KPK cecar Nurhadi terkait tempat persembunyiannya

KPK cecar Nurhadi terkait tempat persembunyiannya

Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri. ANTARA/HO-Humas KPK

Saat tim mendekati mobil tersebut, Ferdy langsung pergi dengan mengemudi menggunakan kecepatan tinggi, kemudian menghilang ke arah Senayan.
Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencecar mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi terkait dengan proses penyewaan rumah yang dijadikan tempat persembunyiannya saat berstatus daftar pencarian orang (DPO).

KPK pada hari Senin memeriksa Nurhadi sebagai saksi untuk tersangka Ferdy Yuman (FY) dari unsur swasta dalam penyidikan kasus dengan sengaja mencegah dan merintangi atau menggagalkan secara langsung maupun tidak langsung penyidikan Nurhadi dan kawan-kawan.

"Didalami pengetahuannya terkait dengan proses penyewaan rumah yang ditempati oleh saksi saat berstatus DPO KPK di kawasan Simprug, Jaksel," ucap Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca juga: KPK panggil enam saksi kasus rintangi penyidikan Nurhadi

Diketahui, Nurhadi saat ini berstatus terdakwa perkara suap dan gratifikasi pengurusan perkara di MA.

Selain Nurhadi, KPK juga memeriksa empat saksi lainnya untuk tersangka Ferdy, yakni dua kasir PT Sly Danamas Money Changer Lily dan Sarofah, serta dua karyawan swasta Gunawan dan Erwin.

"Lili dan Sarofah dikonfirmasi terkait dengan aktivitas penukaran uang oleh tersangka FY. Gunawan dan Erwin didalami pengetahuannya terkait dengan keberadaan tersangka FY sesaat setelah menghilang dari tempat penangkapan NHD dan kawan-kawan di kawasan Simprug, Jaksel," kata Ali.

KPK telah menetapkan Ferdy sebagai tersangka pada hari Minggu (10/1).

Dalam konstruksi perkara dijelaskan bahwa pada tanggal 11 Februari 2020, KPK telah menerbitkan DPO atas nama tersangka Nurhadi, Rezky Herbiyono selaku menantu Nurhadi, dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto.

Baca juga: KPK benarkan polisi periksa Nurhadi atas dugaan pemukulan pada Kamis

Sejak 2017 sampai 2019, Ferdy bekerja sebagai sopir untuk Rezky dan keluarganya.

Pada bulan Februari 2020, Ferdy atas perintah dari Rezky membuat perjanjian sewa-menyewa rumah di Jalan Simprug Golf 17 Suites 1 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dengan pemilik rumah dan sekaligus menyerahkan uang sewa secara tunai sebesar Rp490 juta.

Pada bulan yang sama, Nurhadi bersama istrinya dan keluarga Nurhadi lainnya menempati rumah tersebut.

Pada bulan Juni 2020, tim penyidik KPK yang telah melakukan pemantauan sebelumnya, kemudian mendatangi rumah itu untuk menangkap Nurhadi dan Rezky.

Saat tiba di lokasi, Ferdy telah menunggu di dalam mobil Toyota Fortuner Hitam dengan pelat nomor kendaraan diduga palsu terparkir di luar pintu gerbang rumah bersiap-siap menjemput Rezky bersama keluarganya.

Baca juga: Nurhadi angkat bicara soal dugaan pemukulan ke petugas rutan KPK

Saat tim mendekati mobil tersebut, Ferdy langsung pergi dengan mengemudi menggunakan kecepatan tinggi, kemudian menghilang ke arah Senayan.

Sementara itu, tim KPK kembali ke arah rumah dan berhasil menangkap Nurhadi dan Rezky di dalam rumah tersebut.

Atas perbuatannya, Ferdy disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar