Gubernur BI: Masih ada ruang penurunan suku bunga acuan

Gubernur BI: Masih ada ruang penurunan suku bunga acuan

Tangkapan layar - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. ANTARA/Tangkapan layar Youtube Bank Indonesia/pri.

Masih ada ruang tentu saja kami akan melihat kemungkinannya, dengan tetap menjaga stabilitas khususnya NTR dan bagaimana lebih efektifnya mendorong pemulihan ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan pihaknya masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang saat ini berada di level 3,75 persen dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional.

“Masih ada ruang tentu saja kami akan melihat kemungkinannya, dengan tetap menjaga stabilitas khususnya NTR dan bagaimana lebih efektifnya mendorong pemulihan ekonomi,” katanya Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa.

Perry Warjiyo menyebutkan suku bunga acuan yang saat ini berada di level 3,75 persen sebelumnya telah diturunkan sebanyak lima kali pada 2020 dengan total 125 basis poin dan merupakan terendah sejak 2013.

Baca juga: BI kembali pertahankan suku bunga acuan 3,75 persen

Meski demikian Gubernur BI itu menuturkan penurunan suku bunga acuan akan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan efektivitas kebijakan tersebut pada stabilitas nilai tukar rupiah, stabilitas eksternal, serta dampaknya pada ekonomi nasional.

Oleh sebab itu Perry Warjiyo mengatakan  dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Januari 2021 pihaknya memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen.

"Kami akan melihat kemungkinannya dengan tetap menjaga stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar rupiah dan bagaimana lebih efektifnya mendorong pemulihan ekonomi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Baca juga: Gubernur BI: Suku bunga acuan akan tetap rendah

Sementara itu ia menyatakan dalam kebijakan pelonggaran likuiditas atau Quantative Wasing (QE) pihaknya telah menggelontorkan uang sebesar Rp740,7 triliun atau 4,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Ia merinci total angka tersebut berasal QE yang dilakukan pada 2020 sebesar Rp726,6 triliun atau 4,71 persen dari PDB dan Rp14,16 triliun hingga 4 Februari pada 2021.

"Ini adalah salah satu yang terbesar di antara emerging market dan ini terlihat dalam likuiditas perbankan. Alat likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) 31,67 persen dan suku bunga rendah sekitar 3,04 persen,” kata Gubernur BI itu.

Baca juga: Survei BI: Penjualan eceran Desember 2020 membaik, IPR naik 4,8 persen

Perry Warjiyo pun memastikan bahwa BI akan terus memperkuat koordinasi serta sinergi kebijakan bersama pemerintah, termasuk terkait pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana.

Ia menyebutkan untuk APBN 2020 baik sesuai dengan SKB I dan II pihaknya telah membeli dengan total Rp473,4 triliun meliputi SKB I Rp75,9 triliun dan SKB II Rp397,6 triliun. Berdasarkan perpanjangan SKB I pihaknya juga telah membeli di pasar perdana sebesar Rp35,7 triliun per 4 Februari.

“Ini koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat, tidak hanya kebijakannya tapi juga bersama-sama mempercepat stimulus fiskalnya untuk mendorong demand sektor riil dan pembiayaannya BI ikut berpartisipasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Baca juga: BI: Cadangan devisa Januari 2021 meningkat, capai 138 miliar dolar

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BI sebut peningkatan kasus COVID-19 pengaruhi ekonomi Sumbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar