Dua BUMN kerjakan proyek Bulog di NTB senilai Rp173 miliar

Dua BUMN kerjakan proyek Bulog di NTB senilai Rp173 miliar

Sejumlah alat berat sedang melakukan pengerasan lahan di areal pembangunan pabrik pengolahan jagung milik Bulog di Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, NTB. (ANTARA/HO/Bulog)

Progres pelaksanaan pembangunan ketiga proyek sudah mencapai 30 persen saat ini, dan ditargetkan rampung pada Juni-Juli 2021.
Mataram (ANTARA) - Dua badan usaha milik negara (BUMN) mengerjakan proyek pembangunan pabrik pengolahan hasil pertanian di Nusa Tenggara Barat dengan dana yang bersumber dari penyertaan modal negara melalui Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) senilai Rp173 miliar.

Pimpinan Wilayah Bulog NTB Abdul Muis Sayyed Ali di Mataram, Minggu, menyebutkan dua BUMN tersebut yakni PT Boma Bisma Indra yang mengerjakan pabrik pengolahan beras modern di Kabupaten Sumbawa senilai Rp83 miliar, dan pabrik pengolahan beras asalan di Kabupaten Lombok Timur senilai Rp8 miliar.

Selain itu, PT Brantas Abipraya yang melaksanakan pembangunan pabrik pengolahan jagung di Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, senilai Rp82 miliar.

"Progres pelaksanaan pembangunan ketiga proyek sudah mencapai 30 persen saat ini, dan ditargetkan rampung pada Juni-Juli 2021," katanya.

Baca juga: Ini alasan Bulog tidak gabung holding BUMN pangan

Ia mengatakan proses tender pembangunan pabrik pengolahan beras dan jagung tersebut dilakukan di kantor pusat Bulog di Jakarta pada 2020.

Kantor Wilayah Bulog NTB bertindak sebagai pihak pengawas pelaksanaan pembangunan proyek sekaligus sebagai pengguna ketiga pabrik tersebut.

"Proses tender dilakukan di Jakarta, Bulog NTB sebagai user (pengguna) dan supervisor pengawas," ujarnya.

Abdul menjelaskan tujuan pembangunan ketiga pabrik pengolahan hasil pertanian tersebut adalah untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengoptimalkan penyerapan gabah atau beras serta jagung hasil produksi petani di NTB, yang relatif melimpah setiap tahun.

Baca juga: Bangun penggilingan modern, Bulog produksi beras premium terjangkau

Beras yang sudah diolah akan dijual melalui program operasi pasar dalam rangka ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan. Selain itu, sebagian beras olahan akan dikirim ke daerah yang defisit produksi padi serta untuk cadangan pangan daerah ketika terjadi bencana.

"Jagung akan diolah menjadi pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.

Pewarta: Awaludin
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

INDEF berharap ekosistem ultramikro bisa turunkan bunga kredit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar