Artikel

Saujana di Desa Wisata Serang Purbalingga

Oleh Wuryanti Puspitasari

Saujana di Desa Wisata Serang Purbalingga

Saujana (sejauh mata memandang) kabut mulai menyelimuti Desa Wisata Serang, Purbalingga, Jawa Tengah (ANTARA - Wuryanti Puspitasari)

...masih banyak desa wisata yang hanya mengandalkan pemandangan alam pedesaan saja
Purbalingga (ANTARA) - Udara dingin akan terasa menjalari punggung tangan saat mulai memasuki jalan aspal yang berkelok di objek wisata Lembah Asri Desa Wisata Serang (D'Las), Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Meskipun awan menyelimuti sinar matahari sejak pagi, namun sejauh mata memandang, puncak Gunung Slamet yang biasanya berkabut, terlihat menjulang dari balik perbukitan hijau.

Desa Serang merupakan magnet pariwisata yang menjadi salah satu andalan Kabupaten Purbalingga. Desa wisata yang berlokasi di kaki gunung tersebut memiliki pemandangan alam yang sangat indah.

Tanahnya yang gembur menjadikan sayur mayur dan buah-buahan tumbuh subur dan mendukung potensi agrowisata di tempat rekreasi tersebut.

Bahkan desa wisata ini memiliki wahana petik stroberi yang memungkinkan pengunjung untuk bisa bebas menjelajahi, memetik dan menikmati buah stroberi secara langsung. Kebun stroberi di desa ini sungguh indah dipandang dan buahnya manis untuk dinikmati.

Dengan kondisi udara yang sejuk, pemandangan yang indah, penduduk sekitar yang ramah dan wahana serta fasilitas yang lengkap, menjadikan desa wisata tersebut menjadi incaran banyak wisatawan.

Kondisi pandemi COVID-19 tidak menyurutkan tekad pengelola Desa Wisata Serang untuk terus bergeliat, mereka melakukan berbagai pembenahan dan inovasi agar desa wisata itu tetap dapat menjadi daya tarik.

Masa pandemi juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi dan melakukan renovasi wahana-wahana yang ada dan sekiranya sudah kurang menarik, untuk kemudian menggantinya dengan wahana yang baru.

Kepala Desa Serang Sugito mencontohkan wahana yang baru saja dibuka di desa wisata tersebut adalah Dino Land yang menghadirkan replika dari beberapa jenis dinosaurus.

Selain itu dalam waktu dekat ini pihaknya juga berencana untuk membuat tempat khusus untuk pusat kuliner atau tempat berkumpulnya pedagang makanan.

Pengelola berkeinginan agar nantinya para pedagang akan berkumpul di satu lokasi, yang akan dibangun sedemikian rupa agar dapat menjadi tempat yang representatif, bersih dan juga indah.

Selain itu pengelola juga melakukan peningkatan fasilitas dengan membangun cottage atau rumah dengan konsep ramah lingkungan untuk wisatawan yang ingin menginap sambil menikmati nuansa alam.

Di tengah pandemi berbagai upaya terus dilakukan agar objek wisata Lembah Asri yang menjadi salah satu jantung kehidupan bagi warga sekitarnya dapat terus berdetak kencang.

Baca juga: Desa Wisata Serang Purbalingga bangun wahana kebun stroberi


Desa Wisata

Kendati bayang-bayang pandemi COVID-19 masih berlangsung hingga saat ini, namun sektor pariwisata di Tanah Air telah mulai kembali bergeliat, termasuk di desa-desa wisata.

Desa wisata merupakan destinasi yang potensial untuk dikunjungi karena biasanya memiliki area yang luas sehingga memudahkan pengunjung untuk menjaga jarak fisik dan menghindari kerumunan.

Belum lagi ada bonus udara yang sejuk dan segar, serta pemandangan alam yang memanjakan yang menjadikan desa wisata sebagai destinasi alternatif yang bakal disukai dan menjadi pilihan baru dalam berwisata.

Kendati demikian, desa-desa wisata masih harus terus melakukan pembenahan dan sekaligus memastikan penerapan protokol kesehatan sesuai dengan standar Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau kebersihan, kesehatan, keselamatan dan lingkungan yang berkelanjutan.

Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Chusmeru mengatakan bahwa dengan menerapkan CHSE maka pengelola objek wisata telah berupaya untuk mewujudkan wisata yang aman dan nyaman.

Kondisi pandemi seperti ini memang menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah daerah dan pengelola objek wisata untuk terus berbenah diri dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, terutama mengatasi kerumunan di objek wisata yang dimilikinya.

Menurut Chusmeru ada tiga hal yang perlu dipersiapkan oleh pemerintah daerah dan pengelola objek wisata, terutama pascavaksinasi ataupun pascapandemi nantinya.
Pertama, desa wisata perlu menggali dan mengembangkan kekayaan budaya yang ada di daerah untuk menjadi daya tarik wisata. Hal ini penting untuk dilakukan, karena masih banyak desa wisata yang hanya mengandalkan pemandangan alam pedesaan saja.

Padahal hakikat desa wisata justru terletak pada kehidupan sosial budaya masyarakatnya yang khas, yang tentu saja akan berbeda dengan daerah lainnya. Karena masing-masing punya ciri khas tersendiri.

Dengan demikian, wisatawan yang datang berkunjung ke desa wisata bukan hanya berjalan-jalan atau bersantai menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat ikut menyaksikan ragam budaya yang ada di daerah yang didatangi.

Pemerintah daerah dalam hal ini tentu sangat berkepentingan untuk menginventarisasi ragam budaya, melakukan pembinaan, serta memberi kesempatan kepada kelompok atau sanggar budaya yang ada di daerahnya untuk menjadi bagian dari paket desa wisata.

Yang kedua, yang juga tidak kalah penting adalah perlu dikembangkannya industri atau ekonomi kreatif di daerah untuk menunjang desa wisata tersebut. Pengembangan ekonomi kreatif di desa akan dapat menciptakan kembali lapangan kerja yang mungkin sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19.

Baca juga: Desa wisata Serang Purbalingga terus intensifkan promosi digital

Ekonomi kreatif dalam pengembangan desa wisata akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Banyak potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan di daerah, seperti kuliner, keramik, seni ukir, busana daerah dan lain sebagainya.

Tentu saja, perlu upaya yang serius untuk mempromosikan desa wisata melalui berbagai media, baik media konvensional maupun lewat media sosial yang saat ini akrab dengan kalangan milenial.

Terutama karena wisatawan pada saat ini didominasi oleh kelompok milenial dan generasi Z, mereka ini biasanya menyukai objek wisata alam dengan ragam budaya dan menyukai kuliner daerah.

Kelompok wisatawan ini perlu dibidik melalui promosi media yang sesuai dengan kebiasaan dan gaya hidup mereka, yaitu internet dan media sosial sebagai sumber informasi berwisata.

Kekinian, yang juga perlu menjadi perhatian dan sangat penting adalah penerapan protokol kesehatan di desa wisata. Hal ini tidak boleh diabaikan karena kendati nantinya pandemi telah berakhir, besar kemungkinan akan terjadi perubahan perilaku dalam berwisata.

Dalam kondisi ini maka penerapan CHSE masih menjadi bagian penting dan jadi pertimbangan utama bagi seseorang dalam melakukan perjalanan wisata. Oleh sebab itu pengelola desa wisata perlu benar-benar siap menjadikan desa wisatanya sebagai destinasi yang aman dan nyaman berbasis CHSE.

Memang, pada saat ini pandemi belum berakhir, akan tetapi, persiapan dan upaya berbenah sudah mulai harus dilakukan secara bertahap agar nantinya sektor pariwisata sebagai salah satu urat nadi perekonomian akan dapat berdenyut makin cepat.

Pariwisata adalah bagian dari kehidupan manusia, karena di antara gelombang pasang surut kehidupan, setiap individu butuh waktu jeda, mendekatkan diri pada alam dan menikmati keindahan semesta.

Kendati sektor ini tengah dihantam oleh pandemi, namun berbagai upaya yang dilakukan, penerapan protokol kesehatan yang ketat serta ditambah program vaksinasi diharapkan akan menjadi kunci kebangkitan pariwisata dan ekonomi.

Karena lagi-lagi, berwisata adalah lekat dengan kebutuhan manusia, saat dunia terasa sesak dengan banyaknya permasalahan hidup, berwisata adalah tempat berlari yang bisa menyembuhkan segala luka meski dalam sunyi.

Baca juga: Menikmati panorama membentang di desa wisata Serang
 

Oleh Wuryanti Puspitasari
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dukung Kemenparekraf, Ivendo dampingi 67 desa wisata

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar