RS Dharmais : Pandemi persulit akses pengobatan untuk kanker pada anak

RS Dharmais : Pandemi persulit akses pengobatan untuk kanker pada anak

Sejumlah anak pengidap kanker belajar di rumah singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/5/2020). Pengurus yayasan setempat mengatakan wabah virus Corona atau COVID-19 yang berdampak pada perekonomian para donatur mengakibatkan jumlah donasi yang mereka terima dua bulan terakhir mengalami penurunan hingga 70 persen. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/hp.

Kelihatan dari kunjungan pasien yang jadi berkurang drastis
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak yang juga Kepala Staf Medis Fungsional Anak/Kepala Bidang Medis RS Kanker Dharmais dr. Haridini Intan S. Mandi, Sp.A(K) mengakui bahwa pandemi COVID-19 telah menyulitkan akses bagi pasien kanker anak untuk mendapatkan pengobatan.

"Pada saat awal pandemi, itu kan ada PSBB besar-besaran dan di mana-mana orang tidak bisa mencapai tempat rujukannya, ke fasilitas kesehatan yang ada penanganan kanker anak. Itu sulit sekali. Kelihatan dari kunjungan pasien yang jadi berkurang drastis," kata Haridini dalam konferensi pers BNPB untuk memperingati Hari Kanker Anak Internasional, Jakarta, Senin.

Ia mengatakan bahwa sebelum ada pandemi, kesulitan untuk mendapatkan pengobatan untuk kanker pada anak lebih terkait pada pengurusan BPJS Kesehatan. Namun, saat ini pengobatan kanker dengan menggunakan BPJS Kesehatan sudah lebih baik dan lebih mudah.

Kesulitan yang banyak dihadapi masyarakat saat ini lebih disebabkan oleh terbatasnya akses untuk mendatangi fasilitas kesehatan untuk penanganan kanker.

Kesulitan tersebut, kata dia, tentu dapat menghambat proses pengobatan. Kebanyakan pasien kanker anak datang ke fasilitas kesehatan untuk pengobatan sudah pada stadium yang lebih lanjut, sehingga penanganan menjadi lebih berat.

Baca juga: Pola hidup sehat dan vaksinasi cegah kanker pada anak

Baca juga: Kanker darah pada anak cenderung lebih cepat disembuhkan

Padahal, jika penyakit kanker bisa dikenali lebih dini dan diobati lebih cepat, tingkat kesembuhannya bisa mencapai 80 persen.

"Kalau sudah terdiagnosis dan lebih cepat diobati tentu hasil (pengobatannya) lebih baik. Tapi kalau lebih lambat ya otomatis artinya ya 20 persennya, kalau misal (kanker) tumornya sudah besar," katanya.

Situasi semacam itu, kata Hardini, lebih dirasakan pada awal-awal pandemi. Tetapi untuk saat ini, ia mengatakan akses ke fasilitas pengobatan sudah lebih baik meski masih ada pemeriksaan ketat.

Untuk itu, ia mendorong kepada para orang tua yang anaknya menderita kanker untuk terus mendorong anaknya agar menjalankan pengobatan, karena pengobatan penyakit kanker umumnya dilakukan dalam jangka panjang dan tidak boleh terputus.

Dengan terus menjalankan pengobatan, ia berharap anak-anak yang menderita kanker tersebut bisa memperoleh penanganan yang lebih baik dan memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi.

"Jadi kita harus tetap semangat menjalani pengobatan, cepat datang berobat, terus mengikuti pengobatan dan datang lebih awal sehingga hasilnya akan lebih baik, karena kanker itu bisa diobati," demikian katanya.

Baca juga: Orang tua harus pahami gejala kanker pada anak

Baca juga: Dokter: waspadai gejala kanker pada anak

Pewarta: Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komunitas Taufan jadi penjaga harapan anak-anak penyintas kanker

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar