Pertanian tumbuh positif, BPS catat NTP 2020 hanya naik tipis

Pertanian tumbuh positif, BPS catat NTP 2020 hanya naik tipis

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam webinar yang diselenggarakan INDEF secara virtual, Rabu (17/2/2021). ANTARA/Mentari Dwi Gayati

Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) sepanjang tahun 2020 hanya meningkat sebesar 0,74 persen menjadi 101,65 dibandingkan tahun 2019.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa, baik yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam webinar yang diselenggarakan INDEF secara virtual, Rabu, mengatakan sektor pertanian berhasil tumbuh positif sebesar 1,75 persen selama pandemi COVID-19. Padahal, di saat yang bersamaan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 2,07 persen.

"Meningkatnya output atau produksi dari pertanian, ternyata tidak sendirinya pendapatan dari petani meningkat. Tahun 2020 ini secara umum NTP memang naik dibandingkan 2019, tapi kenaikannya hanya tipis 0,74 persen," kata Kecuk​​​​​​ Suhariyanto.​
Baca juga: BPS: Nilai Tukar Petani Desember 2020 naik 0,37 persen

Bila dirinci menurut subsektornya, papar dia, kenaikan NTP terbesar terjadi di sektor perkebunan. Hal itu dipengaruhi oleh harga minyak kelapa sawit global yang melonjak pada akhir 2020.

Sementara itu, NTP terendah dialami oleh subsektor peternakan karena melemahnya permintaan konsumsi daging selama pandemi, baik dari rumah tangga, maupun restoran dan hotel.

"NTP peternakan di bawah 100 karena melemahnya permintaan dan biaya produksi peternakan yang tinggi. Ketergantungan bahan pakan kita dari impor menjadi tinggi, sehingga sektor peternakan tidak menjanjikan," katanya.
Baca juga: Peneliti: Pandemi COVID-19 semakin turunkan nilai tukar petani

Selain NTP, petani juga mengalami tantangan upah riil yang sangat tipis kenaikannya dari waktu ke waktu, akibat inflasi. Daya beli butuh tani yang sangat rendah menyebabkan pekerjaan buruh tani menjadi tidak menarik, sehingga pekerja yang beralih menjadi buruh bangunan dengan upah riil dan nominal yang lebih tinggi.

Oleh karenanya, Kepala BPS mengutarakan harapannya agar pemerintah terus berupaya menjaga harga beli produk petani, terutama di periode musim panen, agar tidak jatuh. Selain itu, kebijakan pengendalian inflasi juga berpihak pada petani, tidak hanya pada konsumen saja.

Baca juga: BPS sebut kebijakan pengendalian inflasi harus berpihak pada petani
Baca juga: Hari Pahlawan, Mentan apresiasi petani untuk penyediaan pangan

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Malam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar