Masyarakat adat Malaumkarta di Sorong jaga alam dengan kearifan lokal

Masyarakat adat Malaumkarta di Sorong jaga alam dengan kearifan lokal

Hutan di wilayah Masyarakat Adat Moi Kelim di Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat. (ANTARA/Virna P Setyorini)

Jakarta (ANTARA) - Masyarakat adat di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat, menjaga kelestarian alam dengan menerapkan kearifan lokal dan mendorong penerbitan regulasi untuk mengamankan wilayah mereka.

"Ada udang, lobster, teripang, kami ambil secara tradisional. Kami tidak menggunakan peralatan canggih. Di kawasan kami ada larangan terhadap sistem penangkapan, kami batasi hanya menangkap dengan cara tradisional," kata Ketua Perkumpulan Generasi Muda Malaumkarta Torianus Kalami dalam konferensi pers virtual EcoNusa Outlook 2021 yang disiarkan via daring pada Rabu.

Torianus mengatakan, larangan mengambil hasil laut menggunakan sistem penangkapan yang merusak diketahui oleh seluruh masyarakat adat, mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, berkat pendidikan adat atau kambi bagi Suku Moi.

Masyarakat adat di Malaumkarta juga menetapkan kawasan egeg atau kawasan larangan  mengambil sumber daya tertentu guna menjaga kelestarian lingkungan, yang di beberapa wilayah adat disebut sebagai sasi.

Selain itu, masyarakat adat di Malaumkarta bergerak untuk memastikan pengakuan terhadap hak Suku Moi.

Pemerintah kabupaten sudah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2017 tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat adat Suku Moi di Kabupaten Sorong dan Peraturan Bupati Sorong Nomor 7 tahun 2017 tentang hukum adat dan kearifan lokal dalam pengelolaan dan perlindungan sumber daya laut di Kampung Malaumkarta.

Penerbitan Peraturan Bupati Sorong Nomor 6 Tahun 2020 tentang petunjuk teknis pemetaan tanah adat Suku Moi di Kabupaten Sorong semakin mengukuhkan pengakuan terhadap hak masyarakat adat di Malaumkarta.

Regulasi tersebut, menurut Torianus, mendukung penggunaan kearifan lokal masyarakat adat untuk melindungi wilayah mereka terhadap ancaman dari luar.

"Kenapa kami dorong ini? Karena ada suatu pandangan yang kami lihat bahwa kalau kita melakukan kampanye keselamatan hutan dan laut dengan intervensi dari luar, masyarakat adat akan susah mengikuti," katanya.

"Kami berharap dari kerja kami yang di Malaumkarta itu bisa berdampak ke kampung-kampung yang secara budaya mereka memiliki pengetahuan dan budaya yang sama yaitu egeg," ia menambahkan.

Baca juga:
Masyarakat adat Kawe Raja Ampat perkuat perlindungan sumber daya alam
Masyarakat adat bersihkan sampah di Gunung Rinjani Lombok

 

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar