Pasar saham Asia tawarkan sinyal beragam, investor cerna stimulus

Pasar saham Asia tawarkan sinyal beragam, investor cerna stimulus

Dokumentasi - Seorang pria yang mengenakan masker pelindung, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), berdiri di depan sebuah papan elektonik yang menunjukkan indeks Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang pada Kamis (21/1/2021). ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Washington (ANTARA) - Pasar saham Asia menunjukkan pembukaan beragam pada perdagangan Rabu pagi, karena investor mempertimbangkan prospek kebangkitan ekonomi dan stimulus tambahan dengan kekhawatiran pandemi yang berlanjut.

Indeks acuan S&P/ASX 200 Australia naik 0,06 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka Nikkei 225 Jepang naik 0,12 persen dan indeks berjangka Hang Seng Hong Kong turun 0,37 persen.

Pembukaan tentatif muncul setelah penyelesaian beragam di Wall Street. Ekspektasi bahwa pembuat kebijakan AS akan tetap berpegang pada stimulus fiskal dan moneter yang signifikan membantu mendorong saham lebih tinggi dan mendorong aksi jual obligasi. Namun, kekhawatiran atas kenaikan suku bunga membebani beberapa sektor.

"Pasar AS memulai minggu dalam mode optimis setelah ditutup untuk Hari Presiden pada Senin,” tulis analis ANZ dalam catatan risetnya.

"Saat ekspektasi inflasi meningkat, investor mencari cara untuk mengurangi eksposur mereka ke pendapatan tetap demi investasi yang akan naik dengan gelombang inflasi apa pun."

Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi pada Selasa (16/2/2021), naik 0,2 persen. S&P 500 turun 0,06 persen, dan Komposit Nasdaq turun 0,34 persen. Indeks saham global MSCI turun 0,1 persen.

Lonjakan itu terjadi ketika Amerika Serikat terus meningkatkan distribusi vaksin dan Presiden Joe Biden mengajukan RUU bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS.

Kenaikan bitcoin yang terus berlanjut menambah sentimen bullish, setelah mata uang kripto secara singkat menembus 50.000 dolar AS untuk pertama kalinya.

Dolar AS bangkit kembali dari posisi terendah tiga minggu, didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi. Terhadap sekeranjang mata uang rival global, dolar naik 0,21 persen.

Pada Selasa (16/2/2021), imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik di atas 1,3 persen untuk pertama kalinya sejak pandemi terjadi. Kurva imbal hasil yang curam mencerminkan ekspektasi akan stimulus fiskal dan moneter yang sedang berlangsung.

Cuaca beku di seluruh AS Selatan yang menutup sumur dan kilang membantu mendorong harga minyak mendekati level tertinggi 13 bulan pada Selasa (16/2/2021). Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 1,0 persen, dan Brent naik 0,1 persen.

Investor akan mengamati data penjualan ritel AS yang baru pada Rabu untuk tanda-tanda pemulihan, serta risalah yang baru diterbitkan dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari.

Laporan laba minggu ini dari Hilton Worldwide Holdings Inc, Hyatt Hotels Corp dan Marriott International Inc juga akan diteliti untuk mencari tanda-tanda peningkatan dalam permintaan perjalanan global.

Harga spot emas turun 1,2 persen pada Selasa (16/2/2021), dengan emas berjangka AS menetap turun 1,3 persen karena investor menjauh dari aset-aset safe haven.

Baca juga: Saham Asia datar, pasar rem kenaikan aset setelah dahului pemulihan
Baca juga: Pasar Asia bersiap menguat ketika investor ritel menyerbu perak
Baca juga: Pasar Asia mundur dari rekor tertinggi karena aksi ambil untung

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada stimulus bagi investor untuk gairahkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar