya).

Tim Keyhole melanjutkan program pemetaan mereka yang kemudian melahirkan Google Maps dan Google Earth.

Dua program inilah yang kemudian mengubah peta komersial dunia, dari mulai cara berbisnis yang berbeda hingga bagaimana mengatasi bencana alam termasuk segala sesuatu di antaranya.

Ada begitu banyak inovator yang mendesain Google Maps untuk beragam versi yang mereka perlukan termasuk untuk keperluan melihat statistik tindakan kejahatan di Chicago, insiden brutal aparat di LA, praktik penebangan hutan di Pegunungan Santa Cruz, hingga kasus kecelakaan sepeda di Portland.

Seiring dengan semakin banyaknya pengembang web independen yang mengkombinasikan data yang mereka miliki dengan data Google untuk merancang produk yang sesuai kebutuhan, bersamaan yang lainnya mengembangkan pada tahap yang lebih tinggi.

Fakta inilah yang membuat ada begitu banyak perusahaan secara komersial sangat bergantung pada Google Maps secara keseluruhan.

Itu belum termasuk misalnya Hotels.com, Yelp, Zillow, Strava, Lyft, dan Uber. Beberapa di antara mereka bahkan bertransformasi menjadi perusahaan multimiliar dolar. Dan mereka hanya membangun model bisnis mereka dari belakang komputer melalui program yang disediakan oleh Google secara gratis.

Inspirasi Google

Kerja keras di balik terciptanya piranti anti-nyasar Google Maps mestinya menjadi inspirasi bagi startup-startup di tanah air untuk kreatif, inovasi, sekaligus disruptif.

Sayangnya iklim yang memungkinkan startup untuk tumbuh di Indonesia belum sepenuhnya ideal.

Padahal potensi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia masih sangat besar ditambah dengan potensi sumber daya manusia termasuk bonus demografi pada 2030 yang tak lama lagi.

Berbagai kampus di Indonesia sudah saatnya diarahkan untuk menjadi kampus vokasi yang tak sekadar menciptakan gelar namun juga wirausaha yang inovatif.

Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta misalnya yang sejak awal dibentuk untuk mewadahi bonus demografi di Indonesia sudah semestinya dioptimalkan sebagai kampus produksi, vokasi, dan pencetakan wirausaha.

Direktur Polimedia Purnomo Ananto mengatakan bahwa kampusnya memang bertujuan untuk mendorong penciptaan SDM yang siap memasuki industri dengan keahlian termasuk menjadi wirausaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Namun mestinya kampus tersebut sebagaimana kampus lainnya mendapat dukungan dari banyak pihak untuk bisa berperan seperti Stanford University yang memiliki ikatan sangat kuat dengan Silicon Valley, dimana lulusannya menjadi mesin penggerak lembah terkreatif yang teknologinya selalu mendisrupsi kehidupan manusia itu.

Pemerintah pun diharapkan untuk mendukung terciptanya iklim yang memungkinkan industri kreatif untuk tumbuh karena Silicon Valley sekalipun mendapatkan support yang tak pernah putus dari pemerintahnya.

Maka sekadar inspirasi dari Google boleh jadi bisa melahirkan penemuan serupa dari tanah air yang memungkinkan bangsa ini tak lagi mengenal kata tersesat sebagaimana Keyhole merintis mesin antinyasar Google Maps.

Oleh Hanni Sofia
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kata Menlu Retno tentang tidak adanya peta Palestina di Google Maps

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar